<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352</id><updated>2011-11-14T09:20:49.291-08:00</updated><category term='Aqidah-Filsafat'/><category term='Tujuh Tahun yang Lalu...'/><category term='Refleksi Ramadan'/><category term='makalah filsafat'/><title type='text'>mooqZ</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8334927335935473470</id><published>2011-06-13T07:52:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T08:05:40.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>KONSEP TAUHID DALAM KETUHANAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Beberapa Istilah Penting dalam Konsep Ketuhanan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa keyword dalam memahami konsep ketuhanan dalam Islam, diantaranya kata Allah, ahad, dan tauhid. Pada bahasan ini akan dikonsentrasikan pada pemerian terhadap makna yang terkandung dalam kata Allah, ahad dan tauhid.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara etimologis kata Allah (الله) diderivasi dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; (إله) yang berarti menyembah (عبد). Kata Allah (الله) juga dapat diderivasi dari kata&lt;span style="font-style:italic;"&gt; alih &lt;/span&gt;(أله) yang berarti ketenangan (سكن), kekhawatiran (فزع) dan rasa cinta yang mendalam (ولع). Ketiga makna kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alih &lt;/span&gt;(أله) mengarah kepada makna keharusan untuk tunduk dan mengagungkan (Ibnu Asyur, vol I, 1884: 162). Hanya saja kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alih&lt;/span&gt; kurang begitu popular untuk menggambarkan zat ketuhanan, kata alih tersebut hanya menggambarkan keadaan sang hamba dalam interaksinya dengan yang disembah. Sedangkan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; memiliki tendensi yang positif untuk dijadikan sebagai derivasi dari kata Allah (الله). Sebab kata Allah dapat berarti penyembahan. Demikian juga bentuk plural dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah &lt;/span&gt;(إله) adalah aalihah  (آلهة) yang berarti berhala yang dijadikan sesembahan. Selain itu menurut Abu Haitsam sesuatu tidak dapat disebut sebagai ilah sampai sesuatu itu disembah atau dijadikan sesembahan (Ibnu Manzhur: 114). Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; (إله) ini selanjutnya mendapatkan tambahan (الـ), karena tuntutan gramatikal bahasa Arab maka huruf hamzah yang ada pada kata&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ilah&lt;/span&gt; (إله) dilebur dan diganti dengan huruf lam yang bertasydid. &lt;br /&gt;Adapun kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; (إله) sendiri berakar dari induk kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه) yang dapat berarti sebagai: (a) sebuah bentuk kesedihan yang mendalam yang dapat menghilangkan akal sehat, (b) rasa bimbang yang disebabkan oleh tebalnya rasa cinta, (c) sebuah bentuk kasih sayang (Mu’jam, 1333). Arti sederhana dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه) adalah rengekan seorang anak kecil kepada ibunya ketika dia butuh sesuatu (Ibnu Manzhur, 115). Namun bagaimana kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; (إله) berevolusi menjadi sebuah kata yang mengekspresikan sebuah entitas ketuhanan? Makna yang dikandung baik itu dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah &lt;/span&gt;(إله) ataupun induk kata tersebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه) setidaknya mampu mengungkapkan sebuah ekspresi seorang hamba kepada tuannya. Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه) mampu mengekspresikan rasa butuh seorang hamba kepada tuannya atas tuntutan kehidupannya, atau pengungkapan kelemahan sang hamba kepada tuannya, sehingga mengharuskan hamba untuk berlindung dalam kebesaran sang tuan. Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه) pada intinya menyiratkan makna kebutuhan yang lemah terhadap perlindungan dari yang kuat, seperti kebutuhan perlindungan dari seorang anak kepada ibunya. Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah &lt;/span&gt;(ولاه) inilah yang menjadi akar kata yang digunakan untuk mengungkapkan ekspresi ketuhanan dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;Kata pertama yang dicatat sejarah dalam pengekspresian ketuhanan adalah kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilahah &lt;/span&gt;(إلاهة). Kata ini merupakan nama bagi dewa matahari yang disembah oleh masyarakat Arab. Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilahah&lt;/span&gt; (إلاهة) selanjutnya digunakan untuk mengekspresikan sifat-sifat matahari. Salah satunya adalah kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ulahah&lt;/span&gt; (الألهة) yang berarti terik matahari yang panas. Kata ilahah (إلاهة) juga tidak lepas dari makna keagungan, ketundukan dan bahkan penyembahan. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Manzhur bahwa masyarakat menamakan matahari dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilahah &lt;/span&gt;(إلاهة) karena mereka menyembah dan mengagungkan matahari (Ibnu Manzhur: 115). Dapat disimpulkan bahwa kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ilah&lt;/span&gt; (إله) dan kata Allah (الله) pada awalnya berasal dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wilah&lt;/span&gt; (ولاه), yang berarti ketundukan, pengagungan, dan ungkapan penghambaan. Selanjutnya dari kata wilah (ولاه) diderivasikanlah kata&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ilaha&lt;/span&gt;h (إلاهة) yang menjadi nama bagi dewa matahari. Nama dari dewa matahari tersebut selanjutnya berevolusi menjadi kata Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam terminologi Islam, kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling agung yang menunjukkan kepada kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kata Allah merupakan ekspresi ketuhanan yang paling tinggi dalam Islam, selain bermakna kemuliaan dan keagungan, kata tersebut juga mensyaratkan bahwa kata Allah mewajibkan seluruh bentuk kemuliaan dan menegasikan segala bentuk kekurangan (Ridho, 1947: 46). Hal serupa juga disampaikan oleh Ibnu Asyur ketika memberikan defenisi terhadap kata Allah. Ibnu Asyur berkata, bahwa kata Allah adalah nama bagi zat yang wajib wujud yang berhak untuk mendapatkan segala bentuk pujian (Ibnu Asyur, 1884: 162).&lt;br /&gt;Kata penting selanjutnya dalam konsep ketuhanan Islam adalah kata ahad dan tauhid. Kata ahad memiliki peran yang sangat penting dalam mengekspresikan keesaan Tuhan yang mutlak. Kata ahad berfungsi untuk menggambarkan sebuah bentuk ketunggalan atau keesaan yang senantiasa kekal dalam ketunggalannya dan tak ada sesuatu pun yang berkongsi dalam ketunggalan dan keesaannya itu, bahkan kata ahad merupakan sebuah bentuk kata numerik yang menafikan pluralitas (Ibnu Manzhur: 35). Dari kata ahad selanjutnya melahirkan istilah tauhid  yang menjadi ciri dan karakteristik dasar dalam konsep ketuhanan Islam. Tauhid bermakna sebagai -sebuah konsep ketuhanan- yang menghilangkan segala bentuk gambaran yang ada dalam pemahaman, khayalan ataupun fantasi terhadap pandangan tentang ketuhanan ataupun yang berkaitan dengan zat Tuhan (Jurjani, 2002: 73). Selain tauhid, ada istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan konsep ketuhanan Islam, yaitu monotheisme. Dalam kamus Oxford, kata monotheism berarti, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the belief that there is only one God&lt;/span&gt;” (Hornby, 1995: 753).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8334927335935473470?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8334927335935473470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/konsep-tauhid-dalam-ketuhanan-islam_13.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8334927335935473470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8334927335935473470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/konsep-tauhid-dalam-ketuhanan-islam_13.html' title='KONSEP TAUHID DALAM KETUHANAN ISLAM'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8322857409989813009</id><published>2011-06-13T07:50:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T08:05:40.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>B. Tauhid dalam Konsep Ketuhanan Islam</title><content type='html'>Pada bagian di atas telah dipaparkan makna dari kata kunci dalam memahami konsep ketuhanan Islam, kata tersebut adalah kata Allah, ahad dan tauhid. Untuk memahami konsep ketuhanan dalam Islam, maka metode yang paling membantu adalah dengan menyimak tafsiran para ilmuwan Islam ketika mereka berinteraksi dengan kata-kata ini. Basis dari segala pandangan teologis para ilmuwan Islam, berporos dari cara mereka menafsirkan dan menginterpretasikan kata Allah dan kata ahad.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya telah dijelaskan bahwa kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling agung yang menunjukkan kepada kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kata Allah merupakan ekspresi ketuhanan yang paling tinggi dalam Islam, selain bermakna kemuliaan dan keagungan, kata tersebut juga mensyaratkan bahwa kata Allah mewajibkan seluruh bentuk kemuliaan dan menegasikan segala bentuk kekurangan, kata Allah juga merupakan nama bagi zat yang wajib wujud yang berhak untuk mendapatkan segala bentuk pujian. Sedangkan kata ahad merupakan sifat bagi ketunggulan yang senantiasa abadi dalam keesaannya.&lt;br /&gt;Dalam tafsirnya, Razi berpendapat, bahwa kedua kata tersebut ketika digabungkan maka akan melahirkan dua bentuk makna yang simetris satu sama lain. Kata Allah melahirkan makna positif, yaitu penetapan sifat kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran kepada zat Tuhan. Dengan menggunakan kata Allah, berarti mengisyaratkan bahwa zat Tuhan merupakan zat yang paling agung, paling sempurna dan paling berkuasa. Namun keagungan, kesempurnaan dan kebesarannya belum mampu memberikan makna yang signifikan jika, dalam benak manusia belum jelas, apakah keagungan, kesempurnaan dan kebesaran itu hanya dimilikiNya sendiri, atau ada zat lain yang berkongsi denganNya dalam kepemilikan terhadaps sifat-sifat tersebut. Dengan menambahkan kata ahad, maka segala kemungkinan tersebut ditepis, dan bahkan sifat ini justru semakin menambah kesempurnaan dan kemuliaan Tuhan. Dia sendiri dalam keagungan yang tak butuh kepada apa pun. Dia tunggal dalam kesempurnaan dan tak bergantung terhadap apapun. Dia esa dalam kebesaranNya yang tak satupun mampu menandingiNya. Sehingga kesempurnaan, kemuliaan dan kebesaranNya merupakan sesuatu yang mutlak. &lt;br /&gt;Dengan adanya sifat Ahad ini, akan menambah kemutlakan terhadap otoritas Tuhan. Dia adalah satu-satunya yang berhak mendapatkan atribut ketuhanan di semesta raya ini. eksistensi yang hakiki hanya dimiliki oleh Tuhan, sedangkan keberadaan sesuatu yang lain hanyalah merupakan pancaran dari keberadaan Tuhan. Segala sesuatu membutuhkan Tuhan untuk eksistensinya, namun Tuhan tak membutuhkan apa-apa dalam mewujudkan eksistensinya (Razy, vol XXXII, 1981: 180).&lt;br /&gt;Jika ditelisik secara filosofis makna kalimat (الله أحد), sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Sina, bahwa Allah Ahad, bermakna bahwa Tuhan esa dalam segala aspek, dan tak pernah sekalipun mengandung pluralitas. Baik itu pluralitas maknawi, sebagai mana yang ada dalam genus dan karakter, ataupun pluralitas yang real, sebagai mana yang nampak dalam dunia materi. Keesaan ini juga menegasikan dan mensucikan Tuhan dari hal-hal yang mengindikasikan bahwa Tuhan memiliki bentuk, kualitas, kuantitas, warna dan segala jenis gambaran akal yang mampu merusak kebersahajaan Yang Satu. Demikian juga, Ahad mengindikasikan bahwa tak ada sesuatupun yang menyamai-Nya (Ibnu Asyur, vol XXX, 1884: 614). Seluruh keyakinan dan kepercayaan ini merupakan landasan yang paling fundamental dalam pembentukan dan konstruksi akidah tauhid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Bahkan seluruh ajaran risalah kenabian berporos pada konsep tauhid ini.&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa dalam konsep ketuhanan Islam, Tuhan merupakan Zat yang Tunggal dalam wujud, kesempurnaan, kemuliaan dan keagungan. Keesaan Tuhan merupakan syarat yang absolut dalam konsep ketuhanan Islam. Otoritas ontologis tertinggi terletak pada Zat Tuhan. Sehingga tak ada sesuatu pun yang mampu menyamai atau bahkan berkongsi dengan Tuhan dalam kepelimikan atribut-atribut ketuhanan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8322857409989813009?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8322857409989813009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/b-tauhid-dalam-konsep-ketuhanan-islam_13.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8322857409989813009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8322857409989813009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/b-tauhid-dalam-konsep-ketuhanan-islam_13.html' title='B. Tauhid dalam Konsep Ketuhanan Islam'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4557280994928013147</id><published>2011-06-13T07:44:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T08:05:40.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>C. Jejak Historis Konsep Tauhid pada Masyarakat Arab</title><content type='html'>Jika dilacak secara historis, dengan sangat jelas terlihat bahwa Islam bukanlah sebagai pioner yang melahirkan konsep tauhid seperti yang ada sekarang. Akan tetapi, konsep tauhid telah ada dan berkembang pada masyarakat Arab jauh sebelum Nabi Muhammad mengumumkan dakwah kenabiannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat Arab dikenal sebuah agama yang bernama “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hanafiyah&lt;/span&gt;”. Secara etimologis kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hanif&lt;/span&gt; (حنيف) memiliki nuansa makna asketis, yaitu melakukan meditasi dengan tujuan beribadah dan kontemplasi. Sedangkan dalam pengertian terminologis kata hanif ditujukan kepada golongan yang berkhitan, melakukan ibadah haji di Mekah. Tabary menambahkan bahwa salah satu syarat untuk utama dalam penggolongan seseorang kepada agama Hanafiyah adalah berpegang teguh kepada agama Ibrahim dan para pengikutnya, meninggalkan penyembahan terhadap berhala, dan mandi suci jika dalam keadaan junub (Shabbag, 1998: 31).&lt;br /&gt;Jika ditelisik lebih jauh lagi, maka akan didapati, bahwa agama Hanafiyah berakar dari gerakan keagamaan yang marak di Semenanjung Arab yang terjadi sejak millenium keempat sebelum Masehi. Gerakan tersebut adalah merupakan sebuah revolusi keagamaan yang dipelopori oleh para agama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iliyah &lt;/span&gt;kuno.  Gerakan tersebut dimulai di Ugarit, sebuah daerah yang ada di Suriah, yang dipelopori oleh para pengikut Iil yang menghendaki sebuah kepercayaan keagamaan yang bercorak monotheistik yang menghilangkan kekuasaan para penghubung antara manusia dengan Tuhan. Kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iil&lt;/span&gt; (إيل) sendiri merupakan bahasa Ibrani atau Syiria yang diarabkan yang merupakan salah satu nama Allah. Sebagaimana yang terlihat dari nama para malaikat Islam, misalnya Jibril (جبرائيل), Mikail (ميكائيل), Israfil (إسرفيل) dan seterusnya (Ibnu Manzhur: 191).&lt;br /&gt;Lebih lanjut, George Kan’any memberikan penjelasan yang lebih mendetail berdasarkan peneletiannya terhadap manuskrip ataupun artifak yang mengandung kata Iil ini Aram. Dia berpendapat bahwa kata ini memiliki perkembangan secara gramatikal sejak milenium pertama sebelum masehi. Perkembangan tersebut dapat dibagi menjadi dua, yang pertama dari bentuk kata tersebut dan yang kedua dari segi makna yang dihadirkan dari kata tersebut. Dari segi bentuknya, kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iil&lt;/span&gt; mempunyai banyak perkembangan yaitu (ا ل ه), (ا ل ها), (ا ل هه), (ا ل هم), dan (ا ل ه ي ا).  Sedangkan dari segi makna kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iil&lt;/span&gt; dalam bahasa Arab kuno berkembang menjadi kata Allah (الله) (Shabbag, 1998: 26).&lt;br /&gt;Para pemeluk agama Hanafiyah menyandarkan ajaran mereka kepada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim mempunyai sejarah tersendiri dan peran penting dalam perkembangan ajaran Hanafiyyah. Dalam sumber sejarah telah disebutkan adanya pertikaian dan perselisihan yang terjadi antara pengikut Iil yang menganut ajaran monotheisme dengan para penyembah Sin, dewa bulan kaum pagan. Perselisihan diantara kedua pengikut ini begitu tajam, namun akhirnya pertikaian tersebut dimenangkan oleh kaum pagan yang kali ini yaitu para pengikut Sin. Hal inilah yang menyebabkan ketidakteraturan situasi sosial yang ada di Iraq waktu itu. Krisis keamanan yang melanda wilayah Iraq, dan juga penguasaan kaum pagan di kota Iraq, memaksa para pengikut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iil&lt;/span&gt; meninggalkan kota Iraq dan menuju Kan’an.&lt;br /&gt;Peristiwa eksodus tersebut dipimpin oleh seorang raja yang juga sekaligus sebagai pengikut Iil. Raja tersebut bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yatsi’ Iil&lt;/span&gt; (ياثع إيل), yang berarti “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuhannya satu dan sekaligus sahabatnya&lt;/span&gt;”, atau nama lain dari Nabi Ibrahim. Makna ini tidak berbeda dari gambaran yg diberikan Alquran, terhadap relasi antara Ibrahim dan Tuhannya, yang diekspresikan sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khalilullah&lt;/span&gt;, kekasih Allah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepercayaan monotheisme dari agama Hanafiyah berasal dari konsep ketuhanan kaum Aram, yang dibawa oleh Nabi Ibrahim ke Semenanjung Arab (Shabbag, 1998: 23-26).&lt;br /&gt;Ketika menjelang kedatangan risalah Islam, konsep ketuhanan dan ritual yang diajarkan oleh agama Hanafiyah cukup berkembang di Semenanjung Arab, khususnya di Mekah. Beberapa pengikut Hanafiyah yang sempat terekam dalam sejarah misalnya, Qiss bin Sa’idah, Zaid bin Amr, Umayyah Abi Shalt, Arbab bin Riab, Suwaid bin Amir, As’ad Abu Karb, Waki’ bin Zahir, Umar bin Jundub, Waraqah bin Naufal, Musailamah dan beberapa nama lainnya. Para pengikut Hanafiyah ini membentuk gerakan yang terorganisir untuk menyebarkan ajaran monotheisme dari kebudayaan Aram.&lt;br /&gt;Namun sayangnya gerakan mereka tidak ada yang berhasil, kecuali gerakan yang dipimpin oleh Musailamah. Musailamah mampu terus berkiprah dalam dunia Arab sampai wafatnya Nabi Muhammad, bahkan dalam riwayat disebutkan, Musailamah mampu membentuk masyarakat tandingan untuk Islam. Musailamah mampu mengadopsi ritual keagamaan dari kaum Hanafiyah, dan mengaktualisasikan kembali kitab suci kaum Hanafiyah,  yaitu Shuhuf Ibrahim (Shabbag, 1998: 42-44). Selain Musailamah, tokoh yang sempat bersinggungan dengan Nabi adalah Waraqah bin Naufal, hal ini sudah sangat masyhur dalam sejarah awal Islam. Kesimpulan yang diingin dicapai dari pemaparan historis ini adalah untuk melacak jejak historis dari konsep monotheisme Islam dan memberikan gambaran terhadap karakteristik yang akan dihasilkan dalam peradaban Islam selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4557280994928013147?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4557280994928013147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/c-jejak-historis-konsep-tauhid-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4557280994928013147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4557280994928013147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/c-jejak-historis-konsep-tauhid-pada.html' title='C. Jejak Historis Konsep Tauhid pada Masyarakat Arab'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-9060575246444962102</id><published>2011-06-13T07:32:00.001-07:00</published><updated>2011-06-13T08:02:59.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>PENGARUH TAUHID DALAM PERADABAN ISLAM</title><content type='html'>Pada bahasan sebelumnya telah dibicarakan seperti apa konsep ketuhanan Islam yang tertuang dalam ajaran tauhid. Kini tiba saatnya untuk melihat seperti apa konsep ketuhanan tersebut memberikan warna terhadap peradaban Islam. Dalam konsep ketuhanan Islam, Allah merupakan otoritas tunggal yang memiliki kekuasaan yang mutlak terhadap alam raya ini. Sehingga segala sesuatu harus tunduk dan patuh di bawah otoritas ketuhanan. Namun sayangnya jika konsep ini dipahami secara serampangan dan membabi buta, yang terjadi bukan lagi sebuah teologi pembebasan, teologi yang membebaskan manusia dari cengkraman para dewa-dewa yang rakus terhadap sesaji manusia, atau pun teologi melepaskan belenggu manusia dari berbagai tindakan manipulasi yang dilakukan oleh golongan yang mengklaim sebagai perantara Tuhan. Sebaliknya, yang terjadi justru konsep ketuhanan yang bersifat teosentris yang begitu ekstrem yang membelenggu kreatifitas manusia, yang memenjarakan manusia dalam dogma-dogma buta agama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, gerakan revolusi yang digagas oleh nabi Ibrahim dan tentunya nabi Muhammad, berusaha melepaskan tirani paganisme yang memenjarakan kreatifitas kemanusiaan. Konsep tauhid hadir untuk merestrukturisasi kembali hubungan manusia dengan Tuhan mereka. Semua manusia adalah sederajat dihadapan Tuhan dan tauhid berusaha menyatukan mereka dalam nilai kemanusiaan dan penghambaan kepada Tuhan. Tauhid merupakan upaya pengejawantahan nilai-nilai luhur dalam kemanusiaan dan ketuhanan. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, konsep tauhid justru menjadi konsep monotheisme yang ekstrem yang terlihat seperti penjara bagi kreatifitas kemanusiaan, menjadi alat legitimasi politik dan bahkan menjadi teror bagi progresivitas. Meskipun dampak negatif dari konsep tak dapat diabaikan begitu saja, namun dampak positif dari konsep tauhid dapat menjadi penyeimbang dan penyelaras dari pengaruh konsep tauhid ini. Sehingga dampak negatif tersebut dapat dibenahi dengan mereview kembali nilai murni dari konsep tauhid ini.&lt;br /&gt;Klasifikasi yang kami paparkan di sini secara umum dapat dibagi tiga, yaitu pada identitas, ilmu pengetahuan, dan budaya. Berikut pengaruh konsep tauhid pada beberapa lini kehidupan umat Islam:&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-9060575246444962102?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/9060575246444962102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/pengaruh-tauhid-dalam-peradaban-islam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/9060575246444962102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/9060575246444962102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/pengaruh-tauhid-dalam-peradaban-islam.html' title='PENGARUH TAUHID DALAM PERADABAN ISLAM'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8050248790660276117</id><published>2011-06-13T07:26:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T08:03:24.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>A. Tahid dan Pembentukan Identitas Umat Islam</title><content type='html'>Akidah tauhid telah mengajarkan kepada umat Islam, bahwa pusat ontologi tertinggi adalah Tuhan. Keagungan, kemuliaan dan kebesaran adalah merupakan representasi dari wujud Tuhan yang Mutlak. Keagungan, kemuliaan dan kebesaran yang paling tertinggi hanyalah dimiliki oleh Tuhan. Di tangan Tuhan pulalah sumber segala keagungan dan kemuliaan, Dialah satu-satunya berhak memuliakan dan menghinakan siapa yang dikehendakinya (Ridho, vol III, 1947: 270). Ketika seorang muslim bersama dengan Tuhannya, maka keagungan dan kemuliaan ada dalam genggaman mereka, namun jika mereka menjauh dari Tuhannya maka kehinaan akan meliputi kehidupan mereka. Dengan menyandarkan diri kepada Tuhan berarti meletakkan harga diri dalam sebuah kemuliaan dan keagungan yang tanpa batas, dan sebaliknya jika dengan mejauh atau menyandarkan ego pada nafsu manusia maka orang telah melilitkan kehinaan di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, konsep tauhid mengajarkan bahwa eksistensi tertinggi manusia akan tercapai ketika manusia mampu melebur kesombongan egoismenya dalam keagungan dan kemuliaan Tuhan. Namun perlu ditekankan bahwa peleburan yang dimaksud disini bukanlah peleburan yang bersifat panteistik, akan tetapi yang peleburan yang dimaksud di sini adalah peleburan egoisme dan nafsu dan menempatkan ruh kemuliaan dan keagungan Tuhan dalam dirinya (Iqbal, 2007: 105-106). Sehingga identitas manusia yang tertinggi adalah ketika dia mampu mengejawantahkan sifat Tuhan yang Agung dalam kehidupannya. Sikap penyerahan diri dengan segala bentuk atributnya selanjutnya akan menjadi ciri dan karakter khas yang dimiliki oleh seorang muslim. Sebuah identitas yang menyandarkan kemuliaan dan keagungannya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Dampak positif dari konsep identitas yang diajarkan oleh ajaran tauhid adalah mampu menumbuhkan kepercayaan diri kepada setiap muslim. Kepercayaan diri ini sangat penting untuk membangun peradaban yang masih baru tumbuh. Apalagi Islam waktu itu hadir ketika beberapa persaingan peradaban betul-betul alot. Di satu pihak, imperium Bizantium berperang dengan Persia dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Di pihak lain, para penduduk daerah taklukan Islam yang masih menganut agama dan kepercayaan lamanya, berusaha untuk merebut kembali kebebasan mereka yang terenggut. Keadaan ini menuntut agar Islam memiliki identitas tersendiri untuk dapat hidup dan berjuang dalam kancah perebutan hegemoni tersebut. Konsep identitas yang diajarkan oleh tauhid mampu menjawab tantangan ini. Konsep identitas ini mampu menumbuhkan sikap percaya diri untuk hidup dan bertahan ditengah serangan ideologi yang ada.&lt;br /&gt;Dengan berpegang teguh pada akidah tauhid kepercayaan diri yang terbangun dari kemuliaan Tuhan yang Absolut akhirnya membentuk individu yang kreatif dan inovatif. Ajaran tauhid yang mengajarkan bahwa kebenaran tertinggi ada pada Tuhan dan otoritas Tuhan absolut di segala lini kehidupan, menghendaki bahwa umat Islam harus berbangga dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, yaitu Alquran dan hadis. Kepercayaan diri yang tinggi dan kebanggaan besar terhadap Alquran dan Hadis mampu mempertahankan eksistensi mereka dalam kancah peradaban dunia. Kebanggan itu juga melahirkan semangat kreatif dan produktif untuk melahirkan karya yang mampu memberikan kontribusi penting terhadap peradaban Islam. Semangat kreatif tersebut mendorong mereka untuk mengeksplorasi lebih jauh sumber kebenaran yang mereka yakini yaitu Alquran dan Hadis. Sebab Alquran dan Hadis merupakan anugerah terbesar Tuhan kepada manusia. Slogan yang ada pada waktu adalah “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nahnu qaumun a’azzanallahu bil Islam, inibtagahaina ghairahu adzallanallah&lt;/span&gt;”, kami adalah umat yang dimuliakan dengan dan karena Islam, jika kami mencari agama selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami.&lt;br /&gt;Semangat kreatif tersebut selanjutkan melahirkan produk budaya yang brilian dan patut untuk mendapat apresiasi yang tinggi atas karya mereka. Hal tersebut dapat terlihat bagaimana Islam mampu melakukan inovasi pada segala ranah kebudayaan. Pada bidang pemerintahan, Islam akhirnya mampu mengembangkan konsep khilafah. Terlepas dari sisi kelam sistem khilafah tersebut, namun konsep pemerintahan Islam ini memiliki ciri yang tidak dimiliki oleh konsep pemerintahan dunia waktu itu. Dalam konsep khilafah mengindikasikan adanya upaya untuk menyatukan suku Arab di bawah satu pucuk kepemimpinan. Pada awalnya khilafah merupakan sebuah konsep yang positif dalam upaya membentuk sebuah imperium yang kokoh di bawah kepemimpinan yang satu dan mengayomi kelanggengan konsep tauhid dalam kehidupan umat manusia. Konsep khilafah juga mengajarkan bahwa perbedaan ras, suku, agama dan atribut lainnya dilebur dalam sebuah konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wahdatul ummah&lt;/span&gt;, ummat yang satu (Fayyoumy, 1998: 12).&lt;br /&gt;Di bidang keilmuan misalnya, dengan berdasar pada identitas yang berlandaskan asas tauhid, kreatifitas mereka juga mampu memproduksi ilmu-ilmu baru yang sebelumnya terpendam dalam Alquran dan Hadis. Ketika mereka berusaha memahami dan berinteraksi dengan Alquran, maka lahirlah ilmu tafsir, bahkan sebagian ulama menganggap bahwa ilmu tafsir merupakan salah satu ilmu yang mulia, sebab ilmu ini berinteraksi dengan kitab suci, dan berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya (Dzahaby: 11). Tak berlebihan jika dikatakan bahwa tafsir merupakan sebuah pendekatan baru untuk memahami kitab suci. Sedangkan dari interaksi umat Islam dengan Hadis Nabi, melahirkan sebuah cara pendekatan baru dalam mencari dan menerima sebuah berita yang benar. Orang yang mengaku telah mendengar sebuah berita atau pengajaran dari Nabi, maka dia harus membuktikan kebenaran klaim tersebut. Pembuktian tersebut dapat dilakukan dengan menganalisa prilaku sehari-harinya atau dengan menggali informasi orang yang mengklaim orang tersebut dengan cara kritis. Ilmu ini dalam Islam dikenal sebagai ilmu&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Jarh wa Ta’dil&lt;/span&gt;. Selain ilmu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jarh wa Ta’dil&lt;/span&gt; lahir pula ilmu baru yaitu ilmu ushul hadits yang menjelaskan bagaimana menerima dan meneliti sebuah hadis Nabi dengan melakukan pendekatan kritis terhadap para periwayat hadis tersebut.&lt;br /&gt;Ketiga contoh di atas mungkin cukup untuk menggambarkan seperti apa identitas umat Islam yang berlandaskan konsep tauhid. Walaupun karakter identitas tersebut mengarah kepada bentuk eksklusivisme, namun eksklusivisme tersebut mampu menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan memicu kreatifitas mereka. Perlu diakui juga, bahwa pada masa itu memang menuntut sikap ekslusif dari umat Islam, apalagi usia peradaban Islam yang masih muda. Namun ketika usia peradaban Islam yang telah tua dan telah matang apakah itu berarti umat Islam sudah tidak perlu lagi memperlihatkan atribut keislamannya? Selama kebanggaan itu mampu mengarah kepada hal yang positif, kebanggaan itu perlu dan bahkan harus dimiliki oleh tiap-tiap muslim.&lt;br /&gt;Sayangnya kebanggaan tersebut juga berbuah negatif. Seiring berlalunya waktu umat Islam masih terus bergelut dan terlena akan konsep identitas mereka. Sehingga mereka seolah tak mau membuka diri kepada dunia luar, dan terus berbangga dengan apa yang ada pada mereka. Kebenaran seolah telah disegel untuk mereka saja, sehingga ketika ada kebenaran yang ditemukan di luar kalangan mereka, mereka cepat-cepat mengatakan bahwa itu hanya ulangan atau kebenaran itu telah disampaikan sebelumnya baik oleh Alquran maupun hadis. Contoh yang paling konkrit terlihat bagaimana ilmu-ilmu keagamaan, baik itu tafsir, hadis, fiqh dan tasawwuf begitu mendominasi dalam dunia Islam sampai sekarang ini. Padahal apa yang dikaji dalam ilmu tersebut hanyalah merupakan ulangan dari bahasan para ulama terdahulu. Kajian mereka hanya sebatas memanaskan kembali sup yang telah dingin, mereka tidak mampu mengembangkan metode yang lebih kritis atau mengembangkan ilmu tersebut kearah yang lebih inovatif. Tak heran ketika kita melihat bahwa salah satu problematika yang dihadapi oleh umat Islam sekarang ini adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan turats yang merepresentasikan produk budaya dan sekaligus cerminan identitas umat Islam. Lebih ironis lagi ketika mereka berpuas diri dengan apa yang dihasilkan oleh para ulama yang terdahulu tanpa mau mengambil pelajaran dari umat dan bangsa lain. Melihat urgensi masalah ini, maka pada poin selanjutnya akan dibahas permasalahan tauhid dan ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8050248790660276117?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8050248790660276117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/tahid-dan-pembentukan-identitas-umat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8050248790660276117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8050248790660276117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/tahid-dan-pembentukan-identitas-umat.html' title='A. Tahid dan Pembentukan Identitas Umat Islam'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4160286287799798115</id><published>2011-06-13T07:19:00.000-07:00</published><updated>2011-06-13T08:16:45.704-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah filsafat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>B. Tauhid dan Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>Pada pembahasan di atas telah disinggung relasi antara tauhid dan identitas, bagaimana ajaran dan nilai tauhid dituangkan dalam konsep identitas. Konsep identitas yang berdasar pada ajaran tauhid menanamkan dalam sanubari seorang muslim rasa cukup terhadap apa yang mereka miliki, bangga atas karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, dan rasa percaya diri untuk berunjuk gigi dalam kancah peradaban dunia. Salah satu wujud konkrit dari pengejawantahan konsep identitas tersebut adalah dalam bidang ilmu pengetahuan, sebagai mana yang telah dipaparkan di atas&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas problematika ilmu pengetahuan dalam Islam, hendaknya dijelaskan karakter dasar bagi epistemologi Islam.&lt;br /&gt;Dalam Alquran dijelaskan:&lt;br /&gt;{قل لو كان البحر مدادا لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات ربي ولو جئنا بمثله مدادا }&lt;br /&gt;Artinya: Jikalau sekiranya air laut dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan ilmu Tuhanku maka akan habis air laut itu sebelum habis ilmu Tuhanku, dan tak akan habis ilmu Tuhanku walaupun didatangkan air laut yang sama. (QS: 18: 109).&lt;br /&gt;Razy mengemontari ayat ini bahwa, jika anda ingin mengetahui seberapa luas dan dalam ilmu Tuhan, maka jadikanlah lautan sebagai tintamu untuk menuliskan ilmunya, sampai tinta itu habis dan kering ilmu Tuhan belum habis sebab bagaimanapun lautan luasnya tak akan pernah mampu menuliskan ilmu Tuhan yang tak terbatas (Razy, vol XVI: 177). Sebenarnya telah jelas bahwa di tangan Tuhanlah terletak otoritas epistemologi tertinggi. Ilmu Tuhan adalah representasi sebuah kebenaran yang hakiki. Menakar ilmu Tuhan sama halnya menuliskan sesuatu yang tak akan dan tak mungkin habis. Seolah ayat di atas memperlihatkan kepada manusia betapa kerdilnya mereka di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan bahwa manusia tidak mampu mengais secuil ilmu Tuhan. Justru ayat di atas memperlihatkan dan menggambarkan sikap yang sewajarnya dimiliki oleh seorang muslim. Seorang muslim sewajarnya tak letih untuk terus menuliskan dan menggali ilmu Tuhan. Sebab Tuhan telah menjamin bahwa ilmuNya tak akan pernah habis, sekuat dan segigih apapun manusia mengeksplorasinya. Konsep epistemologi ini secara substansial hampir identik dengan konsep identitas yang menghendaki tuntutan mengeksplorasi karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada mereka. Dampak positif dari ajaran ini sebagian telah disinggung pada permasalahan identitas di atas. Selanjutnya kami akan menambahkan penjelasan tersebut, namun pada bahasan ini akan kami tekankan metode yang digunakan oleh ulama terdahulu dalam mengeksplorasi pengetahuan yang ada, khususnya pengetahuan yang bersumber dari luar Islam.&lt;br /&gt;Ulama Islam terdahulu mempunyai sikap tersendiri ketika berinteraksi dengan ilmu-ilmu yang berasal dari luar Islam. Walaupun tidak semuanya sepakat untuk menerima ilmu yang masuk ke lingkungan Islam, tetapi ulama yang mampu berinteraksi dengan peradaban lain dan mengeksplorasi khazanah ilmiah yang ada pada peradaban lain tersebut, tidak serta-merta meruntuhkan identitas dan konsep dasar epistemologi ulama Islam. Justru mereka mampu memanipulasi khazanah ilmiah tersebut dan menggunakannya sebagai pisau analisa baru dalam menggali dan mengais hikmah yang ada pada teks keagamaan. Hassan Hanafi menyebut metode mereka dengan; La Pseoudo Morphologie, التشكل الكاذب, konformasi atau penyesuaian palsu. Konformasi palsu yang dimaksud adalah menggunakan bentuk, alat atau bahasa yang ada pada peradaban lain untuk mengungkapkan realitas yang tak disebutkan dalam syariat. Konformasi palsu tersebut sangat banyak terlihat dalam kajian filsafat dan ilmu manthiq. Dalam filsafat misalnya, karena terjadi gerakan penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya pemikir dari peradaban sebelum Islam, baik dari Yunani, Helenistik dan Assyirian, memaksa para ulama Islam untuk beradaptasi dengan tuntutan zamannya. Kata (الله) misalnya, dalam kajian-kajian filsafat berubah menjadi (واجب الوجود), (العلة الأولي) atau (المحرك الأول). Namun kata tersebut tak kehilangan identitas ataupun essensi keislamannya (Hanafi, 1983: 61). Demikian juga yang terjadi dalam ilmu manthiq, silogisme logis yang diprakarsai Aristoteles, direproduksi lagi oleh para ulama ushul fiqh dengan metode yang dikenal sebagai qiyas. Meskipun ilmu tersebut dari luar Islam, namun mereka menerimanya dengan kritis sebelum mereka memasukkannya dalam khazanah Islam. Walaupun mereka harus bersinggungan dengan peradaban lain, namun itu tak berarti menghilangkan identitas mereka sebagai umat Islam. Dengan kata lain, epistemologi tauhid membimbing mereka untuk membuka demi mengeksplorasi kalimat Tuhan yang tak akan habis.&lt;br /&gt;Di sekitar abad ke lima belas, ketika Barat telah mulai bangkit dari tidur panjang mereka, dan yang terjadi di dunia Islam justru sebaliknya. Semangat untuk membuka diri itu, tiba hilang entah kemana. Epistemologi tauhid berubah menjadi sebuah epistemologi ekslusif yang tak mau membuka diri kepada peradaban lain, elastisitasnya tiba-tiba lenyap, dan semangat beradaptasi dan mengeksplorasi ilmu-ilmu lain selain yang ada dalam Islam menjadi tak diindahkan lagi. Umat Islam kehilangan semangat itu. Semangat yang diperlihatkan oleh ulama terdahulu, ketika mereka melihat sebuah ilmu baru yang akan berkembang, mereka mempelajari, menganalisanya dan yang lebih penting lagi mereka menggunakan ilmu tersebut sebagai pisau bedah untuk menjawab tantangan realitas mereka (Hanafi, 1983: 65). Sehingga mereka tak pernah ditinggalkan oleh peradaban, dan tentunya mereka terus mengikuti arus peradaban mengalir. Tiba-tiba semangat itu hilang. &lt;br /&gt;Salah satu penyebabnya adalah ketika identitas tauhid berubah dan kebanggaan sudah tidak disandarkan lagi kepada Tuhan. Akan tetapi kebanggaan tersebut justru disandarkan kepada pencapaian masa lalu. Apa yang telah dicapai oleh ulama yang jelas-jelas sebagai usaha mereka untuk menjawab tantangan realitas yang ada di zaman ulama tersebut, justru digunakan sebagai pisau analisa untuk menganalisis realitas yang telah berbeda. Ironisnya, bukan pisau mereka yang dapatkan akan tetapi besi yang telah berkarat untuk memecahkan batu besar yang ada di hadapan mereka.&lt;br /&gt;Problematika ini semakin akut ketika epistemologi tauhid berubah menjadi sebuah sikap ekslusif yang ekstrem. Ketika mereka mengklaim bahwa kebenaran hanya ada dalam sebuah teks dan apa yang diriwayatkan dari ulama terdahulu. Mereka menutup diri dari apa yang dihasilkan oleh para ilmuwan yang bukan dari kalangan mereka, bahkan mereka mengklaim bahwa itu adalah produk orang kafir. Mereka cukup dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang saleh yang terdahulu. Sehingga yang terjadi, elestitisitas Alquran yang shalih likulli makan wa zaman, yang cocok untuk setiap zaman dan tempat, seolah tak terdengar lagi. Justru elestisitas itu dibuat kaku oleh keangkuhan mereka untuk memaksakan pendapat para ulama dahulu untuk menjawab realitas kontemporer. Permasalahan bayi tabung, mencangkok organ dan bunga bank justru harus dan wajib dicari jawabannya pada buku fiqh yang telah berusia ratusan tahun. Seolah pendapat ulama tersebut berubah menjadi teks suci baru dalam agama Islam yang menandingi Alquran itu sendiri (Zayd, 1995: 20).&lt;br /&gt;Kecendrungan ini akhirnya melahirkan sikap taqlid yang terlalu ekstrem untuk mengikuti pendapat orang terdahulu. Taqlid pun menjadi sebuah gerakan untuk mendewakan teks yang telah using. Padahal, pada awalnya ketika nabi Muhammad masih hidup, beliau adalah referensi utama dalam problematika keagamaan. Dalam masalah keagamaan para Sahabat berusaha mengeksplorasi nilai-nilai keagamaan dengan bertanya, berdialog dan berdiskusi dengan Nabi. Tak jarang Nabi sependapat dengan beberapa Sahabatnya ketika melihat analisa dan hipotesa sejalan dengan semangat ajaran Islam. Demikian juga para Sahabat sering menginterupsi pendapat Nabi, dan mempertanyakaan validitas pendapat beliau. Sehingga yang terlihat adalah semangat diskusi dan dialog antara realitas yang dihadapi di masa Nabi dengan Alquran yang merupakan wahyu langit. Dalam memberikan pandangan dan pendapat, Nabi tidak memperlihatkan sikap arogansi dan otoritas dalam mengklaim sebuah kebenaran, akan tetapi beliau senantiasa meminta pendapat para Sahabatnya untuk menemukan solusi yang ideal terhadap sebuah perkara. Bahkan Nabi dengan tegas mengatakan bahwa kalian lebih mengetahui perkara dunia kalian. Pandangan yang diberikan Nabi ini, seolah-olah terlupakan oleh kaum muslimin dalam melihat realitas kontemporer mereka (Zayd, 1995: 16-17)&lt;br /&gt;Semangat dialog, diskusi dan musyawarah yang dikembangkan oleh Nabi, tiba-tiba hilang ditelan keganasan arus ekslusivitas yang ekstrem itu. Kembali lagi Tuhan diperlihatkan sebagai otoritas tunggal dalam segala hal tak terkecuali dalam tataran epistemologis. Kebenaran yang tertinggi adalah kebenaran yang bersumber langsung dari Tuhan. Tak ada yang salah dari doktrin dan cara pemahaman seperti ini, tapi yang bermasalah adalah metode yang ditawarkan untuk mengaplikasikan jargon ini. Secara serampangan Tuhan harus dihadirkan dalam setiap permasalahan epistemologis yang berkembang. Pendapat yang diridhoi adalah pendapat yang secara yang mempunyai ayat dan hadisnya. Sehingga Alquran dipaksa untuk menjawab permasalahan yang sebenarnya Tuhan telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk mencoba dan mencari solusi yang sesuai dengan tuntutan realitasnya. Lebih ironis lagi, hasil kreasi dari akal mulai dicurigai dan dipertanyakan validitasnya, akal tak lebih dari sekadar abdi teks yang otoriter. Hasil dari produktivitas akal yang tak sesuai dengan teks akan ditolak dan diperparah dengan klaim kufur bagi individu yang berusaha melakukan inovasi dalam mengoptimalisasi kinerja rasio. Hal tersebut diperparah oleh munculnya hadis yang mengancam orang-orang yang menafsirkan Alquran dengan akal dan logikanya dan sang penafsir tak tahu apa-apa, maka sang penafsir harus bersiap-siap untuk menempati jatahnya di neraka kelak. Kecendrungan tekstualis yang seperti inilah yang akhirnya mengarah kepada kecendrungan positivism logis deterministik . Hal tersebut terlihat jelas dari interaksi mereka dengan golongan-golongan yang tidak sepaham dengan mereka, dengan mudahnya para kaum tekstualis menghukumi golongan yang berbeda dengan kekufuran. Sejarah telah mencatat bagaimana perselisihan antara kaum tekstualis dengan golongan kontekstual, antara tafsir dan ta’wil.&lt;br /&gt;Kaum tekstualis dalam perkembangannya, akhirnya bermetamorfosis menjadi golongan radikal yang ekstrem, yang terlalu semena-mena mengatasnamakan Tuhan dalam setiap penafsirannya. Sehingga yang terjadi ajaran-ajaran luhur keislaman harus tertutupi dengan penafsiran dan klaim yang mengatasnamakan Islam. Hal inilah yang sangat disesali dan problematika inilah yang menjadi problematika yang paling serius yang dihadapi oleh umat sekarang ini. Padahal jika dicermati lebih dalam, ternyata perangkat logika dan rasio merupakan salah satu anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Demikian juga, ayat Tuhan bukan hanya ayat yang tertulis dalam Alquran, tapi ada ayat lain yang tak kalah pentingnya yaitu realitas dan pengalaman manusia yang berfungsi sebagai ayat kauniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Asyqar, Umar Sulaiman, Dr., 1991,  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tauhid Mihwar Hayah&lt;/span&gt;, Daar Nafais, Oman, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badawy, Abdurrahman, Dr., &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Min Tarikh Ilhad fi Islam&lt;/span&gt;, Siinaa Li Nasyr, Cairo. Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzahaby, Muhammad Husin, Dr., tanpa tahun,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ‘Ilmu Tafsir&lt;/span&gt;, Daar Ma’arif , Cairo. Pdf.&lt;br /&gt;Hanafi, Hassan, Dr., 1983, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fi Fikrina Mu’ashir&lt;/span&gt;, Daar Tanwir, Beirut. Pdf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hornby, A.S., 1995, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oxford Advanced Learner’s Dictionary&lt;/span&gt;, Oxford University Press, Oxford.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Asyur, Muhammad Thohir, vol I &amp; XXX, 1884, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tafsir Tahrir wa Tanwir&lt;/span&gt;, Daar Tunisiyyah Lin Nasyar,  Tunis, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Manzhur, Jamaluddin Abu Fadhl Muhammad, tanpa tahun, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lisan Arab&lt;/span&gt;, Daar Ma’arif, Cairo, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imarah, Muhammad, Dr., 2005, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islam wa Filsafah Hukm&lt;/span&gt;, Daar Shorouk, Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqbal, Muhammad, 2007, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Risalah Khulud&lt;/span&gt;, komentar dan editor ; Dr. Sa’id Jamaluddin, Makatabah Syuruq Dauliyah, Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurjany, Sayyid Syarif Abu Hasan, 2002, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ta’rifaat&lt;/span&gt;, Daar Al-Kotob Al-Ilmiyah, Beirut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nassyar, Samy, Dr., vol I, 1995, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasy`ah Fikr Falsafy fi Islam&lt;/span&gt;, Daar Ma’arif, Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Munazzamah ‘Arabiyyah Li Tarbiyah wa Tsaqah wa ‘Ulum&lt;/span&gt;, tanpa tahun, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mu’jam ‘Araby Asasy&lt;/span&gt;, Maktabah Laros, Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Razy, Fakhruddin, vol XVI &amp; XXXII, tanpa tahun, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tafsir Kabir&lt;/span&gt;, Daar Fikr, Damaskus, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho, Sayyid Muhammad Rasyid, vol I &amp; III 1947, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tafsir Qur`an Hakim&lt;/span&gt;, Daar Manaar, Cairo, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shabbag, Ammad, 1998, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ahnaf Dirasah fi Fikr Diny Tauhidy Fi Manthiqah Arabiyyah qabl Islam&lt;/span&gt;, Daar Hashad, Damaskus, Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zayd, Nashr Hamid Abu, Dr., 1995, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nash, Sulthah, Haqiqah&lt;/span&gt;, Markaz Tsaqafy Araby, Beirut. Pdf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4160286287799798115?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4160286287799798115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/b-tauhid-dan-ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4160286287799798115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4160286287799798115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/06/b-tauhid-dan-ilmu-pengetahuan.html' title='B. Tauhid dan Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-252811171264478669</id><published>2011-02-10T23:06:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T23:17:17.759-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tujuh Tahun yang Lalu...'/><title type='text'>a. Di Ufuk Fajar Sebuah Pesantren</title><content type='html'>Sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, tepatnya di tahun dua ribu dua sebuah perjalanan hidup dan kisah yang biasa kembali harus berjalan. Secara sepintas Dai melihat tahun ini tak ada yang menarik, kecuali dia memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lingkungan yang baru yang dirasakannya. Sebelumnya Dai pernah mengecap pendidikan di sebuah podok pesantren yang ternama di Sulawesi. Namun sayang, Dai lebih sering membuat guru dan pembinanya kewalahan mendidiknya, bahkan ketika menjelang ujian akhir kelas tiga Tsanawiyah, Dai sempat dideportasi dari sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai begitu bebal dan bandel, mungkin karena kebutuhan eksistensialnya yang membuatnya bertingkah demikian. Sebab kebutuhan manusia mampu digambarkan dengan sebuah piramida, di dasar lapisan bawah terdapat keinginan materil, di lapis kedua terdapat keinginan psikologis, dan dilapisan teratas terdapat kebutuhan yang paling diimpikan yaitu kebutuhan eksistensial. Kebutuhan tertinggi ini merupakan sebuah representasi kebutuhan untuk dikenal dan dirasakan kehadirannya oleh orang lain, yaitu sebuah kebanggaan ketika orang lain mampu merasakan dan menghormati keberadaan manusia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Faktor inilah barangkali yang membuat Dai ingin dikenal, Dai ingin dirasakan kehadirannya oleh orang lain. Sehingga untuk person yang baru mengalami puberitas, salah satu jalan untuk mengungkapkan eksistensinya dengan bertingkah aneh, merusak peraturan, dan melanggar tata tertib. Atau mungkin ini adalah sebuah pengaruh dari kultur budaya yang ada di Sulawesi, yang begitu kental dengan kehormatan dan kebanggaan diri yang dominan. Kehormatan dan kejantanan seseorang terkhusus kepada kaum pria merupakan hal yang paling vital dalam masyarakat Sulawesi, yang dikenal sebagai budaya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;siri&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pacce&lt;/span&gt;. Nilai etik dan estetik dari budaya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;siri-pacce&lt;/span&gt;, kadang tak mampu dirasakan kehadirannya, tapi sangat mengakar di kalangan masyarakat Sulawesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ulah dan tingkahnya yang membuat para pembinanya merasa jengkel, akhirnya Waka Kesiswaan mengambil keputusan untuk memecat Dai, walaupun waktu itu ujian akhir tinggal tiga atau dua bulan lagi. Meskipun sempat menangis terisak-isak seperti Raju yang ada di film 3idiots, namun ternyata ini tak membuat Dai jera, malahan Dai sempat bermain kucing-kucingan dengan Bapaknya, yang berusaha menangkap dan membawa Dai kembali ke pesantrennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajarlah tindakan seorang Bapak yang berprofesi seorang pendidik yang ingin melihat anaknya sukses di bidang akademik, dan satu lagi, anaknya ini cuman satu-satunya yang menempuh pendidikan pesantren yang konvensional di kalangan keluarganya, sehingga betapa kecewa sang Bapak ini, jika di saat-saat terakhir anaknya harus dipecat. Tak terbayang betapa pengorbanan seorang Bapak, yang rela bermandi hujan dalam perjalanan Makassar-Barru, hanya untuk menjenguk dan membawa bekal untuk keperluan anaknya. Tak terbayang betapa sedihnya seorang Bapak, yang rela melepas anak lelaki satu-satunya, isak tangisnya tak dia perlihatkan di depan si anak, Bapak hanya menangis ketika anaknya membelakanginya. Dalam sedih yang terbungkam itu, sang Bapak dengan terbata berkata, “Nak nuntut ilmu tuh seperti itu, suatu saat derita ini, tangis dan isakmu akan terbayar dengan kebahagiaan..!”. Kekecewaan itu begitu besar ketika kebanggaan dan sumber ekspektasi keluarganya harus berakhir dengan kekecewaan ketika anaknya dipecat, hanya gara-gara penyakit puberitas anaknya yang terlalu kelewatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tabah, sang Bapak mengantar anaknya kembali ke pesantren. Meski Bapak harus mengemis dan memohon kepada pembina pesantren agar supaya anaknya dapat diterima dan mondok kembali di pesanren itu, bukan masalah, yang penting anaknya mampu melanjutkan pendidikan pesantren. Syukurlah si anak lumayan cerdas, walaupun tak seberapa, akhirnya Dai mampu lulus ujian serta mendapat ijazah mondok dan berhak untuk lanjut ke jenjang selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Dai sudah lelah untuk melanjutkan ke pondok lagi, Dai ingin lanjut di SMA Telkom Makassar, sebab Dai menilai sudah cukuplah ilmu agama yang diperolehnya, alasan ini yang diutarakan di depan Bapaknya. Padahal Dai hanya ingin bedalih dan ingin bebas dari kungkungan kehidupan pondok yang begitu mendera namun mendidik, beralih ke instansi pendidikan umum yang lebih bebas. Tentunya juga sebagai lelaki yang mengalami gejolak puberitas yang menggelora, Dai ingin mendapatkan kenalan atau bahkan pacar, untuk dapat dipertontonkan di hadapan teman-teman sebayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sang Bapak kurang setuju, bahkan mengingatkan cita-cita awal anaknya yang ingin berangkat ke Mesir untuk menimba ilmu agama. Keinginan ini berawal, ketika mendengar pengarahan opening ceremonial pimpinan pondok yang begitu mengagumkan, sehingga sejak saat itu Dai berharap untuk dapat mengecap pendidikan di Mesir. Pertimbangan inilah yang membuat keinginan anaknya tertolak, sebab Bapak tahu, kalau anaknya punya potensi untuk melanjutkan kuliah di negeri Kinanah sana. Akhirnya dengan berat hati Dai menerima keputusan itu, dan Dai pun mendaftar untuk ikut tes seleksi masuk ke Madrasah Aliyah, yang ternama di Makassar. Dai pun diterima untuk mondok di pesantren tersebut, dan waktu untuk kembali lagi ke penjara yang mengungkung gejolak puberitasnya pun telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati seminggu ospek yang begitu memalukan, Dai bersama teman-temannya akhirnya bisa bernafas lega, kengerian dan kesangaran senior mulai terkurangi. Tak ada lagi jalan bebek menuju kelas, yang harus melewati barisan para gadis, yang membuat malu, tak ada lagi perintah untuk hormat ke tiang listrik di tengah kumpulan siswi yang bertetanggaan dengan pondok mereka. Sebab sekolah mereka tidak lagi berada di gunung atau tempat terpencil lagi, sekolah mereka sekarang berbagi lokasi dengan beberapa instansi pendidikan lainnya, ada perguruan tinggi, ada Aliyah umum dan terakhir Tsanawiyah umum. Dan ospek yang memalukan itu telah berakhir. Sekarang saatnya untuk memulai materi dan proses belajar mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pertama, Dai dan teman-temannya pertama kali terkumpul dalam kelas. Dan Dai baru tahu, kalau ternyata Dai memiliki teman sekelas perempuan. Ada yang berbeda dari aura ruangan kelas yang Dai rasakan. Wajar selama tiga tahun mondok di pesantren hanya satu jenis saja teman sekelasnya, sedangkan untuk melihat yang makhluk yang namanya perempuan, harus melewati prosedur admisi yang ketat dan hanya di hari tertentu saja, yaitu hari pasar, Jumat. Maklum sebuah pondok yang berada di pelosok kabupaten Barru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai memiliki teman sekelas empat orang perempuan, dan dua puluh delapan putra. Sungguh merupakan statistik yang betul-betul tak adil dan bahkan tak berprikemanusiaan. Ironisnya lagi, Dai yang begitu menggebu-gebu untuk pamer diri, harus rela, sebab para wanita yang menjadi teman sekelasnya begitu tertutup dan bahkan memilih tempat duduk tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai pusing. Sembari berpikir bagaimana caranya untuk dekat dengan salah satu dari mereka, terutama gadis yang bernama Rafiqah. Rafiqah adalah anak dari salah satu pendidik yang ada di pesantren itu. Tapi bukan karena Rafiqah adalah anak guru yang membuat Dai tertarik kepadanya. Terlalu dini untuk seorang anak Aliyah mengenal bagaimana sistem nepotisme. Dai tak tahu apa, yang jelas aura Rafiqah begitu menghujam dalam hatinya. Seperti bintang kejora yang berpijar di tengah pekatnya malam, pijar cahaya yang dipancarkan Rafiqah memikat seluruh penduduk kelas yang ada di ruangan itu. Tak terkecuali Dai. Saya tidak ingat apakah Dai merupakan orang yang pertama di antara para pria yang ada di kelasnya yang berani berkenalan dengan Rafiqah, ataukah sudah ada yang lain. Yang jelas perkenalannya sangat simpel dan sederhana. Rafiqah merupakan bintang yang sinarnya begitu istemewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah asalmu dari mana”, ucap Dai, yang sok kenal dan sok akrab. Rafiqah dengan halus dan nada yang sangat sopan menjawab, “dari Tsanawiyah yang di depan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Owhh…”, jawab Dai singkat, seolah perkenalan itu tak berbekas dan hanya sepintas lalu saja. Pandai dia menyimpan perasaannya dalam hati yang sebenarnya sudah sangat gembira, karena telah berhasil ngobrol dengan Rafiqah. Padahal waktu itu, pengumuman seleksi masuk untuk tes pondok itu sedang diumumkan oleh seorang pembina. Dai begitu mengawan dan melangit, karena Dai telah berhasil berkenalan dengan Rafiqah. Tanpa sadar pengumuman untuk juara pertama disebutkan, ternyata nilai tertinggi untuk seleksi masuk itu jatuh ketangan Dai. Dengan kata lain, Dai menjadi peringkat satu selama satu semester mendatang. Dia tak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk peringkat pertama, dari nilai seleksi masuk Ponpes MA… Bla… bla… jatuh kepada, Dai..”, kata seorang Ustadz yang begitu bersemangat. Tapi Dai, masih asyik menikmati perkenalan pertamanya dengan Rafiqah. Untunglah saat itu separuh jiwanya masih memijak bumi, dia sadar kalau dia sekarang telah meraih sebuah kebanggaan. Bahkan dia mendapat ucapan selamat dari Rafiqah, yang duduk bersebelahan dengan Dai. Sungguh sebuah kenikmatan jika sebuah prestasi mampu diapresiasi oleh orang lain, apalagi dari seorang Rafiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bangga, Dai berjalan kedepan kelas untuk menerima penghargaan itu. Rafiqah hanya tersenyum. Tak ada gelagat lain yang diperlihatkan apalagi sebuah kekaguman. Namun dalam hati Dai sudah senang dan gembira. “Jalan masuk untuk ke pintu hati Rafiqah sudah sudah mulai terbuka satu pintu, sekarang tinggal melewati beberapa pintu lagi yang masih kokoh dan rapat terkunci…”, tuturnya dalam hati. Entah dapat teori dari mana si Dai, yang begitu pede kalau pintu hati Rafiqah telah terbuka satu pintu untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai kembali ke tempat duduknya, yang ada di sebelah Rafiqah, setelah menerima penghargaan itu. Kali ini aura kesombongan sudah mulai menyerbak dari sosok Dai. Awalnya, Dai yang duluan menyapa dan memulai pembicaraan tadi. Tapi sekarang dengan angkuh dan congkak, Dai kembali ke tempat duduknya tanpa pernah memalingkan pandangannya ke arah Rafiqah. Dia pun sok mengikuti dengan serius arahan dan nasehat yang diberikan oleh Ustadz yang membacakan inaugurasi tadi. Tapi ujung matanya ternyata sekali-kali menatap ke arah Rafiqah. Sebuah lirikan yang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam Sembilan, pengumuman seleksi tes dan arahan tadi berakhir. Waktu istirahat tiba. Dai masih tetap memantulkan pancaran aura kesombongan dan kecongkan-nya. Sebelum keluar pembina yang mengisi jam pertama tadi berpesan kepada para siswa, agar jam istirahat nanti digunakan untuk bersih-bersih ruangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kalau urusan bersih-bersih yang paling bersih pasti cewek. Mereka begitu perfeksionis. Ketika Dai sedang menghapus papan tulis, tiba-tiba suara Rafiqah yang lembut itu terdengar di kuping Dai. “Dai tolong &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lawa-lawa&lt;/span&gt; yang ada di kolong meja guru sekalian dibersihkan”, pinta Rafikah dengan sopan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah…! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lawa-lawa&lt;/span&gt; yang mana..?”, jawab Dai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang itu loh sarang laba-laba yang halus itu yang ada di kolong meja guru itu”, kata Rafiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Owh… Ini namanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lawa-lawa&lt;/span&gt; toh..?”, kata Dai, yang berusaha mencari bahan candaan dengan Rafiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bahasa Indonesianya gak..? Jangan pake bahasa Inggris dong..!” sahut Dai sambil tersenyum cengir yang berusaha memancing Rafiqah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafiqah hanya tersenyum cemberut, sambil menggerutu, “ihh… Sebel deh..!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai hanya tertawa menikmati kemenangannya. Seolah dia mendapatkan guyuran air segar ketika melihat senyuman Rafiqah tergurat di bibirnya. Apalagi senyuman itu ditujukan untuknya. Dai sudah terhanyut oleh pesona itu yang membawanya ke samudera impian. Tapi bukan Dai namanya, kalau segampang itu dia memperlihatkan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai masih tetap tertawa, seolah tawa itu merupakan simbol keangkuhan yang dia tunjukkan. Sedangkan Rafiqah masih tersenyum tersipu, karena ulah Dai. Bahkan Dai pun sudah mulai sok akrab dengan Rafiqah, dia tidak memanggil Rafiqah dengan namanya lagi, tapi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lawa-lawa&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul sepuluh kurang seperempat, seorang pembina lain berjalan menuju kelas Dai. Pembina tersebut pengajar Aqidah-Akhlak. Setelah memberi salam, sebagian siswa hening dan menanti dengan sabar,  pelajaran yang akan diberikan. Sedangkan yang lainnya masih melongo, membolak-balik buku bacaan yang dijadikan acuan untuk fak yang ada. Mereka heran dan terkejut, melihat tulisan Arab yang tak berbaris, baca yang berbaris saja sebagian siswa masih tersendat-sendat. Apatah lagi jika tak berbaris, terbayang bagai-mana kebingungan mereka tergambar jelas dari raut muka mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembina memulai pelajarannya, dengan menantang para siswa yang mampu membaca dan menerjemahkan diktat pelajaran yang ada di hadapan mereka. Tapi sayang, suasana senyap dan sepi, seolah berada ditengah perkuburan yang senyap. Tiba-tiba sebuah suara memecahkan kebuntuan tersebut. Suara tersebut datang di pojok ruangan. Suara si Dai yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan itu. Rafiqah masih mencari dari mana asal suara itu, maklum bangku di sebelah Rafiqah sudah kosong. Dai telah berpindah tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Dai memecahkan keheningan kelas itu, yang sempat terbungkam akibat tantangan pembina tadi unuk membaca dan menerjemahkan diktat yang berbahasa Arab tadi. Suara Dai menggelegar dan membaca dengan fasih tulisan Arab yang ada di depannya dan menerjemahkannya dengan lancar. Maklum waktu dia Tsanawiyah, kitab gundul sudah menjadi sarapan paginya di pondoknya dulu. Sehingga dia tidak canggung lagi untuk bercengkrama denga literatur-literatur Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Dai sudah semakin superior di kelasnya. Dia menjadi rujukan teman-temannya ketika ada pelajaran yang tidak dipahami. Dai begitu menikmati keadaan ini. Apalagi kalau yang bertanya itu Rafiqah, terlihat jelas air muka Dai yang sangat gembira tapi masih tetap egois untuk menyatakan perasaannya kepada Rafiqah. Dai masih belum tahu, bagaimana cara mengungkapkan perasaannya itu kepada Rafiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai hanya mampu mengirim ungkapan perasaan itu lewat tatapan atau pandangan yang tertuju kepada Rafiqah di tengah pelajaran atau pengajian sedang berlangsung. Sehingga tugas Dai, yang paling pertama ketika masuk kelas atau masuk mesjid, adalah mencari posisi yang tepat untuk melemparkan pandangan dan tatapannya kepada Rafiqah. Tatapan mata Dai begitu spekulatif, di samping dia menikmati pancaran keindahan yang merekah dari wajah Rafiqah, dia juga berusaha untuk menyampaikan luapan perasaan kagum yang mendidih dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dai lebih suka bermain dalam dunia ide dari pada bercengkrama langsung dengan realitas Rafiqah yang sungguh menawan. Dai tak dapat berbuat apa-apa untuk mengusir semerbak wangi keindahan Rafiqah yang telah menderu-deru dalam hatinya. Tapi sekali lagi Dai seorang sangat ulung mengontrol keadaan hatinya di hadapan Rafiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bersambung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-252811171264478669?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/252811171264478669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/02/di-ufuk-fajar-sebuah-pesantren.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/252811171264478669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/252811171264478669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/02/di-ufuk-fajar-sebuah-pesantren.html' title='a. Di Ufuk Fajar Sebuah Pesantren'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-9046896668063480729</id><published>2011-02-10T22:19:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T23:17:29.769-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Desakralisasi Ayat-ayat Perang</title><content type='html'>Dalam beberapa minggu terakhir ini kita disuguhi dua berita kekerasan yang kembali mengusik dan bahkan mempertanyakan sejauh mana urgensi toleransi dan pesan kedamaian yang dibawa oleh Islam dalam upayanya untuk  mewujudkan tatanan masyarakat yang adil. Isu teror dan anarkisme kembali meluluhlantakkan pesan kedamaian dan ajaran kasih sayang yang menjadi identitas agama ini. Umat Islam kembali harus bekerja keras untuk menepis stigma kekerasan, teror, dan barbarian yang mewabah dalam dogma keislaman.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Isu kekerasan, teror, anarkisme, militansi dan barbarian bukanlah isu yang baru, ataukah penyakit yang baru diidap oleh Islam. Tidak. Islam telah lama mengidap penyakit ini, sejak berkobarnya perang Salib sampai peristiwan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nine Eleven&lt;/span&gt; yang meledakkan gedung kembar WTC di Amerika Serikat, image teror, militansi dan anarkisme seolah mendapatkan pengejawantahan dalam agama ini. Sayangnya, sampai sekarang belum ada upaya serius yang dilakukan oleh umat Islam untuk melakukan terapi penyembuhan terhadap virus yang menggerogoti nilai estetik yang ada dalam agama ini. Dialog dan konferensi internasional yang diselenggarakan di seantero dunia tidak berbuah apa-apa, sebab umat Islam terlalu ekslusif dan bahkan memagari dogma mereka dengan 'pagar batu' yang menghalangi umat Islam untuk melihat dan memandang kebenaran yang ada di luar Islam. Keluhuran yang dimiliki oleh nurani dan budi seolah dibungkam oleh interpretasi dan penafsiran yang mengatasnamakan Tuhan, dan bahkan penafsi-ran itu sendiri telah menjadi dogma yang tak dapat dikorek atau diganggu gugat. Istilah k&lt;span style="font-style:italic;"&gt;afir, murtad, musyrik&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;munafik&lt;/span&gt; seolah merupakan term final yang tak dapat disentuh dan bahkan jauh berada dalam realitas manusia. Term tersebut akhirnya menjadi argumen dan dalih untuk menyerang golongan lain yang berbeda dengan keyakinan umat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, pelaku teror dan kekerasan justru mendapat tempat yang terhormat dan membanggakan dalam doktrin kaum fundamental. Pelaku kekerasan dan teror diiming-imingi balasan syurga bagi mereka yang berhasil terbunuh atau membunuh para musuh Islam. Padahal sampai sekarang saya belum jelas siapa musuh Islam, atau barangkali agama ini yang terlalu sering mencari-cari musuh, sehingga tak mampu membedakan antara kepentingan politik dan kepentingan religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan peristiwa kekerasan yang menimpa bangsa ini beberapa minggu lalu, bisa saja ada anggapan bahwa dibalik peristiwa kerusuhan tersebut terselubung intrik politik yang berusaha mendiskreditkan image umat Islam. Walaupun kita bisa berlega hati dengan hipotesa tersebut, namun perlu saya tekankan, bahwa image teror dan anarkisme selamanya akan menjadi tunggangan politik jika umat Islam tidak mau berbenah diri dan melakukan reformasi total terhadap doktrin dan ajaran propagandis yang ada dalam dogma Islam. Islam selamanya akan menjadi agama teror dan agama anarkis, jika ayat-ayat perang dan masih dipercaya masih relevan dan sakral untuk masa sekarang ini. Selama umat Islam menganggap bahwa, orang Kristen dan Yahudi tak akan pernah ridho kepada umat sampai umat Islam murtad dari agama mereka (QS: 2: 120), maka selama itu pula toleransi antar- umat beragama tak pernah terwujud, dan rasa curiga akan terus tumbuh dalam sanubari umat Islam. Selama umat Islam meyakini, bahwa kewajiban mereka adalah untuk memerangi dan bahkan membunuh orang-orang yang berada di luar agama mereka, atau sampai orang yang memiliki keyakinan berbeda tersebut memeluk Islam atau membayar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jizyah&lt;/span&gt; (QS: 9: 29), maka selama itu pula perdamaian dan kerukunan antarumat beragama tak akan pernah terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada dalam tataran filosofis, saya melihat bahwa asal dari segala tindakan teror dan anarkisme yang dijadikan sebagai alat justifikasi terhadap perilaku kaum radikal adalah ayat perang yang lebih cenderung berindikasi terhadap upaya propogandis dan provokator. Terlepas dari apakah unsur politik, ekonomi, sosial dan budaya ikut andil dalam membentuk watak para pelaku teror dan anarkisme. Saya tidak menyepelekan masalah tersebut, akan tetapi saya melihat urgensi dogma dan kepercayaan merupakan faktor utama dalam pembentukan watak dan karakter sang pelaku teror. Sekarang sudah saatnya ayat perang dan ayat provokator tersebut didesakralisasikan. Biarlah ayat tersebut menjadi sebatas bukti historis yang menjadi pelajaran bagi generasi kita ini, tanpa harus menjadi bahan dan komposisi utama dalam pembentukan akidah dan watak kaum muslimin. Ayat perang dan ayat provokator tersebut marilah kita jadikan hanya sebatas bacaan ritual yang dibaca dalam salat atau dalam praktek ritual lainnya, tanpa harus berperan dalam membentuk ideologi kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin upaya desakralisasi terhadap sebagian ayat-ayat Alquran, dianggap sebagai upaya penistaan dan penghinaan terhadap Alquran. Saya akan menghormati pandangan ini, namun dengarkanlah saya sejenak, simaklah sebentar pemaparan argumen saya. Sudilah kiranya anda bersama saya sekejap untuk menelaah dalil yang saya ajukan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, upaya desakralisasi Alquran bukanlah merupakan hal yang baru dalam pemikiran Islam. Sebelumnya upaya ini telah diusung oleh Muktazilah dalam konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khalq Quran&lt;/span&gt;nya. Walaupun saya akan berlebihan jika saya mengatakan, bahwa upaya Muktazilah serupa dengan upaya saya ini, namun usaha yang dilakukan Muktazilah adalah untuk meletakkan Alquran berada dalam realitas manusia. Alquran bukanlah sebuah kitab suci yang memiliki dimensi transendental yang jauh dari kehidupan manusia. Alquran merupakan kompilasi pengalaman realitas nabi Muhammad yang mendapatkan panduan dari Tuhan, dan sangat jelas kita ketahui realitas di satu sisi memiliki keterbatasan, namun nilai yang dikandungnya di sisi lain memiliki aspek universal. Terlalu gegabah untuk mengatakan bahwa ajaran Alquran mencakup seluruh realitas manusia yang terlalu kompleks dan multidimensi. Sehingga dapat saya katakan ada ayat yang sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi kita sekarang ini, sebab ayat itu hanya terkhusus kepada pengalaman pribadi Nabi yang tak dapat diaplikasikan dalam kehidupan universal seluruh umat Islam. Kita ambil contoh, peristiwa kawinnya Nabi dengan istri anak angkatnya, Zaid, yang terekam dalam Alquran. Secara etis kita mungkin miris dan dongkol dengan peristiwa ini, dan ini hanya dibolehkan kepada Nabi seorang. Namun, bila kita telaah lagi lebih dalam, dimana letak kesakralan peristiwa tersebut, bukankah ayat yang membahas masalah ini hanyalah sebatas pemaparan pengalaman personal Nabi, yang kini sudah tidak relevan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, dalam ilmu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ushul fiqh &lt;/span&gt;kita mengenal konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nasikh&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mansukh&lt;/span&gt;. Secara sederhana defenisi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nasikh-mansukh&lt;/span&gt; ini adalah penghapusan nilai hukum yang dikandung oleh sebuah ayat dan digantikan dengan hukum atau peraturan baru. Dalam Alquran terdapat ayat yang hanya berupa teks saja, dan tidak memiliki nilai hukum namun masih tetap tertera dan tercantum dalam Alquran. Misalnya, ayat-ayat yang berkaitan tentang pelarangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khamr&lt;/span&gt; dan judi. Terdapat tiga jenis ayat dalam Alquran yang bercerita tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khamr&lt;/span&gt; dan judi. Klasifikasi pertama, ayat tersebut secara netral berbicara tentang minuman keras dan bejudi. Ayat tersebut memaparkan manfaat arak dan judi tanpa menyinggung persoalan hukum di dalamnya. Jenis yang kedua, ayat yang melarang kaum muslimin untuk tidak minum arak menjelang salat, tapi ayat ini tidak melarang secara keseluruhan, hanya saja pelarangan yang bersifat temporal, ketika akan melaksanakan salat saja. Jenis ketiga, ayat yang secara tegas melarang meneguk arak di semua waktu atau sudah bersifat mutlak. Walaupun saya kurang setuju terhadap klasifikasi ini, namun jika kita menerima klasifikasi ini, bukankah ini berarti jenis ayat yang pertama dan kedua, sudah tidak memiliki kesakralan dan fungsi hukum lagi? Tidakkah ayat pertama dan kedua tersebut sudah tidak relevan lagi di zaman ini? Apakah saya dapat berdalih ketika saya ingin meneguk minuman keras dengan menggunakan ayat pertama dan kedua? Jika hal ini kita terima, mengapa ayat perang tidak  disikapi seperti ini? Mengapa ayat perang masih memiliki kesakralan ditengah upaya yang dilakukan umat Islam untuk menebarkan pesan kedamaian dan keselamatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, memang di dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang sudah lapuk ditelan zaman dan sudah tidak relevan lagi dengan kondisi yang ada sekarang ini. Beberapa ayat dalam Alquran di masa sekarang ini tak lebih dari sekadar rekaman sejarah yang tidak memiliki nilai hukum atau bahkan sudah tidak sakral lagi di mata umat Islam. Ambillah contoh ayat-ayat yang berbicara tentang perbudakan, secara eksplisit Tuhan tidak menjelaskan bahwa ayat ini sudah tidak berlaku lagi untuk masa tertentu, bahkan Tuhan membiarkan ayat tersebut tercantum dalam Alquran. Namun itu bukan berarti bahwa kita harus memaksa masalah perbudakan harus senantiasa ada dan relevan dalam kehidupan manusia. Tidak. Justru fleksibilitas Alquran diuji di sini, apakah kita mau menerimanya begitu sahaja, atau kita mengklasifikasikan ayat Alquran yang relevan dengan kondisi kita. Jika sepasang suami-istri yang melakukan hubungan seksual ditengah hari bulan Ramadhan, ketika mereka tidak sanggup untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut, apakah mereka harus berkeliling dunia untuk mencari seorang budak lalu memerdekannya? Tentu kita akan memberikan pilihan kepada mereka untuk opsi hukum yang lain yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi, di manakah letak kesakralah ayat perbudakan tersebut? Bukankah ayat tersebut sudah tidak relevan lagi? Bukankah ayat tersebut sekarang ini hanyalah sebatas bacaan dan rekaman historis yang dibaca pada ritual keagamaan? Hal serupa terjadi juga terhadap hukum potong tangan bagi para pencuri dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qishash&lt;/span&gt; bagi para pembunuh. Apakah kita ingin ngotot ingin menerapkan hukum tersebut di masa sekarang ini? Apakah kita lebih menganut formalitas dari ayat tersebut ketimbang mengambil substansi dan esensi yang ada dalam ayat tersebut? Di manakah letak kesakralan ayat tersebut? Nilai hukum apakah yang dimiliki oleh ayat tersebut di masa sekarang ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ayat perbudakan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khamr&lt;/span&gt;-judi, hukum potong tangan dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qishash&lt;/span&gt; yang telah didesakralisasikan, tidaklah seurgen dengan ayat perang seruan propogandis dan provokator pada ayat lain. Bahkan problem anarkisme dan radikalisme yang menimpa umat Islam sekarang ini sudah sangat mendesak dan perlu untuk disikapi lebih lanjut. Biarlah ayat perang dan provokator tersebut kita jadikan hanya sebatas sebagai bacaan dalam ritual keagamaan dan sebagai rekaman sejarah. Biarlah kesakralan dalam ayat tersebut dicabut dan dihilangkan demi membuka jalan Islam dalam upayanya menebarkan pesan kedamaian di seluruh dunia. Marilah kita membangun citra Islam yang lembut, yang halus, yang jauh dari anarkisme. Sudah saatnya ayat perang tersebut disimpan dan disembunyikan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mushaf&lt;/span&gt;. Marilah kita membangun identitas Islam sebagai umat yang sangat menghargai perbedaan, menghormati  pluralitas. Menjunjung tinggi kebebasan berkeyakinan. Islam tidak rugi jika satu atau dua orang dari pemeluknya berpindah agama, bahkan mari kita hormati mereka. Marilah kita membangun citra Islam yang lebih mengedepankan dialog dari pada adu jotos. Biarkan Islam dikenal sebagai agama yang menghormati agama pagan dan ajaran yang berbeda lainnya, sebab dalam Alquran sendiri Tuhan telah menjamin, bahwa orang-orang yang mengakui keberadaan Tuhan, baik itu dari golongan Kristiani, Yahudi, atau dari golongan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shabiin&lt;/span&gt; (pagan), mendapatkan jaminan dari Tuhan di hari Akhir nanti. Tuhan kita satu, kita pun pasti mencintai- Nya, namun kita perlu usaha yang berbeda untuk mengekspresikan cinta kita kepada Tuhan kita. Tuhan terlalu terbatas dan terlalu miskin jika hanya milik umat Islam sahaja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-9046896668063480729?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/9046896668063480729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/02/desakralisasi-ayat-ayat-perang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/9046896668063480729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/9046896668063480729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/02/desakralisasi-ayat-ayat-perang.html' title='Desakralisasi Ayat-ayat Perang'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-1840977286154955562</id><published>2011-01-26T22:38:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T23:17:38.994-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>VERIFIKASI KEBENARAN AGAMA</title><content type='html'>Jika anda sekarang sedang bergosip tentang saya misalnya, dan anda berkata kepada teman bicara anda, “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;si Awal sudah punya pacar belum yah..?&lt;/span&gt;”.  Atau tiba-tiba saya menulis status, “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saya sedang pacaran dengan Yeni&lt;/span&gt;”, misalnya. Untuk mengetahui kebenaran dari status saya, maka anda dapat dengan  mudah untuk mencari kebenaran statemen yang saya lontarkan dengan menggunakan metode verifikasi terhadap statemen yang saya keluarkan. Jika statemen saya itu benar, dalam arti saya sekarang sedang pacaran dengan Yeni, maka statemen saya adalah benar, namun jika yang terjadi sebaliknya, maka statemen saya salah. Anda dapat mencari kebenaran statemen saya dengan menguaraikan aspek atomik yang ada dalam pernyataan itu. Apakah pernyataan saya merupakan ungkapan dari sebuah refleksi faktual, ataukah hanya merupakan ungkapan kebohongan belaka. Hal inilah yang dinamakan konsep &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;verifikasi positivisme logis&lt;/span&gt; yang dikembangkan oleh&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Vienna Circle&lt;/span&gt;, dan dipermatang oleh Alfred Jules Ayer. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, konsep verifikasi yang diusung oleh positivisme logis menekankan pada kemampuan sebuah preposisi untuk diverifikasi atau dibuktikan secara empirik. Statemen saya yang mengatakan, bahwa saya saat ini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saya sedang berpacaran dengan Yeni&lt;/span&gt;, hanya dapat bermakna, jika dalam statemen tersebut terkandung sebuah kemungkinan bahwa pernyataan itu dapat dibuktikan dengan konsep verikasi. Dengan kata lain, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;sebuah statemen yang benar adalah adanya kesesuaian antara pernyataan atau statemen dengan realitas faktual yang mengada&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan dikatakan bermakna dan benar, jika pernyataan tersebut memenuhi formulasi logis yang dapat dibuktikan secara empirik. Aturan formulasi logis sebuah bahasa, bersandar pada filsafat atomisme logis yang digusung oleh Bertrand Russel. Menurut Russel ada suatu kalimat yang memiliki struktur gramatikal yang sama namun memiliki formulasi logis yang berbeda. Misalnya kalimat, ‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal pacaran dengan bidadari dari syurga&lt;/span&gt;’ dan ‘&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal pacaran dengan gadis dari Sleman&lt;/span&gt;’, secara gramatikal keduanya sama, namun secara formulasi logis kedua pernyataan tersebut memiliki kontruksi yang berbeda. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pada pernyataan yang pertama, bersifat fantatis dan yang kedua bersifat real&lt;/span&gt;. Dengan memahami formulasi logis dari suatu ungkapan, maka kita dapat melakukan sebuah differensiasi dari formula logis gramatikal suatu ungkapan dengan bentuk logis semantiknya. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pentingnya memberikan differensiasi antara formulasi gramatikal dan formulasi logis, nantinya akan memberikan kemudahan untuk melakukan sebuah analisis terhadap sebuah pernyataan, preposisi dan bahkan barangkali sebuah dogma&lt;/span&gt;. Sebuah preposisi dan pernyataan dapat diverifikasi, apakah pernyataan tersebut bermakna atau tidak. Dari konsep atomisme logis yang diperkenalkan oleh Russel yang akhirnya mengilhami kaum positivisme logis untuk lebih mengembangkan konsep atomisme logis tersebut ke dalam konsep verifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan mengindahkan apakah konsep verifikasi tersebut wajar untuk digunakan dalam menakar kebenaran sebuah agama atau tidak. Atau apakah konsep verifikasi tersebut memiliki tak disetujui oleh sebagian kalangan, misalnya karya terakhir dari Wittgenstein yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Philosophical Investigation&lt;/span&gt;. Dalam karya ini, dapat dikatakan Wittgenstein murtad dari pemikirannya terdahulu yaitu ajaran atomisme logis, dan menggusung pemikiran baru, yaitu konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ordinary language&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;language games&lt;/span&gt;. Bukannya saya bersikap arogan, akan tetapi saya melihat ada sebuah konsep yang diusung oleh Russel, saya anggap tepat untuk mengklarifikasi kebenaran sebuah agama. Konsep tersebut adalah konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;egocentric&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal tersebut didasari dari sebuah anggapan, bahwa dalam mengalami pengalaman empirik, terdapat pengalaman-pengalaman yang tidak dapat dibagi secara teoritik dengan orang lain&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan sebuah persesuaian antara realitas faktual dunia dan bahasa yang digunakan untuk mengungkap pengalaman tersebut&lt;/span&gt;. Namun perlu ditekankan di sini, bahwa sejauh pengalaman itu bersifat egiosentrik namun, pengalaman tersebut haruslah memiliki rujukan empirik yang mampu dijadikan acuan dalam upaya verifikasi terhadap makna yang dikandung dalam pernyataan tersebut. Misalnya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;saya ingin membuktikan kepada anda betapa cantik pacar saya sekarang ini&lt;/span&gt;, walaupun rasa tersebut merupakan sumber relativitas dari sebuah interpretasi, paling tidak saya memiliki acuan empirik untuk membuktikan pernyataan saya itu. Atau paling tidak, saya harus memiliki rujukan empirik untuk membuktikan bahwa pernyataan saya bermakna. Akan tetapi jika saya mengatakan bahwa, betapa cantik pacar saya, yang saya maksud pacar di sini adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;bidadari yang turun dari langit&lt;/span&gt;, maka pernyataan saya itu otomatis tidak memiliki rujukan empirik, dengan kata lain saya sedang membual dengan anda, dan ucapan saya omong belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat bagaimana sebuah kebenaran agama dijustifikasi dengan menggunakan konsep verifikasi, tanpa menghilangkan dimensi egosentrik yang dimiliki oleh penganutnya, khususnya Islam. Dogma dan doktrin Islam dibangun sebuah konsep tentang wahyu. Selama berabad-abad, belum ada yang mampu memberikan sebuah interpretasi tentang prosedur wahyu tersebut sampai pada masa Farraby. Usaha Farraby memberikan interpretasi logis terhadap problematika wahyu akhirnya menuahkan hasil yang cukup memuaskan. Wahyu menurut Farraby erat kaitannya dengan aspek psikologis dalam diri manusia. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wahyu merupakan reaksi psikologis terhadap realitas faktual yang dialami oleh seorang manusia. Salah satu dari bentuk reaksi psikologis tersebut adalah dengan melalui mimpi. Kemampuan reflektif dan kontemplatif yang dimiliki oleh seseorang jika mampu menembus taraf maksimalnya, maka akhirnya akan mampu membawa manusia kepada persinggungan dengan alam transenden, yang berada di atas dunia manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, proses wahyu adalah endapan-endapan pengalaman empirik yang dialami oleh seseorang yang telah diabstraksi dalam sebuah proses kontemplasi dan perenungan yang mendalam. Wahyu merupakan jawaban reflektif dari fenomena-fenomena empirik yang dialami seorang yang mengklaim dirinya seorang nabi, yang diawali dengan sebuah upaya kontemplatif dan perenungan yang mendalam. Dan hal ini sebelumnya telah dilakukan oleh Muhammad untuk memperoleh wahyu, yang selama dua tahun melakukan tahannuts di gua Hira. Beliau melakukan sebuah aktifitas kontemplatif dan reflektif dalam upayanya untuk memberikan sebuah kontribusi terhadap nilai-nilai religius yang memudar di zamannya. Oleh karena itu, apa yang diterima Muhammad merupakan wahyu yang bersifat manusiawi dan profan, dan tentunya tidak berada di luar dunia manusia. Sehingga wahyu yang ada sekarang ini, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alquran, mempunyai dimensi manusiawi yang multiinterpretatif dan berada dalam tataran historisitas manusia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wahyu kontemplatif yang dimiliki oleh Muhammad memiliki dimensi humanis yang sangat kental dan sangat dipengaruhi oleh fenomena empirik yang ada di zamannya&lt;/span&gt;. Namun itu tidak berarti bahwa wahyu tersebut akan lekang dimakan oleh zaman, tidak. Yang lekang oleh zaman adalah fenomena yang ada, namun nilai yang ada di dalamnya tetap aktual, tergantung terhadap sikap yang diambil oleh para pemeluknya. Atau ada opsi lain untuk menjaga kelekangan tersebut, yaitu melakukan proses &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;reinterpretasi terhadap penafsiran yang selama ini berkembang&lt;/span&gt;. Sebab sekarang ini, yang membuat jauh sebuah kitab suci dari para pemeluknya ketika ada jarak antara kitab suci tersebut dengan pemeluk agama tertentu, khususnya Islam. Tak dapat dipungkiri bahwa, kerenggangan tersebut terjadi ketika jika &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;egoisme historik&lt;/span&gt; begitu besar untuk pemeluk sebuah agama. Yang saya maksud &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;egoisme historik, adalah ada kecenderungan mengungkit nilai relevansi kitab suci tersebut dengan zaman sekarang di mana pemeluknya hidup&lt;/span&gt;. Persoalan relevansi ini sangat penting, sebab diakui bahwa d&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;alam membaca buku manapun pasti terdapat jarak antara pembaca dengan realitas historis dari objek yang dikajinya, dan tak terkecuali untuk kitab suci&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya verifikasi terhadap kebenaran agama, khususnya Islam dapat dikembalikan dalam dua jalan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, wahyu merupakan sebuah reaksi psikologis yang dialami Muhammad dalam interaksinya terhadap fenomena-fenomena empirik yang ada di zamannya. Upaya dalam memberikan solusi alternatif terhadap fenomena di zamannya telah membawanya kepada aktifitas kontemplatif yang merupakan salah satu pintu dari wahyu tersebut. jadi, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;wahyu merupakan sebuah pengalaman empirik yang terabstaksikan&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, kebenaran wahyu bersifat egosentrik yang berarti, bahwa pengalaman yang dimiliki oleh Muhammad tidak dapat dibagi kepada orang lain. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akan tetapi untuk menentukan apakah pernyataan Muhammad yang terekam dalam Alquran itu ‘bermakna’, yang berarti sesuai dengan formulasi logis dan bukan hanya sekedar khayalan fantatis, adalah rasa atau refleksi pengalaman yang memiliki rujukan empirik yaitu berupa fenomena historis yang ada di zaman Muhammad&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin anda mengatakan bahwa realitas wahyu bukan merupakan sebuah pengalaman yang berada tataran dunia material apa lagi empirik. Maka kalau seperti itu, berarti bahwa anda tak dapat memberikan sebuah bukti apapun untuk mendukung pendapat anda. Sebab bukti yang anda paparkan tak akan lepas dari verifikasi empiris dari argumen yang anda paparkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semoga fanatisme semakin berkurang…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-1840977286154955562?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/1840977286154955562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/01/verifikasi-kebenaran-agama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1840977286154955562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1840977286154955562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2011/01/verifikasi-kebenaran-agama.html' title='VERIFIKASI KEBENARAN AGAMA'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3594934507080452787</id><published>2010-07-29T08:39:00.000-07:00</published><updated>2011-01-26T23:00:03.009-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Sufi Masuk Kota</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Engkau berpikir seolah dirimu hanyalah seonggok materi belaka, padahal dalam dirimu tersimpan kekuatan yang tak terbatas".&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal penciptaan manusia, mereka telah mendapatkan penghormatan yang luar biasa menakjubkan, baik itu dari penduduk langit ataupun dari penghuni bumi. Dia memperoleh sujud penghormatan dari para malaikat yang mendiami langit, dan juga mendapatkan ketundukan yang 'tertunda' dari sang Iblis yang menghuni bumi. Namun karena sang Iblis belum mau tunduk dan belum mau mengakui kesempurnaan manusia, maka diutuslah manusia pertama, yang memiliki misi untuk mempertontonkan kepada seluruh jagad raya bahwa manusia berhak untuk mendapatkan gelar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'khalifatullah fil ardh'&lt;/span&gt; (wakil Allah yang ada di bumi). Tugas itulah yang dibebankan Allah kepada Adam, sebab, sejak awal penciptaannya, manusia dianggap akan menjadi produk gagal yang akan menumpahkan darah dan akan menebarkan kezoliman di muka bumi ini. Walaupun terjadi reaksi keras dari para malaikat, namun Allah memberikan kepercayaan kepada manusia dan memberikan mandat kepada mereka di muka bumi ini. Dan, ketika Adam dihidupkan para malaikat pun takjub yang diikuti oleh rasa malu akibat anggapan remeh mereka kepada manusia. Tak sengaja mereka berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Maha suci Engkau Allah, kami tak punya pengetahuan kecuali apa yang telah engkau ajarkan kepada kami".&lt;/span&gt; (QS:2:32). Namun sayang, hanya malaikat yang mau mengakui dan hormat kepada Adam, tapi Iblis enggan. Allah pun bertanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Mengapa kau tak bersujud?"&lt;/span&gt;, Iblis dengan sombongnya menjawab, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kesempurnaanku masih jauh diatas Adam!"&lt;/span&gt; (QS:7:12). Sejak saat itu sang manusia diperintahkan untuk mencari kesempurnaan yang dimilikinya dengan cara membuat sang Iblis tunduk dan bersujud kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia dikatakan sempurna jika mampu menundukkan kedua kekuatan ini yang berada dalam diri manusia, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nafs malakiyyah&lt;/span&gt; dan  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nafs syaithaniyyah&lt;/span&gt; atau kemampuan intelegensi dan kemampuan emosional yang akan membawanya kepada kemampuan spiritual untuk menuntun dalam perjalannya menjalani dentuman keras ombak kehidupan. Sebab Rasulullah pernah bersabda bahwa setiap hari, di dalam hati manusia terdapat dua kekuatan yang berusaha mendominasi hati manusia yaitu dorongan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nafs malakiyyah&lt;/span&gt; dan bisikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nafs syaithaniyyah&lt;/span&gt;. Tapi bukan manusia yang sempurna, ketika dalam kehidupannya hanya berusaha beribadah tanpa pernah memikirkan realitas sosial yang ada di sekitarnya, beribadah siang malam tapi tak mengidahkan kebodohan yang melilit lingkungan sekitarnya. Kesempurnaan juga tak diukur oleh berapa banyak materi yang dimilikinya, seberapa tinggi jabatannya, tanpa pernah peduli rasa lapar yang membuat lingkungan sekitarnya menjadi seperti binatang yang tak punya kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sepertinya lingkungan kita membelenggu kita dalam dua persepsi ini, dan sayangnya sangat sulit untuk mendapatkan opsi yang ketiga. Kita berada dalam dua penjara paradigma yang mengungkung kesempurnaan manusia kita. Di satu sisi kita diperhadapkan oleh kesalahan intepretasi, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan yang kekal adalah akhirat. Sehingga kita dituntut untuk mempersiapkan diri kita mempersiapkan bekal kita untuk akhirat nanti, tanpa mau peduli berapa banyak orang yang menjual keimanan mereka hanya karena seliter beras, seberapa banyak orang yang menjual idealisme mereka hanya karena tak mampu berjuang melawan kerasnya kehidupan. Dunia ini seolah bukan diciptakan untuk kita, kehidupan kita bukan disini. Kehidupan kita hanyalah ada di dunia utopia yang tak jelas. Seolah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khalifatullah fil ardh&lt;/span&gt; hanyalah firman suci yang tidak bisa mendapatkan realisasinya di bumi ini. Padahal manusia yang ditugaskan dan ditunjuk menjadi pengganti Allah di muka bumi ini, tugas kita ada di bumi ini dan bukan di akhirat sana. Ada yang salah dari semangat asketisme (zuhud) dalam keagamaan kita. Padahal setelah wahyu terakhir turun Nabi tetap bercita-cita mengislamkan seluruh Jazirah Arab, masih banyak perang kecil yang terjadi setelah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fath Makkah&lt;/span&gt;. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah dia tetap menjalankan tugasnya untuk mengembangkan kekuasaan Islam sampai semananjung Khurasan. Umar yang dengan gemilang mampu merebut Bait Maqdis sebagai simbol kota suci untuk tiga agama, serta menaklukkan Alexandria dengan perpustakaan terbesarnya sebagai kiblat ilmu pengetahuan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;middle age&lt;/span&gt;. Usman pun tak kalah, dia berhasil membentuk negara dengan membangun lembaga administrasi dan birokrasi yang handal yang mampu menjaga ketentraman dan keadilan negara persemakmuran Islam. Walaupun pemberontakan begitu marak terjadi di zaman Ali, Ali tak pernah membunuh cita-citanya untuk memberikan sumbangsih untuk penduduk bumi, dia membuat Alquran lebih gampang dibaca dan dipahami untuk bangsa non-Arab, dialah yang memberikan harakat dan titik pada huruf-huruf Hijaiyyah, di samping itu dialah yang mengembangkan budaya sastra dan seni di dunia Islam. Mereka semua itu adalah para sufi, orang yang mensinergikan intelegensi otak dan kedalaman hati, cinta mereka kepada Tuhan tak memenjarakan mereka dalam belenggu asketisme yang meracuni paradigma keduniaan mereka. Dengan kecintaan yang begitu mendalam kepada Tuhan, mereka realisasikan bentuk cinta itu dalam kehidupan ini. Mereka cinta Tuhan karena kemahaadilanNya, sehingga mereka cinta jika keadilan dapat merekah dalam lingkungan mereka. Mereka cinta kepada kemahapengetahuan Tuhan, sehingga mereka benci jika dalam lingkungan mereka, kebodohan masih menjadi trend. Mereka cinta kepada kemahapemurahan Allah, yang membuat mereka tidak akan mau beristirahat jika kemiskinan belum bisa terberantas. Mereka adalah para sufi metropolis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sebuah anggapan yang lebih berbahaya tengah menghantui kehidupan kita. Kesuksesan adalah seberapa besar materi yang dia miliki, seberapa tinggi kekuasaan yang dia pegang dan seberapa banyak kesenangan yang dia cicipi. Materi menjadi takaran kesuksesan seseorang, dan sayangnya ini lebih banyak merebak dan mewabah dalam masyarakat di sekitar kita. Kebanggaan seseorang terletak pada merek baju yang dia kenakan, seberapa mahal kendaraan yang dia tumpangi dan seberapa besar penghasilan yang dia peroleh. Agama adalah uang, waktu adalah uang, idealisme adalah uang dan tuhan adalah uang. Ironis. Tak heran ketika Frederick Jameson, seorang pakar sosilog post-modernisme berkata, bahwa dunia sekarang adalah dunia yang miskin perasaan dan emosi. Dan fenomena matrealisme konsumtif ini telah membuat resah para agamawan manapun di muka bumi ini. Tak jarang mereka mempertanyakan eksistensi nurani yang ada dalam diri manusia yang makin memudar. Bahkan Robert Stenbert berkata, "Bila intelegensi yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian. Dan bila kita membiarkannya berbuat demikian, berarti kita telah memilih penguasa buruk." Kadang melakukan kejahatan dengan menggunakan logika, akan terlihat rapi, misalnya korupsi, akan terlihat cantik jika dilakukan oleh orang yang memiliki intelegensi yang luar biasa, tapi jika korupsi dilakukan oleh orang yang berhati nurani, bisa jadi mereka mengurungkan niat mereka. Kita perlu bernurani di masa kini, kita butuh seperti sosok sekaliber Ibnu Mubarak, seorang pedagang yang menghasilkan omzet 100 Dinar emas perhari, tapi dia menyumbangkan 99 Dinarnya untuk keperluan orang di sekelilingnya. Kita membutuhkan sosok Abu Bakar, yang rela merogoh koceknya untuk memerdekakan budak yang dianiaya oleh para tuannya. Kita miskin, terhadap orang-orang yang seperti Al-Farraby, seorang dokter dan filosof muslim, yang mau memberikan pengobatan gratis terhadap kaum miskin. Kita belum punya sosok Umar bin Abdul Aziz, seorang presiden yang masa mudanya bergelimang dengan kehidupan glamour, namun ketika dia diangkat menjadi khalifah dia bahkan menyumbangkan seluruh harta bendanya untuk kepentingan negara, sehingga dia menjadi pemimpin yang dicintai oleh para musuhnya, sehingga dia dijuluki sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khalifah &lt;/span&gt;kelima. Mereka telah berhasil menjadikan dunia berada dalam genggamannya, namun dunia tak mampu menggenggam hati mereka. Mereka adalah kebanggaan Tuhan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;majlis&lt;/span&gt; para malaikat. Mereka telah membuat Iblis bersujud kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekandensi moral ataupun krisis materil yang melanda realitas kita membutuhkan karakter sufi yang cerdas, bukan hanya yang berdiam diri dan berdoa mengharap mukjizat Tuhan tapi, yang berusaha dan berjuang di tengah hedonisme kota. Kita butuh seorang sufi yang mau memasuki kehidupan kota yang kejam. Seorang yang mampu menggabungkan kedua kekuatan terbesar yang dimiliki manusia, kemampuan logis dan intitutif, rasio dan perasaan, otak dan hati, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tafakkur&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tadabbur&lt;/span&gt;. Jika kedua energi ini dapat disinergikan secara maksimal, dia mampu menembus segala sesuatu yang tak mampu di tembus oleh benda materil manapun. Kemampuan itu mampu melebihi kecepatan cahaya, mampu mengirimkan gelombang signal yang mampu diterima oleh segenap penghuni alam semesta. Sebuah kekuatan yang menurut Don Childre medan yang memiliki listrik yang memiliki area magnetik. Kemampuan inilah yang menurut Tony Bozan, raksasa yang tertidur dalam diri manusia. Dan itu bisa terjadi ketika kemampuan intelegensi dapat digabungkan dengan kemampuan emosional serta spitiual yang membentuk sebuah antena penangkap gelombang signal yang diistilahkan oleh Wolf Singer sebagai God Spot, dan dalam bahasa agama kita dikenal sebagai ilmu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ladunni&lt;/span&gt;. Sekarang saatnya menjadikan hati lebih dominan dalam segala bentuk aktifitas kita dari pada yang selama ini yang dilakukan oleh otak, sebab kita tahu kemampuan intelegensi manusia hanyalah 12 persen sedangkan 88 persen lainnya itu ada dalam alam bawah sadar manusia atau hati. Tak heran ketika Robert K Cooper berkata, "Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita dalami. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen, hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani. Saatnya para sufi turun gunung, saatnya sufi masuk kota! Sebab inilah bumi kita! Dan sejarah akan selalu memaafkan, memperbaiki, menyempurnakan kesalahan orang yang ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3594934507080452787?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3594934507080452787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2010/07/engkau-berpikir-seolah-dirimu-hanyalah.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3594934507080452787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3594934507080452787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2010/07/engkau-berpikir-seolah-dirimu-hanyalah.html' title='Sufi Masuk Kota'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-2739846887609120002</id><published>2009-12-30T10:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T06:33:38.001-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Bermanusia Bersama Mu’tazilah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan Allah menunjuki ke jalan yang lurus siapa saja yang Ia kehendaki..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebuah potongan ayat Alquran, jika kita cermati secara tekstual, maka kita akan berkesimpulan bahwa petunjuk adalah milik Allah. Dia mempunyai kekuasaan yang mutlak untuk menggiring hambanya ke dalam petunjuk yang Dia miliki, dan Dia juga memiliki hak preogatif untuk mendepak siapa saja yang tak Dia inginkan untuk keluar dari rel hidayah yang Dia susun. Dengan kata lain kita hidup dalam skenario Tuhan yang telah diaturNya. Para manusia hanyalah boneka-boneka Tuhan yang tak memiliki kemampuan apa-apa untuk menolak sebuah manfaat atau sebuah celaka yang telah diatur olehNya. Seorang kafir dan fasiq mampu berdalih atas kekufuran dan kefasikan yang ada dalam dirinya. Dia memiliki uzur untuk menjadi kafir dan fasiq. Sebab mereka tak memiliki kemampuan apa-apa untuk mengutak-atik skenario Tuhan yang telah ditetapkanNya. Demikian juga seorang mu’min yang taat, dia tak layak mendapatkan pujian apa-apa terhadap ketaatannya. Sebab dia beruntung karena Allah telah memilihnya menjadi seorang yang taat. Dengan bahasa yang sederhana, di tangan Tuhan telah ada list para penduduk neraka dan surga! Para manusia hanyalah berpentas di atas panggung kehidupan, dimana tiap individu telah memiliki karakteristik masing-masing dalam menjalankan peran yang dimilikinya. Jika dia diperankan oleh Tuhan sebagai tokoh yang baik, maka sebuah kesyukuran. Namun jika sang wayang memerankan tokoh yang buruk dan di penghujung ceritanya dia akan menerima kesialan, malu dan sengsara, maka dia tak memiliki kemampuan apa-apa untuk menolak kesaktian dan keperkasaan sang Dalang! Intepretasi ini adalah sebuah penafsiran tekstual terhadap kandungan ayat di atas. Kandungan serupa akan banyak di temukan ditemukan dalam Alquran, jika kita menggunakan kacamata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jabariyah&lt;/span&gt; dalam menafsirkan ayat ini. Problematika ini dalam wacana teologi Islam dikenal dengan istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadha&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadar&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi yang saya utarakan di atas mungkin sedikit akan menyulut emosi kita. Sebab kita semua tak mau menggambarkan tuhan sebagai perwujudan zat yang arogan, tirani dan diktator. Kemarahan kita tentu akan terkuak ketika mendengar, ternyata Tuhan yang diagungkan oleh umat Islam adalah sosok yang bengis, kejam dan tak berkasih sayang. Padahal deskripsi dan perwujudan tuhan yang seperti ini hanyalah milik para dewa-dewa kuno yang telah lama mati. Paling tidak, tuhan yang mau semena-mena terhadap hambanya telah dibunuh oleh Nietzche, Sarter dan Feurbach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadha&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadar&lt;/span&gt; merupakan sebuah fenomena yang cukup memanaskan alotnya perdebatan di kalangan teolog Islam. Paham Jabariyah yang memposisikan seorang hamba sebagai boneka mainan Tuhan cukup mendapat kritikan dan bantahan dari sekte-sekte Islam yang lain. Baik itu dari Sunni ataupun Syi’ah. Namun saya akan mengkristalkan pada versi kaum Sunni saja yaitu terfokus pada perdebatan antara Asyairah dan Mu’tazilah. Sebab hanya golongan Asyairah dan Mu’tazilah yang cukup intens dalam memberikan sebuah solusi dan intepretasi terhadap problematika ini. -Walaupun ada beberapa pemikir dan ulama yang tak setuju dengan solusi yang ditawarkan oleh keduanya diantaranya Ibnu Taymiyah dan muridnya Ibnu Qayyim demikian pula para kaum Sufi.- Hal ini tercermin dari literatur-literatur yang ditemui, hampir keseluruhan literatur Asyairah dan Mu’tazilah menmbahas masalah ini. Namun solusi dan tafsiran yang mereka tawarkan akan sangat berbeda dan bahkan bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari Asyairah, mereka berpendapat bahwa seorang hamba dalam bertindak dan berbuat itu berdasar dari kehendak dan telah mendapatkan izin dari Tuhan. Asyairah tak membantah kemampuan manusia dalam berprilaku dan berkehendak, namun kemampuan ini dipersempit ranahnya oleh para teolog Asyairah. Kemampuan ini tak memiliki pengaruh apa-apa dalam menciptakan sebuah aktifitas dan prilaku, dia bergantung dan butuh kepada kemampuan Tuhan. Akhirnya, kemampuan manusia kembali lagi pada kehendak dan keinginan Tuhan. Sehingga, manusia kembali menjadi boneka Tuhan yang tak memiliki kemampuan apa-apa. Dalam bahasa Kalam kemampuan yang terkekang ini dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt;. Maka tak heran golongan yang  kontra dengan Asyairah menjadikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; sebagai sasaran empuk untuk menyerang sekte ini, misalnya yang dilakukan oleh Ibnu Taymiyah dan para pemikir Mu’tazilah. Bahkan sebuah ungkapan yang cukup menggelitik berbunyi, ”keajaiban dunia ada beberapa hal, diantaranya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thifr&lt;/span&gt;nya Ibrahim Nazzham dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt;nya Asyairah”. Solusi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; yang ditawarkan oleh Asyairah memiliki beberapa kelemahan diantaranya dari segi bahasa atau terminologis itu tidak sepadan dengan penggunaan istilahnya. Sebab secara terminologis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; berarti, segala bentuk aktifitas yang yang bertendensi untuk mendatangkan sebuah manfaat atau menolak sebuah bahaya. Sehingga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; secara terminologis berindikasi akan adanya sebuah kemampuan natural yang dimiiki seseorang untuk merealisasikan keinginannya itu. Namun Asyairah tak menginginkan penjabaran secara terminologis ini, mereka membuat pengertian istilah yang berbeda jauh dengan arti bahasanya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kasb&lt;/span&gt; menurut para teolog Asyairah adalah, ”sebuah  kemampuan yang dapat dilakukan oleh pelaku namun pelaku itu tak mampu melakukannya dengan sendirinya”. Dengan kata lain bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; tak berpengaruh dalam melahirkan sebuah aksi, kemampuan manusia hanyalah membonceng terhadap kemampuan Tuhan. Jika digambarkan, manusia hanyalah kran tempat mengalirnya air, namun yang menggerakkan air itu adalah Allah. Sehingga tak heran ketika Asyairah berpendapat bahwa para penduduk surga dan neraka telah ditetapkan di zaman azal, manusia hidup digiring ke dua tempat yang telah ditentukan Allah, apakah itu di neraka ataukah di surga? Dia tak memiliki hak apa-apa untuk mengkiritik dan bertanya mengapa hal ini terjadi padanya, sebab menurut mereka ayat berbunyi bahwa, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”bahwa Allah tidak ditanyai terhadap apa yang ia perbuat dan Allah akan menanyai apa yang manusia perbuat”&lt;/span&gt;. Merupakan justifikasi kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Lebih-lebih Ibrahim Dasuqi berkata: ”Siapa yang melihat manusia dengan mata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;haqiqat&lt;/span&gt; maka mereka akan memberi maaf (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;uzur&lt;/span&gt;) terhadap (dosa) yang mereka perbuat, namun jika memandang dengan kaca mata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syariat&lt;/span&gt; maka mereka akan membenci atas (dosa) mereka”. Mungkin pendekatan psikologis perlu digunakan untuk memahami lebih dalam mengenai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasb&lt;/span&gt; Asyairah ini, sebab kebanyakan dari pemikir Asyairah adalah para kaum Sufi yang bergelut dengan dimensi kejiwaan yang berada jauh dari dunia materi, mereka banyak banyak berkecimpung dalam tataran metafisik. Namun sayangnya kita hidup dalam dunia realitas yang kejam, hanya sedikit yang mau meluangkan waktunya untuk berfantasi kedunia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruhaniyyat&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi inilah yang diberikan oleh Mu’tazilah, mereka memandang manusia dengan menggunakan pendekatan realitas yang membungkus individu dalam tataran sosial kemasyarakatan. Di mana manusia adalah seorang individu yang bertanggung jawab dalam terhadap interaksi yang digelutinya baik itu bersifat vertikal maupun horizontal. Ketika berada di depan Tuhan seorang manusia bertanggung jawab terhadap setiap perilaku yang terlahir darinya, apakah perilaku itu baik yang akan mendapatkan upah pahala dari Tuhan. Demikian juga perilaku yang ia perbuat menyimpang maka harus bersiap untuk mendapatkan konsekuensi dari Tuhan, berupa sangsi atas dosa yang ia perbuat. Tak ada surga ataupun neraka yang telah diboking, penduduk surga dan neraka akan ditentukan pada hari pembalasan nanti. Ketika aktifitas dan perilaku manusia berkaitan dengan interaksi sosial, maka seorang manusia diperhadapakan kapada nilai-nilai yang mapan dalam komunitas sosial itu. Sehingga tak ada dalih untuk manusia tak berlaku baik dari dimensi apapun yang meliputi interaksi seorang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia dalam beraktifitas telah dikaruniai oleh Allah berupa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt; (kemampuan), sehingga Mu’tazilah tak segan untuk melabelkan manusia sebagai pencipta atas perilaku yang kerjakan. Menamakan manusia sebagai khaliq (pencipta) perbuatan manusia, bukan sebuah upaya untuk mengkerdilkan posisi Tuhan dalam jagad raya ini. Akan tetapi menyucikan Tuhan dari sifat kesemena-menaan, dan kezaliman. Sebab dalam kamus Mu’tazilah, mereka tak mengenal akan sosok Tuhan yang zalim. Tuhan dalam paradigma mereka adalah perwujudan Zat Yang Maha Pengasih, Yang tak pernah melakukan sebuah upaya untuk menistai dan mensia-siakan hambanya. Bahkan Mu’tazilah meyakini bahwa segala bentuk aktifitas yang dilakukan Tuhan tak pernah lepas dari hikmah dan manfaat kepada hambanya. Baik itu bersifat musibah yang secara kasat mata merupakan sebuah mudarat kepada sang hamba, namun jika ditelisik lebih dalam, maka di dalamnya tersimpan sejuta hikmah untuk mendidik hambaNya. Unsur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt; inilah yang memiliki peran penting dalam mewujudkan perilaku manusia dari tataran ide ke sebuah realitas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qudrah&lt;/span&gt; adalah unsur yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur yang kedua yang dibekali Allah kepada seorang hamba untuk berperilaku secara bebas, adalah ilmu. Ganjaran dan sangsi yang akan diberikan oleh Allah kepada seorang hamba, dapat dikatakan adil, ketika sang hamba tahu bagaimana karakteristik perilaku dan aktifitas yang ia perbuat. Perilaku manusia dapat dihukumi jika dia memiliki pengetahuan terhadap apa yang ia kerjakan. Demikian pula terhadap dampak sebuah perbuatan baik itu positif atau negatif dari perilaku itu. Olehnya itu Tuhan telah membekali manusia dengan seperangkat alat untuk mengkonsumsi sebuah pengetahuan, diantaranya sebuah pengetahuan dasar yang bersifat aksiomatis, panca indera yang berfungsi untuk menangkap informasi mentah yang ia peroleh dari problematika yang ada di sekitarnya, dan akal untuk meramu informasi yang diterima untuk dijadikan pedoman dalam beraktifitas dalam kehidupannya. Ketika seorang hamba secara sadar dan mengetahui dampak yang akan dihasilkan oleh perilakunya, maka perilaku itulah yang bisa diberikan putusan. Apakah periku itu baik atau buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur yang ketiga dianugerahkan Allah kepada hambanya untuk beraktifitas di atas bumiNya, adalah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhtiar&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iradah&lt;/span&gt; (kebebasan untuk memilih bertindak atau tidak). Sebab jika kemampuan, dan pengetahuan terhadap dampak dari perilaku yang tidak dibarengi kebebasan dalam memilih beraksi atau tidak, tak akan bernilai apa-apa, tanpa dibarengi dengan sebuah kebebasan. Sehingga syarat sahnya suatu perbuatan untuk diadili adalah pelaku dalam aktifitasnya itu bebas untuk menentukan apakah ia ingin melakukan perbuatan itu atau tidak. Sehingga seseorang yang dalam keadaan terpaksa tidak akan dikenai sangsi dan ganjaran terhadap apa yang ia perbuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga unsur inilah yaitu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iradah&lt;/span&gt; dan ilmu adalah merupakan komposisi dasar untuk meramu aktifitas seorang manusia. Perintah dan larangan yang dibebankan Allah kepada para manusia yang ada di bumi ini, baru akan menemui nilai keadilan jika dibarengi oleh ketiga pilar utama tadi. Sebab percuma bagi Allah memberikan sebuah ganjaran terhadap ketaatan seorang hamba yang ketaatan itu merupakan buatan Allah sendiri. Demikian juga akan sangat tidak adil, jika Allah memberikan sangsi kepada seorang individu jika kemaksiatan itu merupakan paksaan dari Allah. Di sinilah kepiawain Mu’tazilah dalam mengkultuskan dan mengagungkan Tuhan. Dengan memberikan kebebasan kepada seorang hamba dalam berperilaku, dengan sendirinya akan menafikan segala bentuk kejahatan Tuhan terhadap seorang hamba. Berbeda dengan Asyirah, mereka mensucikan dan menuhankan Tuhan, dengan memberikan segala bentuk kekuasaan kepada Allah. Baik itu kekuasaan yang bersifat konotatif atau denotatif. Namun celahnya adalah ketika kekuasaan itu berbenturan dengan kemampuan manusia dalam melakukan aktifitasnya, sehingga Asyairah rela menghilangkan sifat manusiawi manusia demi menuhankan Tuhan secara absolut. Hal inilah yang ditengarai oleh Mu’tazilah, dia memberikan sifat dinamis kepada seorang manusia tanpa harus menodai kesucian Tuhan. Sehingga wajar jika pemikiran dan intepretasi Mu’tazilah lebih condong memanusiakan manusia dari pada mengkerdilkan potensi yang dimilikinya. Jadi tak ada lagi tuhan yang bengis dan kejam yang tak ditanyai terhadapa setiap aktifitas yang ia kerjakan. Tuhan dalam paradigma Mu’tazilah adalah perwujudan Zat yang memiliki hikmah yang tak bertepi. Setiap perbuatan yang kerjakan merupakan kulminasi keadilan yang tak ada lagi keadilan setelah itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dia tidak ditanyai terhadap apa yang ia kerjakan (sebab yang Ia kerjakan merupakan cerminan titik tertinggi dari sebuah keadilan), akan tetapi Allah lah yang akan mengadili tiap perbuatan manusia (sebab perbuatan mereka mengandung kezaliman dan keadilan). Laa yus`alu amma yaf’alu wa hum yus`aluun... Igfirna yaa Rabb...  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-2739846887609120002?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/2739846887609120002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/12/bermanusia-bersama-mutazilah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2739846887609120002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2739846887609120002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/12/bermanusia-bersama-mutazilah.html' title='Bermanusia Bersama Mu’tazilah'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3219216782783624012</id><published>2009-12-30T09:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T06:33:38.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Problematika Derivasi Tasawwuf</title><content type='html'>Salah satu sasaran empuk kaum orientalis Barat yang ingin menghantam dan memporak-porandakan tatanan peradaban Islam adalah tasawwuf Islam. Tasawwuf dipaksa untuk mengakui bahwa setiap komposisi yang dimilikinya adalah merupakan sebuah jiplakan dan contekan dari dunia luar Islam. Tasawwuf dianggap sebagai sebuah islamisasi dari pola hidup kaum rahib Yahudi ataukah tasawwuf merupakan kopian dari metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;suluk&lt;/span&gt; yang dimiliki oleh para pendeta Kristiani. Demikian juga tasawwuf tak lepas dari pengaruh ajaran biksu Hindu dan Budha, ataukah komposisi dasar yang dimilikinya merupakan intisari dari ajaran Neoplatonisme. Sehingga jelas, para orientalis ingin meneriakkan dengan lantang bahwa, segala hal yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang berusaha memberikan intepretasi terhadap penyakit jiwa dan memberikan solusinya dalam khazanah Islam, tak lebih dari jiplakan yang dirampok oleh umat Islam dari agama dan peradaban lain. Tak heran, ketika mereka mengatakan, segala bentuk kekayaan ilmiah Islam baik itu yang bersifat ilmu logik, kemasyarakatan-sosial, theologi, eksakta dan etika (baik itu tasawwuf dan ilmu akhlak lainnya) bukan merupakan sebuah penemuan dan produk brilian yang dihasilkan oleh peradaban Islam, melainkan sebuah islamisasi dari metode dan pola hidup bangsa-bangsa lain di luar Islam. Karakteristik umat Islam adalah bangsa yang subyektif yang menjarah peradaban lain dalam membangun peradabannya. Khususnya tasawwuf yang sering dikoar-koarkan sebagai hasil perenungan Alquran dan pola hidup Rasul, ternyata tak lebih dari sistem yang dijiplak dari ajaran agama dan kepercayaan bangsa lain!!! Seperti inilah intepretasi Noldecke, Goldziehr, Massignon dan beberapa orientalis lainnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ingin mengomentari wacana miring yang cukup memekakkan telinga itu, namun saya hanya ingin memaparkan sebuah studi tentang derivasi kalimat tasawwuf. Jika kita mampu memahami lebih dalam dari problematika derivasi ini, maka mungkin akan memberi kita sedikit benang merah yang akan memberikan kita sebuah rumusan, yaitu bangsa siapakah sebenarnya yang menjadi perampok ajaran agama lain? Peradaban manakah sebenarnya yang menzalimi peradaban lain? Umat siapakah sebenarnya yang subjektif yang mau mencuri dan menjarah metode dan pola hidup umat lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sarjanawan dan ahli sejarah berbeda pendapat mengenai derivasi kata tasawwuf ini. Historolog tasawwuf yang pertama dikenal sejarah adalah, Siraj Ath-Thusi. Dia memaparkan, bahwa pecahan kata tasawwuf berasal dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt;, yang berarti pakaian wol. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shuf&lt;/span&gt; merupakan sebuah pakaian yang menjadi ciri khas orang-orang saleh dan para ahli hikmah. Ath-Thusi memberikan sebuah alasan terhadap penisbahan tasawwuf dengan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt;. Dia menjelaskan bahwa, karakteristik dasar dari kaum sufi adalah tak terikat dengan satu jenis ciri khas tertentu. Berbeda dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muhaddis&lt;/span&gt; yaitu para ahli hadis yang bergelut dengan dunia hadis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fuqaha&lt;/span&gt; yaitu para ahli fiqih yang berkecimpung dalam ranah hukum syariah dan sosial kemasyarakatan dan beberapa contoh lain. Adalah penisbahan untuk mereka kepada salah satu jenis disiplin ilmu tertentu yang akan memudahkan untuk mengindetifikasikan spesifikasi cabang ilmu dan bidang yang mereka geluti. Hal ini jelas terlihat dari penisbahan seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muhaddis&lt;/span&gt; kepada ilmu hadis dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fuqaha&lt;/span&gt; kepada ilmu fiqih, dan sebagainya. Dengan memberikan identifikasi terhadap spesialisasi ilmu pengetahuan yang mereka geluti tentunya tak akan memberikan sebuah problematika tentang asal-muasal cabang ilmu mereka –walaupun ini juga tak lepas dari serangan orientalis Barat, misalnya fiqih dituduh sebagai perpanjangan perundang-undangan Hammuraby dsb-. Hal inilah yang berbeda pada ranah tasawwuf, dalam dunia tasawwuf seorang sufi –menurut Ath-Thusi- tak terikat dengan satu karakteristik tertentu. Dalam dunia tasawwuf terdapat penekanan pada aspek akhlak yang mereka dalami dan mereka amalkan. Sehingga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahwal&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maqamat&lt;/span&gt; kaum sufi itu akan terus berkembang dan berubah. Akibatnya akan sulit untuk memberikan identifikasi jika hanya berdasar pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahwal&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maqamat&lt;/span&gt; kaum Sufi. Sebab seorang sufi saat ini bisa dikatakan seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zahid&lt;/span&gt; namun di masa mendatang mungkin akan naik derjatnya ke&lt;span style="font-style:italic;"&gt;maqam tawakkal&lt;/span&gt;, dan akan terus berubah dan berganti untuk sampai ke suatu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maqam&lt;/span&gt; yang tertinggi, demikian juga dengan halnya. Sayangnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahwal&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maqamat&lt;/span&gt; yang merupakan ciri khas yang hanya dikaji dan digeluti oleh kaum sufi itu berubah dan terus berganti, sehingga mustahil untuk menisbahkan setiap maqam dan hal untuk dijadikan sebagai nama ilmu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah penyebab pertama mengapa seorang sufi tidak dinisbahkan kepada karakteristik ranah yang mereka geluti. Alasan yang kedua menurut Ath-Thusi, adalah seorang sufi tak terikat dengan satu jenis ilmu pengetahuan saja, bahkan seorang sufi mampu menguasai segala macam ilmu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syariat&lt;/span&gt;. Sehingga penisbahan yang pantas menurut Ath-Thusi adalah penisbahan terhadap style dan perwajahan luar yang mereka miliki. Yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; yang merupakan pakaian para nabi dan orang saleh. Selanjutnya Ath-Thusi memberikan argumentasi dari Alquran, ketika Allah menamai para pengikut nabi Isa dengan sebutan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hawariyyun&lt;/span&gt; atau pakaian putih yang mereka pakai,  permasalahannya adalah, mengapa Allah tak menamai mereka dengan jenis ilmu yang mereka geluti, ataukah dengan amalan yang mereka kerjakan? Maka hal itu juga yang terjadi pada derivasi kata tasawwuf. Dari sinilah para orientalis melancarkan serangan mereka, dengan berangkat dari sebuah tradisi memakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; yang merupakan tradisi yang diperkenalkan oleh para pengikut Nabi Isa, yang akan mengurangi orisinilitas keislaman tasawwuf. Namun hal yang cukup mengherankan, Ath-Thusi mengatakan bahwa kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; di kalangan kaum muslimin bukanlah merupakan suatu hal yang baru, akan tetapi telah ada pada zaman Arab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jahiliyyah&lt;/span&gt;! Saya tidak mengetahui mengapa Ath-Thusi perlu memberikan penekanan dalam hal ini! Apakah Ath-Thusi merasa dengan menggunakan derivasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; sebagai pecahan kata tasawwuf akan menimbulkan sebuah problematika yang cukup kontroversial dalam khazanah ilmiah Islam? Adakah golongan selain dari pendeta Kristen yang memakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; sebagai ciri khas mereka? Atau derivasi kata sufi merujuk kepada sebuah pola hidup yang memiliki sistem tertentu di kalangan suku Arab sebelum Islam? Namun yang menjadi catatan penting, sebagian besar tokoh sufi Islam berusaha menekankan bahwa pakaian dan tampilan luar yang mereka miliki bukan sebuah tolak ukur dalam dunia tasawwuf. Hasan Basri beberapa kali memarahi muridnya yang menggunakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; karena menurutnya itu adalah meniru pola hidup pendeta Nasrani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan yang kedua adalah Kalabadzi dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ta’arruf li Madzhab Ahl Tashawwuf&lt;/span&gt;. Dalam pendapatnya, dia lebih menekankan pada aspek psikologis untuk derivasi kata tasawwuf. Sehingga jelas akan menimbulkan perbedaan pendapat terhadap asal dari pecahan kata ini. Pada satu golongan menganggap, bahwa kata tasawwuf berasal dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shafa&lt;/span&gt; (suci) karena kesucian jiwa yang dimiliki oleh kaum sufi. Sebahagian lagi berpendapat bahwa seorang sufi adalah orang yang suci (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;shafa&lt;/span&gt;) &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muamalah&lt;/span&gt; atau interaksinya kepada manusia yang berdampak pada kesucian ibadah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;muamalah&lt;/span&gt;) mereka kepada Allah. Ada pula yang menganggap bahwa derivasi kata tasawwuf terambil dari golongan yang hidup di masa Nabi yang dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ahl Shuffah&lt;/span&gt;, karena pola hidup yang mereka jalani mirip dengan karakteristik dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ahl Shuffah&lt;/span&gt;, maka mereka disebut sebagai sufi. Demikian juga ada yang menganggap, bahwa sebab penanamaan sufi, karena kemuliaan dan keagungan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shaf&lt;/span&gt; (kedudukan) mereka di sisi Allah. Namun Kalabadzi menegaskan bahwa pendapat yang sesuai dengan gramatikal bahasa Arab adalah, kata sufi terambil dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol) dengan bersandar pada riwayat dari Hasan Bashri yang mengatakan, ”dia hidup bersama tujuh puluh pejuang Badar dan mereka semua memakai pakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; sebagai ciri khas mereka, dan ini juga merupakan karakteristik Ahl Shuffah”. Apa yang dapat kita petik dari pendapat Kalabadzi di atas menurut Samy Nasshar bahwa kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; tak mutlak merupakan karakteristik yang hanya dimiliki oleh para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zuhhad&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;’ubbad&lt;/span&gt; dari para sahabat Rasulullah Saw. Sehingga yang menjadi tanya besar adalah, apakah kebiasaan memakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; merupakan sebuah kebiasaan asli orang Arab yang nantinya merupakan perpanjangan dari salah satu bentuk peradaban Islam? Ataukah style para pendeta Nasrani yang menjadikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; sebagai identitas pengenal mereka telah mempengaruhi pola hidup suku-suku Arab sebelum Islam? Seberapa besar pengaruh yang diberikan trend &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; dalam membentuk pondasi tasawwuf? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Qusyairy pemilik buku yang terkenal dalam kajian tasawwuf yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ar-Risalah&lt;/span&gt;, dalam pendapatnya lantang meneriakkan bahwa kata tasawwuf tak memiliki derivasi dan pecahan asal kata (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jamid&lt;/span&gt;). Dia menjelaskan jika sekiranya kita mengambil hipotesa yang mengatakan bahwa, kata sufi terambil dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shafa`&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuffah&lt;/span&gt;, maka ini merupakan sebuah pendapat yang tak sesuai dengan gramatikal bahasa Arab yang benar. Demikian juga dengan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt;, walaupun secara gramatikal penggunaan kata ini adalah benar, namun seorang sufi tak hanya terbatas pada tampilan dan pakaian yang dimilikinya. Hal senada diutarakan oleh Ibnu Khaldun seorang sejarawan yang brilian di dunia Islam, memberikan sebuah batasan dalam menggunakan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; sebagai derivasi dari sufi. Beliau menekankan bahwa, walaupun kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; dijadikan sebagai sebuah hipotesa awal untuk pecahan kata sufi, namun perlu digaris bawahi, umumnya dengan pakaian atau penampilan yang mereka miliki itu yang akan membedakan dengan golongan yang lain yang berpenampilan trendi dan mewah. Bahkan Abu Na’im memberikan beberapa opsi yang cukup signifikan untuk derivasi kata tasawwuf. Dia memaparkan pecahan-pecahan kata yang kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai pembentuk dari kata tasawwuf dan memenuhi syarat-syarat gramatikal bahasa Arab. Diantaranya adalah; (1). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufanah&lt;/span&gt;, yaitu tumbuhan jenis kacang-kacangan yang tumbuh di padang pasir. Tumbuhan ini memiliki karakteristik kering, mampu hidup di padang pasir yang tandus dan jarang mendapatkan curahan hujan. Sehingga memiliki kesamaan dengan kaum sufi yang jarang mengindahkan hal yang bersifat dunyawi. (2). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sufah&lt;/span&gt;, yaitu suatu suku Arab jahiliyyah mengkhususkan dirinya untuk melayani para jemaah haji dan merawat Ka’bah. (3). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah faqa&lt;/span&gt;, yaitu rambut yang tumbuh di bagian akhir kepala. (4). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shuf&lt;/span&gt; , kain wol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa paparan sejarawan di atas, dapat disimpulkan, mereka meragukan kebenaran derivasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol, yang merupakan ciri khas para pendeta Nasrani) untuk kata tasawwuf. Hal ini terlihat jelas dari pendapat Siraj Ath-Thusi, Kalabadzi, Qusyairi, Ibnu Khaldun dan Abu Na’m. Intepretasi ini akan membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang cukup fantastis, yaitu, ada derivasi lain dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; yang selama ini marak dijadikan sebagai pacuan dalam studi tasawwuf. Sebelum saya memaparkan derivasi yang diterima oleh para sejarawan dan pengkaji ilmu tasawwuf, saya ingin mengomentari beberapa pendapat sejarawan yang telah saya uraikan tadi. Dalam pendapat Ath-Thusi tersirat keengganan untuk menisbahkan tasawwuf kepada kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (pakaian pendeta Nasrani). Ini terlihat dari pernyataannya yang menganggap kata shuf bukan sesuatu hal yang baru dalam dunia Arab, paling tidak tradisi menggunakan pakaian yang kasar sebagai sikap untuk menjauhi kemewahan dunia, bukanlah merupakan ajaran yang diadopsi dari ajaran luar kaum Arab. Walaupun dia berangkat dari  penjelasan bahwa kaum sufi tak terikat dengan salah satu bidang ilmu tertentu dan berujung kepada penekanannya kepada aspek &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dzahir&lt;/span&gt;, bahkan dalam menguatkan pendapatnya dia menggunakan pakaian kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hawariyyun&lt;/span&gt; sebagai argumentasi terhadap intepretasi yang dia paparkan. Namun ini tak mengurangi keabsahan derivasi sufi adalah berakar dari kebudayaan Arab yang ada pada waktu itu, sehingga dengan tersirat dia menafikan keterpengaruhan Islam oleh ajaran pendeta Nasrani. Adapun Kalabadzi, walaupun dia menggunakan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol) sebagai derivasi yang sesuai dengan gramatikal bahasa Arab, namun dia tetap menggunakan riwayat Hasan Basri sebagai alat untuk melegislasi pendapatnya, demikian juga sebagai senjata untuk menafikan pengaruh trend pendeta Kristen dalam pembentukan watak kaum sufi. Sedangkan pendapat yang diberikan oleh Qusyairy dan Ibnu Khaldun adalah jelas mereka menafikan penisbahan kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol, pakaian pendeta Kristen) untuk kata sufi dan tasawwuf. Demikian juga pada pendapat Abu Na’im terdapat sebuah upaya untuk mengkerdilkan hegemoni kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; dalam pembahasan derivasi kata tasawwuf. Ini terlihat dari upaya pemaparan beberapa kata yang dapat dijadikan sebagai derivasi tasawwuf yang memenuhi kriteria &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qa’idah&lt;/span&gt; bahasa Arab. Bukanlah pendapat yang terburu-buru jika saya mengatakan, bahwa para sejarawan Islam berusaha untuk menafikan pengaruh dan ajaran dari luar Islam sebagai pembentuk pondasi tasawwuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali kepada Siraj Ath-Thusi, dia memaparkan sebuah intepretasi yang berbeda dari beberapa pendapat yang berkaitan dengan derivasi kata tasawwuf. Ath-Thusi memaparkan sebuah riwayat yang menjelaskan, bahwa pernah ada suatu masa ketika Ka’bah tak dikunjungi oleh satupun dari peziarah dan berlangsung lama. Sampai datanglah seorang laki-laki yang berasal dari negara yang jauh yang dijuluki sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thawaf&lt;/span&gt; mengitari Ka’bah kemudian pergi. Keturunan dari sang shufah ini akhirnya menjadi tokoh terkemuka pada masyarakat Arab. Informasi yang kita dapat dari riwayat ini adalah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; merupakan sebuah kabilah atau suku pada masa Arab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jahiliyyah&lt;/span&gt;, yang ingin mengembalikan kemegahan dan keagungan Ka’bah. Dan tentunya mereka adalah bukan golongan yang memeluk agama Kristen dan Yahudi, sebab tak ada pemeluk dari kedua agama di atas yang mau menjadi pelayan di Ka’bah. Sehingga dapat kita simpulkan Ath-Thusi menguatkan yang mengatakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; merupakan derivasi yang tepat untuk kata tasawwuf. Ini ditopang oleh pendapat yang telah dipaparkan oleh Abu Na’im yang menawarkan beberapa pilihan untuk derivasi kata tasawwuf yang sesuai dengan metode gramatikal yang benar, salah satunya adalah kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; yaitu kabilah dari suku Arab. Jadi dapat kita katakan bahwa suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; memberikan pengaruh dan kontribusi yang cukup mendasar terhadap pola hidup dan pembentukan metode kaum sufi, jika benar suku ini ada. Tapi apa yang dipaparkan oleh Ath-Thusi dan Abu Nai’m, tak memberikan kita sebuah gambaran yang komperehensif mengenai identitas dan keterangan tentang suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguak tabir yang menyelemuti kemisteriusan tentang keterangan suku ini, Ibnu Jauzy dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Talbis Iblis&lt;/span&gt; memberikan kepada kita sebuah informasi yang sangat berharga untuk dijadikan rujukan dalam menguak dan menggali lebih intensif mengenai asal-muasal suku ini. Ibnu Jauzi menegaskan bahwa, seorang yang berasal dari Yaman bernama Ghauts bin Mura adalah orang yang pertama kali dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt;, dia digelari seperti itu karena dialah satu-satunya orang yang melayani Ka’bah, dan amal bakti ini dilanjutkan oleh keturunan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt; dalam melayani para peziarah yang melakukan ibadah di Mesjid Haram. Bahkan gelar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; tak hanya terbatas pada keturunan Ghauts bin Mura, akan tetapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; berkembang menjadi sebuah kelompok yang mengkhususkan diri untuk menjadi pelayan Allah di Ka’bah, walaupun mereka bukan keturunan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt;. Adapun sebab penamaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufah&lt;/span&gt; terhadap Ghauts, karena ibunya tak pernah memiliki anak yang hidup setelah mereka dilahirkan. Hal ini membuat sang bunda untuk bernazar, apabila ada seorang anaknya yang lahir maka dia akan menggantungkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol) di kepalanya dan menjadikannya sebagai pelayan yang bekerja kepada Allah. Shuf yang tergantung di kepalanya adalah sebagai sebuah tanda bahwa anak ini merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qurban&lt;/span&gt; yang diberikan unyuk Allah, seperti analogi hewan kurban yang diikat ketika ingin disembelih. Tradisi yang menjadikan anak laki-laki sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qurban&lt;/span&gt; dan pelayan Allah berakar dari peristiwa penyembelihan nabi Ismail, yang dikenal sebagai kurban Allah, demikian juga tradisi melayani para peziarah Allah yang mengunjungi Rumah Allah di Mekah, berpangkal dari ajaran nabi Ibrahim dan anaknya nabi Ismail. Sehingga dapat kita simpulkan, walaupun secara formal istilah tasawwuf terambil dari kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; yang menggiring kita kepada ajaran pendeta Nasrani, akan tetapi dari segi filosofis dan substansinya dia memiliki akar tradisi yang orisinil dari ajaran nabi Ibrahim dan nabi Ismail!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Jauzy tak sendiri dalam intepretasinya itu, bahkan pendapatnya itu ditopang oleh fakta sejarah yang dibeberkan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirahnya. Demikian juga dia mendapatkan dukungan secara tersirat dari apa yang dipaparkan oleh Ath-Thusi dan Abu Na’im,dan Samy Nasshar menegaskan bahwa keterangan mengenai suku ini terekam dalam buku-buku sejarah baik itu dalam buku sejarahnya Thabari atau Ibnu Kalaby. Bahkan yang cukup menggembirakan Kamil Asy-Syaiby mengemukakan beberapa nama-nama yang berasal dari suku ini yang digelari sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt;, baik itu yang terus melanjutkan tradisi suku mereka yang menjadi pelayan di Ka’bah atau tidak. Paparan yang diberikan oleh Kamil Asy-Syaiby ini mengindikasikan bahwa penduduk suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt; berpencar dan tak hanya berdiam diri di sekitar Ka’bah. Jika paparan yang berikan oleh Kamil Asy-Syaibi benar, maka akan memberikan sebuah solusi atas permasalahan yang menyelemuti gelar Jabir bin Hayyan. Sebab Jabir bin Hayyan seorang yang di gelar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt; tapi yang cukup mencengangkan bahwa tokoh misterius satu ini hidup di abad kedua, sedangkan gelar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt; itu baru marak pada awal abad ketiga. Hal inilah yang menimbulkan keraguan seputar keberadaan tokoh ini, bahkan ada yang menganggapnya sebagai sebuah tokoh fiktif. Tapi dengan berdasar dengan keberadaan suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt; dapatlah kita mengatakan bahwa Jabir bin Hayyan salah satu keturunan dan penduduk suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt;! Kasus yang serupa juga melanda pribadi Abu Hasyim, dalam beberapa sumber dia dikenal sebagai orang yang pertama digelari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt;, tapi permasalahannya istilah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt; yang digunakan untuk merujuk kepada kaum sufi yang memiliki metode dan pola hidup yang berbeda dengan masyarakat awam pada masa Abu Hasyim itu belum ada! Apakah dia termasuk salah satu anggota suku Shufah? Namun sayangnya saya tak bisa melacak keberadaan buku Kamil Asy-Syaiby. Tapi hal ini tak akan mempengaruhi validitas data yang saya uraikan, salah satu buktinya adalah Hasan Bashri pernah melihat salah seorang yang berasal dari suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt; (dalam redaksi teksnya tertera &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shufy&lt;/span&gt;) yang bertawaf di sekitar Ka’bah, kemudian dia memberinya sedikit makanan, namun dia menolak karena masih mempunyai bekal sebesar empat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dawaniq&lt;/span&gt;. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa keberadaan tentang suku ini benar-benar nyata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan dari studi pemaparan mengenai derivasi kata tasawwuf ini, adalah kata yang paling pas dan memenuhi kriteria gramatikal bahasa Arab yaitu kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; (wol). Namun bukan pakaian atau tradisi yang digunakan oleh para pendeta Nasrani! Melainkan sebuah shuf (wol) yang ada di kepala Ghauts bin Mura, sebagai tanda bahwa dia adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qurban&lt;/span&gt; dan pelayan Allah. Shuf yang tergantung pada kepala Ghauts inilah yang nantinya akan menjadi nama bagi anak dan keturunan Ghauts, yang dikenal sebagai suku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shufah&lt;/span&gt;. Bahkan seorang yang digelari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sufy&lt;/span&gt; pada zaman Arab jahiliyyah tak hanya terbatas pada keturunan dan anggota suku Shufah, akan tetapi sufi berkembang menjadi gelar bagi setiap person yang mau menjadi pelayan Allah di mesjid Haram. Sebagai upaya untuk mengikuti sunnah nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Sehingga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shuf&lt;/span&gt; bukan merupakan jarahan dari ajaran dan agama lain, akan tetapi kata ini memiliki akar tradisi yang memiliki orisinilitas yang valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhanaka laa ’ilma lanaa illa ma ’allamtana innaka antal aliimul hakiim...&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3219216782783624012?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3219216782783624012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/12/problematika-derivasi-tasawwuf.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3219216782783624012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3219216782783624012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/12/problematika-derivasi-tasawwuf.html' title='Problematika Derivasi Tasawwuf'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4160280420384882068</id><published>2009-11-17T08:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T06:33:38.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Tuhan Yang Kesepian</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya hanya orang yang berimanlah yang hatinya bergetar ketika nama Allah disebutkan dan kepada Allah mereka bertawakkal…&lt;/span&gt; (QS:Al-Anfal:02)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Titik kulminasi spiritual tertinggi seorang hamba adalah ketika dia mampu mengecap kelezatan akan indahnya bermunajat dengan Tuhannya. Ketika seorang pencari Tuhan mampu bercengkrama dengan intim bersama Kekasihnya. Ketika dia mampu melepaskan semua cintanya, dan menghadiahkan seluruh cinta itu kepada Pencipta cinta itu sendiri. Ketika setiap ucapan yang mengalir dari lisannya, seluruh gerak yang tercipta dari tubuhnya, semua nafas yang terhembuskan, semuanya adalah simfoni tasbih untuk memuja kebesaran Tuhannya. Maka saat itu dia akan terhanyut dalam kelezatan spiritual yang hebat. Saat itu dia terbakar oleh api keagungan Tuhan yang menderanya. Kala itu dia akan merasakan kenikmatan yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, tak pernah terlintas dalam pikiran dan tak pernah terbersit di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Kenikmatan ini merupakan sebuah absolusitas yang pasti akan dikecap oleh seorang hamba. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Ketahuilah dengan mengingat Allah, akan menenangkan hati”&lt;/span&gt;, merupakan hal yang telah dijanjikan Allah dalam Alquran. Tuhan telah menyebar undangan pesta zikir kepada seluruh penduduk bumi. Allah telah mengutus sang Jibril dan Muhammad untuk menebar undangan itu. Sebuah jamuan yang dihidangkan kepada setiap hamba yang lapar akan keindahan, yang dahaga terhadap ketenangan. Dia telah mempersiapkan sebuah hidangan zikir yang lezat untuk disantap bagi pecandu Tuhan. Dia telah menata tiap sudut surga untuk menjadi tempat tinggal para kekasihNya, dan kenikmatan yang terbesar yang akan diraih oleh para hambaNya, ketika Sang Tuhan membuka hijab yang menyelimuti keindahannya. Dia ber&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tajalli&lt;/span&gt; kepada hambaNya, kala itu merupakan moment yang paling dinanti oleh para pencariNya. Betapa tidak, selama mereka bercinta denganNya, mereka hanya membaca ‘surat-suratNya’, mereka hanya mampu menyebut-nyebut keindahanNya, keaguangan yang Dia miliki selama ini hanyalah tergambar dari balik tirai ciptaanNya, kebesaranNya yang selama ini menggema hanya terdengar dari untaian tasbih yang dilantunkan oleh penduduk semesta. Kini sang hamba itu melihat Sang Kekasih yang lama bersembunyi dengan mata hatinya. Sang hamba tak mampu melukiskan betapa indah dan agung zat Tuhannya itu, sebab, perasaan yang terbatas tak mampu untuk menggambarkan keagunganNya yang tak terbatas. Yang dia tahu, bahwa setiap sel dari tubuhnya semuanya terjerembab larut dalam kelezatan memuja Tuhan yang tak bertepi. Setiap nafas yang berhembus, setiap darah yang mengalir, setiap helai rambut yang bergoyang, semuanya refleks untuk bersujud dihadapan Sang Maha Indah. Dia menyesal kenapa tidak sejak dahulu dia menyerahkan setiap kepingan hidupnya untuk Penciptanya… Inilah jamuan Tuhan yang Dia persiapkan di Kehidupan yang kedua nanti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di bumi, Allah tak lelah untuk mengajak hambaNya untuk hidup dalam tatanan keindahan yang telah diaturNya. Dengan perantara Muhammad, Dia memerintahkan kepada pesuruhnya itu untuk tak membatasi para pencari Tuhan yang akan menaiki bahtera yang akan berlayar menuju &lt;span style="font-style:italic;"&gt;arasy&lt;/span&gt;Nya. Dia memberikan tumpangan cuma-cuma kepada setiap hamba yang ingin bertemu denganNya. Dia bahkan tertawa kegirangan ketika ada hamba yang dulunya bergelimang dalam kubangan maksiat dan berusaha untuk membenci Penciptanya, kini dia bertobat kepadaNya dan menaiki bahtera yang mengantarnya nanti kepada Allah Yang Agung. Dia sangat gembira dengan hal itu, bahkan kegembiraan itu mengalahkan kegambiraan sang ibu yang telah kehilangan anaknya bertahun-tahun, hingga akhirnya sang ibu kembali menemukan anaknya yang hilang itu. Kegembiraan Tuhan yang kedatangan hamba yang mau bertobat kepadaNya melebihi kegembiraan sang ibu tadi. Allah saat ini benar-benar memanggil setiap hambaNya untuk beranjak menuju kepadanya, Dia datang mengetuk tiap pintu hati hambanya agar mau mengenal Dia lebih dekat, ketika sang hamba bertanya tentang Dia maka Dia dekat, Dia ada ketika mereka meminta, Dia ada dalam tiap detak jantungnya, Dia ada dalam tiap detik kehidupannya. Dia betul-betul menunggu hambaNya… Namun jamuan Tuhan sepi dengan pengunjung. Sangat sedikit hati yang mau terbetik untuk menyelami keindahanNya. Sangat sedikit mata yang mau berjaga diwaktu malam untuk menangis kepadaNya. Sangat sedikit lisan yang basah dengan mengagungkan kebesaranNya. Sangat sedikit tangan yang mau memberi demi ungkapan atas kepemurahan dan seberkas kasihNya. Sangat sedikit kaki yang mau melangkah mencari setitik keridhoanNya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tuhan sepi terhadap hamba yang mau menangis karena takut kepadanya. Tak ada lagi bekas tangis yang menghitam di bawah pelupuk mata, seperti bekas yang ada pada pelupuk mata Umar Bin Khattab akibat menangis karena takut kepada Allah. Tuhan sepi dari hati yang mau terbakar akibat takut terhadap siksa nerakanya. Tak ada lagi muka yang melebam, meringis ketakutan seperti wajah yang diperlihatkan Sofyan Atsaury karena takut akan neraka. Tuhan sepi dari jiwa-jiwa yang mau berusaha untuk mencapai keridhoanNya. Tak ada lagi tubuh yang seperti Abu Muhammad Al-Jariry, yang setahun dia tak pernah tidur malam, tak pernah merebahkan tubuhnya untuk berehat, tak pernah meluruskan kakinya, karena kesibukan beribadah kepada Allah. Tuhan sepi dari hamba yang mau menghargai setiap detik dari kehidupannya untuk bersiap menerima jamuan Tuhan di Hari Esok kelak. Tak ada lagi manusia yang seperti Daud Ath-Thai, yang tak mau meluangkan sedikit waktunya untuk mencukur jenggotnya akibat takut menghabiskan detik waktunya yang berharga. Tuhan sepi dari hamba yang mau mengajaknya bercengkarama di waktu malam, ketika para manusia terlena akan kenikmatan tidur. Tak ada lagi reinkarnasi Rabi’ah Adawiyah, yang mengajak Tuhan bermesraan di waktu malam. Dia berkata kepada Tuhannya, “malam ini setiap manusia bersama dengan tiap kekasihnya, maka Engkau adalah perhiasan cintaku, izinkan bibir ini memujamu, tubuh ini menyembahmu, sebab engkau adalah lentera kasihku”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tuhan benar-benar sepi dari hamba yang seperti itu… hamba yang tiap gerak, perkataan dan pikirannya adalah ritme dari lantunan simfoni tasbih yang ia persembahkan kepada Penciptanya. Hamba yang tiap tangis yang membasahi di pelupuk matanya mengalir membasahi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;arasy&lt;/span&gt; Tuhan karena rindu dan takut kepadaNya. Tuhan benar-benar sepi dari hamba yang seperti ini… adakah yang mau berbagi kebersamaan dengan Tuhan..? Adakah yang mau melepaskan dari kekangan syahwat duniawi demi mendapatkan kenikmatan yang maha kekal di Akhirat sana..? Adakah yang mau mengorbankan sepertiga dari waktu tidurnya seraya menemani Tuhan di waktu malam..? Adakah yang ingin membeli ridho Tuhan dengan seonggok harta yang dikaruniakan Tuhan kepadanya..?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Semoga kesepianMu tak berlangsung lama Ya Allah…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt; Rabbana laa tuakhizna in nasina au akhta`na… Rabbana zhalamna anfusana fa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasiriin...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ampuni hambamu yang tak pernah memberikan setiap hakMu yang ada padaku, ampuni aku yang tak menyembah dengan sebenar-benarnya…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4160280420384882068?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4160280420384882068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/11/tuhan-yang-kesepian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4160280420384882068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4160280420384882068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/11/tuhan-yang-kesepian.html' title='Tuhan Yang Kesepian'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-594067448722327079</id><published>2009-11-17T08:05:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T06:33:38.002-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Fenomena Tsaqifah Bani Sa’ad</title><content type='html'>Berbicara mengenai pembetukan sekte-sekte Islam, bagaikan menyusun kepingan-kepingan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;puzzle&lt;/span&gt; dan merangkainya untuk melahirkan sebuah gambar yang komperehensif. Historisasi terhadap sekte-sekte Islam bagaikan merangkai kepingan-kepingan sejarah dan menempatkan setiap fakta-fakta yang telah dikritisi secara sehat, serta menganalisa dengan argumentasi yang higienis, akan mengantarkan kita kepada sebuah interpretasi yang obyektif. Namun perlu disadari bahwa penyejarahan tak akan pernah lepas dari jeratan emosi yang subjektif dan kekangan doktrin yang dogmatis. Namun itu semua akan mewarnai sebuah lukisan sejarah yang terukir di masa silam. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Salah satu kepingan yang tak pernah lepas dari pembentukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;puzzle&lt;/span&gt; sejarah, adalah dimensi politik yang mencoraki sebuah sistem dan lingkup peristiwa sejarah. Tak terkecuali dalam penyejarahan Islam. Politik memiliki peran vital dalam upaya karakterisasi wahana pikir umat Islam. Politik telah memberikan warna dalam lukisan peradaban Islam, baik itu ’hitam’ atau ’putih’. Bahkan mayoritas umat Islam lebih memperkarakan siapa yang pantas menjadi pemimpin, dari pada membahas kesepakatan makna dari ’tujuh huruf’ Alquran. Umat ini lebih banyak berselisih tentang metode pemilihan pemimpin dari pada men&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jahar&lt;/span&gt;kan atau men&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sir&lt;/span&gt;kan bacaan basmalah. Bahkan perselisihan pertama yang terjadi dikalangan umat Islam bukan berkaitan dengan metode ’semayamnya’ Allah di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;arasy&lt;/span&gt;, akan tetapi perbedaan antara kaum Muhajirin dan Ansar terhadap siapa yang lebih pantas untuk jadi pengganti sang Nabi. Lebih lagi yang menggelitik dari pertikaian Tsaqifah ini, terjadi ketika jasad baginda Nabi belum terkubur. Dari pertikaian yang terjadi di Bani Tsaqifah ini merupakan salah satu cikal bakal heterogenitas paradigma yang lahir dari berbagai sekte dalam Islam.&lt;br /&gt; Bukan itu saja, pertikaian yang terjadi di Tsaqifah telah memantik ajaran serta penafsiran yang cukup menjadi perhatian dan titik tumpu dalam membangun sejarah peradaban Islam. Di mata Syiah yang radikal, fenomena yang terjadi di Tsaqifah merupakan salah bukti adanya konspirasi Umar dan Abu Bakar dalam melucuti wasiat kepemimpinan Ali yang diserahkan oleh Nabi! Demikian pula jargon &lt;span style="font-style:italic;"&gt;a`immah min Quraisy&lt;/span&gt; mendapat legislasinya disini. Bahkan menurut Muhammad Imarah, jargon ini bukan merupakan sebuah hadis, akan tetapi ini lebih bersifat kepada fanatisme kesukuan kaum Quraisy untuk membungkam mulut kaum Ansar. Sehingga pandangan keliru yang mengatakan, dengan didengungkannya ungkapan ini kaum Ansar bungkam. Tidak, sebab Sa’ad bin ’Ubadah tak pernah mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Jikalau ungkapan ini adalah hadis, maka jargon ini menjadi senjata ampuh untuk mematikan hasrat politik dari pemimpin kaum Ansar ini! Demikian juga ketika Ibnu Abbas bernegoisasi bersama kaum Khawarij yang telah mengangkat seorang pemimpinnya yaitu Abdul Wahab Rasiby, jika ungkapan ini adalah hadis Nabi, maka untuk melumpuhkan nafsu politk mereka cukup menggunakan hadis ini. Sebab, kebanyakan dari mereka adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qurra’&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt; Fenomena Tsaqifah juga memiliki nilai yang penting dimata Ahlussunnah. Sebab, dalam paradigma mereka, pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah terjadi berdasarkan kesepakatan yang disetujui oleh semua kaum muslimin waktu itu (baca: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijma’&lt;/span&gt;). Paradigma ini akan menjadi sebuah benteng pertahanan yang melindungi akidah mereka dari serangan kaum Syi’ah radikal. Sebab dengan terpilihnya Abu Bakar bedasarkan kesepakatan kaum muslimin waktu itu, akan menafikan adanya sistem wasiat kepemimpinan yang dianut oleh kaum Syi’ah. Ataukah sebuah ’warisan jabatan’ yang dijadikan alat kampanye oleh sekte Rawandiyah –sekte dalam Islam yang mengusung kepemimpinan anak cucu Abbas, paman Nabi-, untuk melegitimasi kekhilafahan Abbasiyah. Namun yang perlu menjadi catatan penting disini adalah, Ahlussunnah terlalu terburu-buru mendongkrak sebuah wacana menjadi sebuah nilai aksiomatis. Sebab, pengangkatan (baca: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bai’at&lt;/span&gt;) Abu Bakar  tidak serta merta mendapat persetujuan dari kaum Musimin waktu itu. Ada beberapa nama yang tidak ikut membaiat Abu Bakar, diantaranya; Sa’ad bin Ubadah (pemimpin kaum Ansar yang tak diragukan keimanannya, dan salah satu sahabat Nabi yang mendapat jaminan surga), Ali bin Abi Thalib –namun dia memba’iat setelah meninggalnya Fatimah-, Zubair bin Awwam (salah satu sahabat yang mendapat jaminan surga), Abu Dzar, Hudzaifah Al-Yamany (yang dijuluki pemegang rahasia Nabi), Miqdad, serta beberapa lainnya dari klan Hasyim dan Umayyah yang memiliki hubungan darah dengan Hasyim. Lebih tepat prosesi pengangkatan Abu Bakar terjadi secara aklamasi (ikhtiyar) dari kaum muslimin waktu itu. Hal inilah yang dikomentari oleh Al-Jahizh, salah satu tokoh Muktazilah yang brilian. Dia mengatakan: ”Kesepakatan semua manusia terhadap satu fenomena merupakan sesuatu yang mustahil. Namun apabila umat telah sepakat untuk taat kepada seorang pemimpin, dengan suka cita dan tanpa adanya penipuan. Maka, keengganan dari seorang person atau lebih, tidak akan merusak konstitusi yang ada”. Hal serupa juga diutarakan oleh Al-Juwainy, guru imam Ghazali.&lt;br /&gt; Bertolak dari Tsaqifah jugalah, sehingga rezim Umayyah melihat bahwa kepemimpinan Arab harus kembali ketangan mereka. Sebab mereka dulunya adalah pemimpin yang disegani di Arab, namun ketika Islam datang, darah kepemimpinan yang mengalir dalam suku mereka meredup. Sehingga untuk membangkitkan adrenalin kekratonan mereka, diperlukan sebuah pemembangunan sebuah strategi untuk mendukung kepemimpinan dari suku Quraisy, dan itu berawal dari Tsaqifah. Ketika perdebatan alot antara Abu Bakar dan Kaum Ansar. Berkaitan dengan kepemimpinan dan kekuasan kaum Quraisy terhadap negeri Arab dan Islam. Bahkan saking alotnya perdebatan mereka yang tak kunjung menemukan benang merah, maka kaum Ansar menawarkan sebuah opsi. Yaitu sistem kepemimpinan yang bergilir, setelah satu dari kaum Muhajirin, yang nota bene kaum Quraisy menjadi khalifah, maka khalifah selanjutnya berasal dari kaum Ansar. Namun itu ditolak oleh Abu Bakar, dan hampir membuat Habab bin Mundzir mengusir kaum Muhajirin dari Madinah, namun dihalangi oleh Umar. Bahkan Umar mengancam bahwa orang Arab tak akan sudi ketika Nabi mereka dari Quraish dan penggantinya bukan dari Quraisy. Hal ini pulalah yang membuat Sa’ad bin Ubadah tak lagi salat bersama kaum muslimin yang ada di Madinah, dan terus berlangsung sampai dia mati dibunuh di Syam.&lt;br /&gt; Sehingga tak heran ketika peristiwa Tsaqifah merupakan awal dari terjadinya perbedaan dikalangan kaum muslimin waktu itu. Bahkan sejarawan Islam memulai pembahasan mereka dari sini. Seperti yang dilakukan oleh Syahrastani dalam Milal wa Nihalnya, Baghdady dalam Farqu bain Firaqnya, dan Asy’ari dalam Maqalatnya. Namun sayangnya perbedaan ini tak dijadikan sebagai keanekaragaman corak berpikir kaum muslimin waktu itu. Justru lebih ironis lagi perbedaan inilah yang nantinya menjadi gap diantara kaum Sunni dan Syi’ah. Tidakkah sepatutnya perbedaan ini cuman sebagai heterogenitas interpretasi, jika salah mendapat satu pahala, jika benar mendapat dua pahala?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-594067448722327079?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/594067448722327079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/11/fenomena-tsaqifah-bani-saad.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/594067448722327079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/594067448722327079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/11/fenomena-tsaqifah-bani-saad.html' title='Fenomena Tsaqifah Bani Sa’ad'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4141978623087755384</id><published>2009-06-14T17:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T17:12:05.602-07:00</updated><title type='text'>ashabul kahfi</title><content type='html'>andai ku seperti ashabul kahfi....&lt;br /&gt;para pemuda yang mampu mempertahankan idealisme ukhrawi ditengah hiruk-pikuk matrealisme duniawi...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;para pemuda yang mampu berdiri di tengah derasnya pergolakan keserakahan nafsu...&lt;br /&gt;para pemuda yang dengan gagah berdiri tegap , sementara di sekelilinganya para manusia menjadi serigala pelahap sesamanya...&lt;br /&gt;para pemuda yang mampu mempertahankan identitas, sementara identitas itu tengah terelemenisasi oleh sebuah nilai yang katanya mengglobal...??&lt;br /&gt;global... bukankah globalisasi merupakan istilah kaum "wahh" yang ingin memarginalkan eksitensi kaum 'kecut' yang tersisihkan dari perkembangan duniawi..&lt;br /&gt;saya bukan orang lain maka saya ada...saya tidak terwesternisasi.. maka saya ada... sebuah cogito terbalik demi meneriakkan eksitensi mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ashabul kahfi...kau adalah ketegaran ketika pergesaran nilai menjadi marak, kau adalah cahaya meredup yang di tiup oleh angin syahwat...kau adalah harapan yang hampir lapuk di tengah kegelisahan yang mencekam di pucuk telinga, raungan ketegaran yang lantang ketika gauman kegundahan menyesakkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rabbana aatina min ladunka rahmah wa hayyi lana min amrina rasyada...&lt;br /&gt;amiin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4141978623087755384?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4141978623087755384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/andai-ku-seperti-ashabul-kahfi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4141978623087755384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4141978623087755384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/andai-ku-seperti-ashabul-kahfi.html' title='ashabul kahfi'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4729284147120563257</id><published>2009-06-14T16:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T16:59:58.321-07:00</updated><title type='text'>Problematika Nubuwwah dalam Persepsi Farrabi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semenjak manusia pertama diutus ke muka bumi ini, mereka telah berusaha berinteraksi dengan alam raya ini, dengan keindahan, keagungan serta keteraturannya. Namun setiap kali manusia menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang membetik di benak mereka, mereka kembali terjatuh ke dalam jurang pertanyaan yang berbeda. Mereka berusaha menggali interaksi antara Tuhan Yang Maha Mutlaq dengan alam ini yang bersifat relatif dan berubah. Dengan kata lain, manusia berusaha menemukan jawaban antara hubungan Tuhan yang Absolut, Mutlak dan Kekal, dengan alam yang berubah, sementara dan baharu. Beberapa filosof berusaha memberikan jawaban terhadap problematika ini, diantaranya, hubungan kausalitas dengan menempatkan Tuhan sebagai sebab dan alam sebagai akibat. Ataukah dengan menggunakan teori emanasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(faidh)&lt;/span&gt; yang berusaha meminimalisir aktifitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qadim&lt;/span&gt; (Tuhan) dalam interaksinya dengan yang hadits (makhluk).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian besar teori di atas mendapatkan bantahan dari lawan mereka. Terutama pada teori emanasi yang diadopsi oleh Farraby dengan menggabungkan ajaran filsafat Aristoteles, teori astronomi Batlimus dan ajaran Neo platonisme . Teori ini mendapatkan bantahan yang sangat tajam dari ulama Islam, bukan hanya dari lawan Farraby, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mutakallimin&lt;/span&gt;, teori ini juga tak diterima di kalangan filosof muslim di antaranya Ibnu Rusyd dan Abu Barakaat Baghdady . Demikian juga menurut Gazaly, bahwa teori emanasi telah mereduksi kemampuan Tuhan dalam berkreasi yang hanya terbatas pada aktifitas berfikir terhadap diriNya sendiri, dan hanya mampu melahirkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal&lt;/span&gt; pertama. Sehingga konsekuensinya akan berujung kepada kemampuan Tuhan yang terbatas. Sedangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal&lt;/span&gt; kedua, ketiga dan seterusnya mampu melebihi kemampuan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, berdasar dari teori ini, Farraby melahirkan karyanya yang cukup mendapatkan perhatian dari kalangan sarjanawan muslim dari masa ke masa, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Araa Ahlu Madinah Fadhilah'&lt;/span&gt;. Dari sini kita akan berkenalan dengan pemikiran Farraby yang cukup fenomenal yang lebih condong kepada sebuah nilai idealis dan fantatis dari pada hal yang realisitis dan aplikatif . Dari buku ini, Farraby berusaha membentuk sebuah masyarakat yang idealis, masyarakat yang memiliki pemimpin yang mampu berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alam malakut&lt;/span&gt; melalui perantara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal  fa’al&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aqal&lt;/span&gt; inilah yang menjadi perantara Tuhan yang Qadim dengan alam yang hadis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aqal&lt;/span&gt; ini merupakan aqal yang kesepuluh dalam susunan ‘uqul asyarah pada teori emanasi Farraby. Dalam istilah religius &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal&lt;/span&gt; ini dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruh quds&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruh amin&lt;/span&gt;. Farraby menempatkan pemimpin negaranya sebagai manusia yang memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan problematika yang ada dan mendapatkan bantuan dari langit (baca: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal fa’al&lt;/span&gt;). Berangkat dari teori emanasi yang cukup menggemparkan sampai kepada problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt; yang sensasional merupakan sebuah respon terhadap ajaran-ajaran atheis dalam dunia Islam yang ditumbuh suburkan oleh Ibnu Rawandy dan Abu Bakar Razy. Sebab tumbuhnya  benih atheisme dalam Islam, tidak lahir dengan keberadaan ungkapan semisal Nieztche, yang lantang mengatakan bahwa, “Tuhan telah mati” atau ungkapan kaum pagan Yunani kuno yang menyerukan bahwa, “para dewa telah mati”. Akan tetapi benih atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan lantang mengatakan bahwa, ”paradigma kenabian telah mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farraby adalah orang pertama yang menginterpretasikan problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt; dalam kerangka filsafat . Dia berusaha menjawab tantangan yang diteriakkan oleh Ibnu Rawandy, Abu Bakar Razy dan golongan zindiq, yang menilai kenabian merupakan sebuah dongeng yang tak masuk akal. Demikian juga, berdasar kepada keinginan untuk membentuk sebuah masyarakat yang ideal, tentunya harus memiliki pemimpin yang bijaksana dalam setiap keputusannya dan cermat dalam menanggapi masalah yang ada. Tentunya kebijaksanaan dan kecermatan itu tak dimiliki oleh tiap manusia, dan hanya dimiliki oleh manusia yang memiliki dua syarat yaitu; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(a)&lt;/span&gt;. fithrah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(b)&lt;/span&gt; insting dalam memimpin . Ketika seorang manusia memiliki dua syarat ini, maka dengan mudah untuknya berhubungan dengan alam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malakut&lt;/span&gt; dengan perantara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal fa’al&lt;/span&gt;. Dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqal fa’al&lt;/span&gt; inilah sang pemimpin negara ideal, mendapatkan wahyu dari Allah . Sehingga berujung kepada bahwa wahyu serta kenabian bukan hal yang sakral lagi, bahkan kenabian dan wahyu dari Tuhan mampu diperoleh dengan mengoptimalisasikan serta memaksimalkan kemampuan akal manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah ini, kami akan berusaha memaparkan persepsi Farraby dalam menyikapi problematika kenabian. Namun sebelum mengupas lebih lanjut tentang masalah ini ada baiknya jika kita berkenalan lebih dekat dengan filosof kita yang satu ini. Agar tak mudah untuk menghukumi beliau dengan cercaan atau dengan tudingan yang tak pantas kepada beliau. Saran dan kritik merupakan tujuan kami dalam penulisan makalah ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4729284147120563257?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4729284147120563257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/problematika-nubuwwah-dalam-persepsi_14.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4729284147120563257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4729284147120563257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/problematika-nubuwwah-dalam-persepsi_14.html' title='Problematika Nubuwwah dalam Persepsi Farrabi'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-1218299036692313996</id><published>2009-06-14T16:55:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T16:57:58.607-07:00</updated><title type='text'>b. Farraby dan Madinah Fadhilah</title><content type='html'>Dia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharakhan. Farraby merupakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nisbah&lt;/span&gt; dari wilayah di Turki yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘Farrab’&lt;/span&gt; . Sebahagian besar para historolog sepakat bahwa Farraby berasal dari Turki, kecuali Ibn Abi Ashibia’ah dalam kitabnya ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thabaqat Athibba`’&lt;/span&gt; berpendapat bahwa, ”bapak Farraby berasal dari Persia, selanjutnya menikahi seorang wanita Turki dan menjadi panglima perang di Turki”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Farraby berumur delapan puluh tahun dan tak diketahui tahun kelahirannya, namun dia wafat pada tahun 335 H. bertepatan pada bulan Desember tahun 950 M. Sehingga kita mampu memperkirakan bahwa beliau lahir pada tahun 260 H  atau tahun 870 M. Sebagian besar dari kehidupan masa kecil Farraby tak direkam oleh sejarah. Namun yang pasti dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan, sebab ayahnya adalah seorang panglima perang di Turki. Dia pernah menjadi seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadhi&lt;/span&gt; ketika darah mudanya masih deras mengalir di dalam tubuhnya. Tapi semuanya itu akhirnya dia tinggalkan demi mencari kesenangan dan kenikmatan yang lebih kekal dan menjalani kehidupan sebagai seorang&lt;span style="font-style:italic;"&gt; sufi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendekati umurnya yang keempat puluh, Farraby memulai menjalani kehidupan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sufi&lt;/span&gt;. Dia memilih untuk meninggalkan kenikmatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syahwani&lt;/span&gt; dalam kehidupan dunia ini, dan memilih untuk bercengkrama dengan keindahan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tafakkur&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`ammul&lt;/span&gt;. Akhirnya dia menjadi raja di dunia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tafakkur&lt;/span&gt;, meskipun dalam tataran dunia materil dia terbuang. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dia mendapat nafkah dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khalifah&lt;/span&gt; Saif Daulah, hanya sebesar empat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dirham&lt;/span&gt; perak tiap hari. Dia adalah sosok yang tak mengacuhkan penampilan luarnya baik itu pakaian dan tempat tinggalnya. Ketika malam hari dia keluar menuju posko keamanan negara untuk menumpang lampu yang ada di posko itu, di tempat itulah Farraby belajar, menelaah dan mencermati buku-buku filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sejarawan sepakat, bahwa Farraby berguru pada seorang Kristiani yang bernama Yohanes bin Hailan, yang semasa dengan Ibrahim Maruzy. Ibrahim ini memiliki murid yang bernama Abu Basyar Matius yang semasa dengan Farraby. Mereka berdualah yang aktif menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani, baik itu buku Aristoteles, Parmenedes, ataukah buku lainnya. Dari sini kita akan mendapati seorang Farraby yang menguasai beberapa bahasa asing. Bahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qadhi&lt;/span&gt; Sha’id mengatakan bahwa dia menguasai seluruh bahasa di dunia ini . Namun pastinya dia menguasai beberapa bahasa asing, diantaranya; bahasa Arab, Turki, Persia , dan tentunya dapat disimpulkan juga dia menguasai bahasa Yunani dan Suryani. Sehingga kemampuan berbahasa inilah membuat Farraby mampu menerjemahkan beberapa kitab filsafat Yunani, akhirnya dia digelar sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘mu’allim tsani’&lt;/span&gt;. Bahkan Ibnu Sina sendiri mengakui bahwa dia tak mampu memahami buku Aristoteles ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ma ba’da thabi’ah’&lt;/span&gt;, yang memaksa Ibnu Sina untuk mengulangi membaca buku sampai empat puluh kali. Tapi dia tak paham jua, hal ini sempat membuat Ibnu Sina berputus asa, sampai akhirnya dia tak sengaja menemukan buku Farraby &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aghradh ma ba’da thabi’ah’&lt;/span&gt;. Ketika itu Ibnu Sina tercengang dengan buku Farraby. Dia takjub. Dengan buku itu, akhirnya dia mampu memahami buku Aristoteles yang samar. Namun Athif ‘Iraqy menambahkan bahwa, “Ungkapan Ibnu Sina ini, tak lebih dari sekadar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mujamalah&lt;/span&gt; dan ungkapan hormat Ibnu Sina terhadap Farraby. Sebab tak mungkin seorang Ibnu Sina yang memiliki kejeniusan yang tinggi tak mampu memahami buku Aristoteles.” . Tapi ini tak mengurangi kehormatan Farraby di dunia filsafat Islam, sebab banyak legenda yang lebih mengarah kepada mitos fiktif yang bercerita kepada kemampuan dan kejeniusan Farraby yang menguasai seluruh jenis ilmu. Mulai dari bidang kedokteran, filsafat, musik, matematika, biologi, astronomi dan bahasa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihsha` ‘ulum&lt;/span&gt;nya Farraby merupakan bukti kemampuannya yang melebihi ulama lainnya. Bahkan Sha’id mengatakan bahwa, “seorang penuntut ilmu diharuskan untuk membaca buku itu sebelum berkecimpuh dalam bidang pengetahuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di makalah ini kita akan menekankan  pada karya Farraby yaitu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Araa Ahl Madinah Fadhilah&lt;/span&gt;. Buku ini merupakan buku yang paling akhir dikarang dan diteliti oleh Farraby. Ibn Ashibi’ah berkata; “ Farraby memulai menulis buku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Fadhilah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Jahilah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Fasiqah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Dhaallah&lt;/span&gt; di Baghdad. Dia membawa karyanya ke Syam pada tahun 330 H. dan menyempurnakannya di Damaskus pada tahun 333 H. Kemudian meneliti naskahnya setelah di terbitkan. Saat itu sebagian orang memintanya untuk mengklasifikasi bab dan sub bab dalam buku tersebut. Selanjutnya Farraby mengklasifikasi bab pada buku itu di Mesir pada tahun 337 H.” . Kita ketahui bersama, bahwa Farraby wafat pada tahun 339 H. dengan kata lain bahwa Farraby menyempurnakan buku ini dua tahun sebelum wafat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-1218299036692313996?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/1218299036692313996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/b-farraby-dan-madinah-fadhilah_14.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1218299036692313996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1218299036692313996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/b-farraby-dan-madinah-fadhilah_14.html' title='b. Farraby dan Madinah Fadhilah'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3274277306337177699</id><published>2009-06-14T16:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T16:55:10.337-07:00</updated><title type='text'>c. Nubuwwah di Masa Farraby</title><content type='html'>Tak ada salahnya ketika kita mengintepretasikan persepsi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt; Farraby dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Walaupun sebagian ilmuwan ada yang tak menerima pendekatan fenomenologi dalam mengintepretasikan sejarah. Namun dengan dengan menggunakan pendekatan ini, akan menguak beberapa kejanggalan-kejanggalan fenomena nubuwwah yang ada di masa Farraby. Paradigma miring mengenai kenabian telah bermetamerfosis dari masa ke masa. Pada awalnya problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt; dalam dunia Islam belum terlalu mencolok untuk dibahas dan digali. Namun semenjak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bani&lt;/span&gt; Umayyah menduduki singgasana khilafah, maka muncullah sederetan masalah yang dulunya tak mendapat tempat di meja diskusi ulama. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya masalah qadha dan qadar, sejumlah tokoh yang pro dengan dinasti Umayyah, berusaha membumkam mulut kaum muslimin dengan dalih ‘ketetapan dari Allah’. Kita semua tahu bagaimana polemik politik dan keamanan di masa Umayyah. Bagaimana kaum muslimin dengan berat hati mem&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bai’at&lt;/span&gt; Mu’awiyah dan Yazid. Sehingga untuk menenangkan hiruk-pikuk massa yang ada waktu itu maka dinasti Umayyah melantangkan jargon sebagai senjata ampuh untuk membunuh kritik yang tertuai kepadanya. Diantaranya ungkapan ini:&lt;br /&gt; (لو لم يرني ربي أهلا لهذا الأمر, ما تركني إياه, لو كره الله تعالي ما نحن فيه لغيره )&lt;br /&gt;Lebih ironis lagi Walid bin Yazid khalifah Umayyah, dengan terang-terangan telah menyebarkan benih atheis dalam dunia Islam. Bisa jadi inilah nantinya yang nantinya mamicu keberanian dalam menghina dan menghancurkan pilar keislaman. Walid bin Yazid telah berani melempar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mushaf &lt;/span&gt;bahkan telah berani meragukan keberadaan hari kiyamat, dia berkata:&lt;br /&gt;أتوعدني الحساب و لست أدري                     أحق ما تقول من الحساب&lt;br /&gt;فقل لله يمنعني طعامي                                 وقل لله يمنعني شرابي &lt;br /&gt;Dari kesalahpahaman terhadap penafsiran qadha dan qadar, memaksa para ulama untuk menjawab problematika ini, dan Mu’tazilah merupakan pejuang Islam yang giat menkover Islam dari penafsiran-penafsiran liar dan menyimpang dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika qadha dan qadar merupakan salah satu dari fitnah terbesar dalam Islam. Sehingga Mu’tazilah berusaha menawarkan sebuah solusi yang kita kenal sebagai fikrah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shalah wa ashlah&lt;/span&gt;. Mereka berusaha menawarkan terapi ini dalam setiap masalah keadilan dan ketentuan Tuhan, termasuk ketika bergelut dengan problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt;. Mengutus seorang nabi dan rasul dalam kacamata Mu’tazilah, merupakan kewajiban Allah. Sebab dengan diutusnya seorang rasul adalah sebuah kemaslahatan dan keadilan bagi hambanya . Tak mungkin bagi Allah untuk tak mengutus rasul, sebab itu merupakan sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mudharat&lt;/span&gt; bagi hambanya. Dan melakukan sesuatu yang mendatangkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mudharat&lt;/span&gt; adalah sebuah perbuatan qabih. Tidak sama sekali Allah pernah melakukan perbuatan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qabih&lt;/span&gt; , sebab Allah tak butuh kepada yang&lt;span style="font-style:italic;"&gt; qabih &lt;/span&gt;demi mendatangkan sesuatu yang bermanfaat. Dengan kata lain, Mu’tazilah berusaha memberikan intepretasi logis terhadap problematika yang berusaha menggerogoti sendi-sendi Islam. Namun ada yang tak disadari oleh Mu’tazilah, keekstriman mereka dalam menggunakan akal, telah menjadi bumerang dalam kancah pemikiran Islam. Metode rasionalis yang mereka gunakan dalam menjawab segala problematika yang ada, di gunakan oleh lawan-lawan mereka menjadi sebuah pengkultusan akal yang membabi buta. Disamping itu Mu’tazilah telah bermetamerfosis menjadi sebuah corak politik yang dianut oleh negara Islam waktu itu. Sehingga tak jarang musuh-musuhnya menjadikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;i’tizal&lt;/span&gt; sebagai kedok untuk mencari tempat di hati penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana semakin keruh dengan munculnya Ibnu Rawandy dan Abu Bakar Razy dalam kancah ilmiah Islam. Ibnu Rawandy dulunya adalah penganut Mu’tazilah dan dia termasuk dalam thabaqat kedelapan, menurut Ibnu Murtadha , namun akhirnya murtad dan menganut ajaran atheis. Salah satu karangannya yang paling menuai kritikan yaitu (الزمرذ), di dalamnya berisakan tentang penghinaan dan kritikan terhadap Nabi Muhammad SAW. Sayangnya buku ini tak sampai kepada kita, namun dapat ditelusuri dalam kitab (المجالس المؤيدية. Karangan Muayyid fi din Hibatullah bin Abi ‘Imran Syirazy Ismaily. Sebagian besar isinya merupakan bantahan kaum Brahma terhadap kaum muslimin dalam menyikapi problematika nubuwwah. Sebab penganut Brahmanisme menganggap bahwa kenabian merupakan sesuatu yang sia-sia dan mereka kontra terhadap masalah kenabian. Diantara isi karangan Ibnu Rawandy adalah: &lt;br /&gt;• Ibnu Rawandy berpendapat bahwa, “Dengan akal manusia dapat mengetahui segala sesuatu yang baik dan buruk, jika sang nabi datang dengan menegaskan fungsi akal ini, berarti hanyalah sebuah pemborosan. Namun jikalau sang nabi datang dengan sesuatu yang lain dari fungsi akal tersebut. Berarti kenabian bertentangan dengan akal, secara otomatis akan tertolak.” .&lt;br /&gt;• Muhammad SAW. di mata Ibnu Rawandy, telah mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan akal, bahkan akal pun mengingkarinya. Semisal salat, mandi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;junub&lt;/span&gt;, melempar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jamrah&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tawaf&lt;/span&gt; di Ka’bah. Apakah perbedaan antara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tawaf&lt;/span&gt; di Ka’bah dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tawaf&lt;/span&gt; di rumah? Jikalau sang nabi datang dengan ajaran yang agung mengapa ajarannya bertentangan dengan akal???  &lt;br /&gt;• Ke mana para malaikat Muhammad yang membantunya ketika perang Uhud? Bukankah mereka yang membantunya ketika perang Badar? Bukankah para malaikat ini lemah? Sebab dalam perang Badar mereka hanya membunuh hanyalah sekitar tujuh puluh orang!!! &lt;br /&gt;• Beri tahukan kepada kami dengan cara apa Nabi kalian mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia? Jika dengan menggunakan ilham, maka manusia juga mampu mengetahui dengan ilham! Jika menggunakan metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tauqif&lt;/span&gt;, maka akal tak mengenal metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tauqif&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pendapat Ibnu Rawandy yang telah meluluh-lantakkan sendi kenabian, diadopsi oleh Abu Bakar Razy dalam bukunya (مخاريق الأنبياء), namun sayangnya buku ini tak sampai kepada kita. Yang ada hanyalah rekaman sebuah munazharah antara Ibnu Zakariya Razy versus Abu Hatim Razy, dalam bukunya (أعلام الآنبياء). Ibnu Zakariya Razy membangun paradigma kenabiannya melalui beberapa dasar yaitu:&lt;br /&gt;• Dengan akal manusia mampu memahami sesuatu yang baik dan jahat, dengan akal juga manusia mampu mengetahui yang bermanfaat dan merusak dalam kehidupan ini. Demikian juga dengan akal, manusia mampu merelungi dimensi yang terselubung rahasia ketuhanan, akal juga mampu membimbing manusia dalam menjaga dan memelihara semesta ini. Maka kebutuhan kepada seorang nabi merupakan sesuatu yang sia-sia .&lt;br /&gt;• Tidak ada perbedaan dalam kemampuan manusia dalam menyelami sebuah pengetahuan, dan juga tak perbedaan dalam fitrah atau kemampuan yang bersifat naluri dan insting. Akan tetapi perbedaan hanyalah terdapat pada pemaksimalan kemampuan daya pikir manusia. Sehingga dengan demikian, pernyataan yang mengatakan bahwa Allah memilih seseorang untuk membimbing seorang manusia merupakan sebuah ungkapan yang tak berarti! &lt;br /&gt;• Kesepakatan diantara para nabi hampir tak mungkin terjadi. Jikalau sumber mereka satu dari Allah, mengapa harus terjadi perbedaan? Selama mereka masih berselisih dan tak mampu menemukan kata sepakat, maka kenabian merupakan sesuatu yang bathil! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga menurut Abu Bakar Razy, bahwa agama dan filsafat tak mungkin bersatu. Bahkan dengan terang-terangan dia mengatakan bahwa dengan filsafat sematalah yang mampu memberikan perbaikan dalam tataran individu dan masyarakat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3274277306337177699?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3274277306337177699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/c-nubuwwah-di-masa-farraby.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3274277306337177699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3274277306337177699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/c-nubuwwah-di-masa-farraby.html' title='c. Nubuwwah di Masa Farraby'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-4898678237123698664</id><published>2009-06-14T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T16:41:11.553-07:00</updated><title type='text'>d. Farraby dan Pembangunan Konsep Nubuwwah</title><content type='html'>Mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa pandangan Farraby mengenai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nubuwwah&lt;/span&gt; hadir utuk menjawab tantangan di atas. Farraby hadir ketika perdebatan dan pergulatan antara agama dan filsafat berkecamuk. Apakah Farraby dan kedua tokoh atheis di atas sezaman atau tidak , namun mereka telah meninggalkan sebuah bom waktu dalam dunia Islam yang siap meledak jika tak dihentikan. Fenomena yang ada memaksa Farraby untuk mengintepretasikan kenabian dalam kaca mata filsafat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebab Ibnu Rawandy dan Ibnu Zakariya Razy menggunakan filsafat dalam menolak dan menghancurkan sendi kenabian. Maka sesuatu yang wajar, ketika Farraby mengupas problematika kenabian dengan menggunakan pisau analisa filsafat. Demikian juga Farraby turut menerjunkan penanya kedalam kancah perdebatan, dia mengarang buku untuk membantah karangan Ibnu Rawandy mengenai kenabian yaitu, (الرد علي إبن رواندي في أدب الجدل) . Dia juga mengarang buku yang berisikan bantahan terhadap Ibnu Zakariya Razy, namun sayangnya buku ini tak sampai kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu Farraby berusaha menampik, benih perpecahan antara agama dan filsafat, yang ditiupkan oleh Ibnu Zakariya Razy. Sehingga Farraby sangat menaruh perhatian yang sangat besar untuk upaya sinkronisasi antara agama dan filsafat. Tak heran ketika di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Fadhilah&lt;/span&gt;nya, Farraby berupaya mensinergikan antara kemampuan agama dan filsafat dalam membentuk sebuah masyarakat yang ideal. Farraby membangun negaranya atas dua dasar pondasi yang sama penting yaitu agama dan filsafat. Walaupun terapi yang digunakan Farraby bukan merupakan sesuatu yang solutif, namun Farraby berusaha memberikan sebuah alternatif dalam sebuah problematika yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kepentingan untuk membangun sebuah persepsi dan paradigma kenabian yang mampu memenuhi kebutuhan logis, merupakan kebutuhan untuk membangun sebuah relevansi antara agama dan akal. Maka Farraby pun tak tersendat disini, dia mengetahui bahwa untuk membentuk sebuah dimensi logis dari sebuah keyakinan merupakan kebutuhan untuk upaya aktualisasi nilai keagamaan. Dari sini, dia berusaha  mengintepretasikan segala problematika religius dengan menggunakan pendekatan filosofis. Dan nubuwwah dan tak terlepas dari upaya Farraby, untuk mendekatinya dengan menggunakan analisa psikologis. Demikian juga, Farraby sangat menaruh perhatian terhadap pembentukan sebuah masyarakat yang ideal. Komunitas yang mampu mencapai taraf kesempurnaan dengan menggunakan dua kemampuan yang sama pentingnya yaitu agama dan filsafat. Tak heran, Farraby dalam dunia keilmuan Islam dikenal sebagai ‘Shahib Madinah Fadhilah’. Ini tak lain merupakan perhatian yang mendalam Farraby terhadap isu sosial yang ada waktu itu. Namun tak dapat dipungkiri Farraby dalam membangun ‘negara ideal’nya terpengaruh dengan ajaran Plato. Keserupaan itu terlihat jelas, ketika Farraby mengupas syarat presiden negara ideal Farraby, yang hampir terlihat serupa dengan pandapat Plato&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-4898678237123698664?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/4898678237123698664/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/d-farraby-dan-pembangunan-konsep.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4898678237123698664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/4898678237123698664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/d-farraby-dan-pembangunan-konsep.html' title='d. Farraby dan Pembangunan Konsep Nubuwwah'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-5631276832787708686</id><published>2009-06-14T16:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-14T16:36:46.760-07:00</updated><title type='text'>e. Konsepsi Pemimpin Negara dan Seorang Nabi dalam Persepsi Farraby</title><content type='html'>Farraby membangun konsep negaranya, dengan asumsi bahwa manusia adalah makhluk sosial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(zoon politicon)&lt;/span&gt;. Dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Fadhilah&lt;/span&gt;nya Farraby menegaskan bahwa: “Merupakan naluri tiap manusia dalam memenuhi segala kebutuhannya, membutuhkan bantuan dan pertolongan dari manusia lainnya… Seorang manusia tak akan mampu mencapai sebuah kesempurnaan tanpa bantuan dan pertolongan manusia lainnya” . Sebuah negara ideal di mata Farraby adalah serupa dengan badan manusia yang saling membantu dalam mencapai kesempurnaan dan bersama dalam upaya pelestarian hidup . Kesatuan itu, berdasar dari keyakinan Farraby akan kesatuan asal segala sesuatu, Farraby meyakini keseluruhan dari segala yang ada merupakan emanasi dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wujud Awwal&lt;/span&gt;. Atau kita dapat meminjam istilah DR. Ahmad Musayyar, “Farraby adalah penganut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wahdawy&lt;/span&gt;, dia mengimani kesatuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(unity-unite)&lt;/span&gt; Pencipta, semesta, manusia, masyarakat, daya berfikir dan filsafat” . Berdasar dari paradigma &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wahdawy&lt;/span&gt;, Farraby membangun negaranya. Dengan analogi ini Farraby membentuk sebuah komunitas sosial yang membutuhkan antar satu dengan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencapai kesempurnaan sebuah negara tentunya dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu membawa sebuah negara kedalam kemakmuran. Pemimpin negara dalam pandangan Farraby menduduki posisi vital dalam sebuah komunitas. Laksana tubuh manusia, dia memiliki satu organ vital yaitu hati yang berfungsi untuk mengatur dan meimpin gerak tubuh dalam kelangsungan hidupnya. Presiden juga memiliki fungsi itu dalam mengatur dan membina sebuah negara .  Pemimpin Negara di mata Farraby memiliki beberapa kriteria yaitu: (1). Kriteria yang berkaitan dengan karakter natural, (2). Kriteria yang mampu diperoleh dengan pemaksimalan kemampuan naluri. Selanjutnya dua poin di atas memiliki beberapa syarat tertentu yaitu:&lt;br /&gt;(a). Kriteria pemimpin yang berkaitan dengan karakter natural:&lt;br /&gt;• Sang pemimpin harus memiliki organ tubuh yang sempurna.&lt;br /&gt;• Memiliki kejeniusan dan kemampuan dalam memahami pembicaraan dan maksud si pembicara secara naluri.&lt;br /&gt;• Memiliki daya hafalan yang baik dan kuat, terhadap apa yang dia dengar, lihat dan apa yang dia pahami.&lt;br /&gt;• Memiliki analisa yang tajam dalam memahami dan mencermati sesuatu.&lt;br /&gt;• Kefasihan bahasa, keindahan tutur kata dan kemampuan dalam mengekspresikan apa yang ingin dia ungkapkan.&lt;br /&gt;• Minat yang besar terhadap pengetahuan dan bertukar pendapat.&lt;br /&gt;• Tidak rakus dalam hal yang berkaitan dengan makanan dan wanita, memiliki naluri dalam menjauhi segala bentuk hura-hura, dan membenci segala kesenangan yang bersumber dari hura-hura.&lt;br /&gt;• Mencintai kejujuran dan membenci kebohongan.&lt;br /&gt;• Menganggap remeh hal-hal yang bersifat duniawi, seperti Dinar dan Dirham.&lt;br /&gt;• Mencintai keadilan dan orang-orang yang berbuat keadilan, serta membenci kezaliman dan orang-orang melakukan kezaliman.&lt;br /&gt;• Memiliki jiwa yang tegar, pemberani dan tak memiliki rasa rendah diri. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(b). Kriteria pemimpin yang mampu diperoleh dengan pemaksimalan naluri:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Sang pemimpin haruslah seorang hakim (filosof)&lt;br /&gt;• Memiliki pengetahuan yang luas yang berkaitan dengan hukum tata negara, yang telah ditetapkan oleh para pemimpin terdahulu, serta mengikuti jejak mereka dalam mengatur negara.&lt;br /&gt;• Kemampuan dalam beristinbath dalam hal kenegaraan, yang tak direkam oleh pendahulu dalam hukum kenegaraan, dengan menggunakan metode para pendahulu dalam menyelesaikan sebuah masalah.&lt;br /&gt;• Kemampuan dalam memecahkan fenomena yang tak terdapat pada masa sebelumnya, yang sesuai dengan kemaslahatan masyarakat umum.&lt;br /&gt;• Mampu mengarahkan terhadap apa yang telah diperoleh oleh bangsa sebelumnya yang mampu menjadi negara yang makmur.&lt;br /&gt;• Kemampuan dalam mengatur strategi perang, memiliki kemampuan untuk berperang dan menggunakan alat-alat perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu digaris bawahi, bahwa Farraby sangat terpengaruh oleh Republicnya Plato. Sehingga tak heran ketika Farraby menyadur syarat yang diajukan oleh Plato dalam karangannya yang terkenal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Republic&lt;/span&gt;. Farraby juga menambahkan sebuah syarat, yang sesuai dengan hasratnya sebagai seorang sufi. Yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malakut&lt;/span&gt;. Dimana seseorang mampu memaksimalkan quwwah khiyaliyah (faculty imaginative-faculte imaginative ) sampai pada taraf kesempurnaan, maka dia akan mampu berhubungan dan berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al (intellect active )&lt;/span&gt; dan mampu menerima pengetahuan pengetahuan darinya. Sehingga dia mampu mengetahui dengan spesifik kejadian yang terjadi sekarang dan masa depan. Sehingga dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; seseorang akan mampu mengetahui segala sesuatu yang memiliki dimensi ketuhanan , serta mampu merelungi aspek transendental. Dengan demikian seorang telah mampu menerima wahyu dari langit, melalui optimalisasi kemampuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah kiyaliyah&lt;/span&gt;. Dengan demikian wahyu, yang dulunya merupakan sesuatu yang kultus, kini dengan intepretasi psikologi terhadap problematika nubuwwah menjadi sesuatu yang profan. Namun perlu digaris bawahi, bahwa kemampuan untuk berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; bukanlah kemampuan yang dimiliki oleh orang banyak. Dia hanyalah dimiliki oleh orang-orang tertentu, yang mampu menyibak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hijab&lt;/span&gt; alam ghaib dan memiliki kejernihan hati yang cemerlang . Sebab, kemampuan dalam berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;, juga memiliki kriteria yaitu ketika dia telah mampu memenuhi syarat pemimpin negara yang diajukan Farraby sebelumnya. Ditambah lagi kemampuan unik seperti ini hanyalah dimiliki oleh seorang presiden idealnya Farraby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mampu berhubungan dengan aql fa’al, Farraby menawarkan dua cara yaitu;(a) metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aqliyah atau taammul&lt;/span&gt;, (b) ilham atau pengoptimalan daya imaginatif &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mukhayyalah)&lt;/span&gt; . Dengan memaksimalkan daya intelektual dan berfikir, melalui aktifitas tafakkur dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taammul&lt;/span&gt;, seorang manusia mampu mencapai taraf pengetahuan yang tertinggi. Tentunya dengan bantuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;, sebab segala jenis pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tak lain merupakan pertolongan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;. Metode inilah yang ditempuh oleh para filosof dalam merelungi subtansi pengetahuan, baik itu dalam tataran epistemologi, ontologi dan aksiologi. Seseorang yang mampu menjadi seorang filosof sejati, maka orang itulah yang ditunjuk untuk memimpin negara idealnya Farraby. Dari metode ini akan sangat jelas nampak bagi kita yaitu, kecendrungan sufisme dalam pemikiran Farraby . Dengan kata lain, bahwa Farraby berusaha mengintepretasikan problematika ontologis dengan pendekatan tasawwuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang kedua, yang dipaparkan Farraby agar dapat berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;, yaitu dengan bantuan ilham. Ilham menurut Farraby diperoleh ketika seseorang mampu memamksimalkan kemampuan imaginatif. Apabila kita menelaah lebih lanjut pemaparan ilmu jiwa dalam filsafat Farraby, akan terlihat jelas perhatian Farraby terhadap daya imaginatif. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt; menurut Farraby merupakan cerminan dari kondisi jiwa seseorang. Kemampuan imajinasi, menurut Farraby sangat erat hubungannya pembentukan karakteristik berfikir dan corak prilaku. Daya imajinasi merupakan rekaman dari pengetahuan yang diterima oleh panca indra, dan tak terbatas pada fungsi penyimpanan pengetahuan. Akan tetapi mampu membentuk dan memproduksi pengetahuan yang baru yang tak ada hubungannya dengan benda materil yang ia saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt;, mampunyai pengaruh dalam pembentukan sebuah mimpi. Ketika mimpi adalah pengaruh dari daya imaginatif, maka Farraby telah mampu memberikan sebuah penafsiran yang logis terhadap problematika wahyu dan ilham. Sebab, bentuk komunikasi seorang nabi dengan alam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malakut&lt;/span&gt; dengan menggunakan dua cara, yaitu; dengan berupa wahyu dan mimpi yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shadiqah&lt;/span&gt;. Tak ada perbedaan dari dua bentuk komunikasi ini dari segi tujuan, walaupun ada perbedaan dari segi prosedur. Dalam pembentukan mimpi, daya imaginatif memiliki peran yang sangat besar. Ketika seluruh indra seseorang terdiam, maka yang beraktifitas waktu itu adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt;, saat itu daya imajinasi menciptakan sebuah bentuk khayalan baru, atau menghadirkan kembali kejadian-kejadian yang pernah kita alami. Dalam aktifitasnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt; mampu membentuk, menciptakan dan menggambarkan sebuah pengetahuan atau cerminan jiwa yang baru. Secara garis besar kecendrungan, keinginan yang tersembunyi dalam jiwa, demikian jiwa keadaan fisik saat bermimpi mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam pembentukan sebuah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt; mampu membentuk sebuah pengetahuan baru serta mampu melukiskan sesuatu yang kadang tak pernah dialami oleh seseorang. Di samping itu, daya imajinasi juga mampu menggambarkan dan berhubungan dengan alam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;malakut&lt;/span&gt; . Serta dia juga mampu merasakan keindahan dan kenikmatan yang ada di alam ghaib. Bahkan melebihi dari itu semua, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt; mampu berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; dan mendapatkan curahan dan percikan ilahi darinya. Sehingga dia mampu mengetahui dengan spesifik kejadian yang ada dan kejadian yang akan datang. Jika telah mencapai batas maksimalnya, dia mampu berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;, dan tak terbatas hanya pada waktu tidur saja. Akan tetapi dia mampu berhubungan ketika dalam keadaan sadar . Seseorang yang mampu berhubungan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; pada dua kondisi ini, telah mencapai derajat tertinggi dalam pengoptimalan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt;. Keistimewaan inilah yang dimiliki oleh para nabi . Di bawahnya, orang yang hanya mampu berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;  melalui mimpi. Selanjutnya yang mampu berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; lewat mimpi, namun tak mampu menangkap secara komperehensif apa yang dia saksikan. Adapun golongan manusia secara keselurahan, maka imajinasi mereka sangat lemah, dan tak mampu menerima kecuali yang berbentuk materi saja . Jadi, perbedaan antara seorang filosof dan seorang nabi dalam pandangan Farraby adalah hanyalah terletak pada kemampuan berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;. seorang nabi mampu berkomunikasi dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; pada dua keadaan yaitu keadaan sadar dan tidur. Sedangkan para filosof hanyalah pada keadaan tidur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah selanjutnya kenabian merupakan sesuatu yang dapat dicapai dengan pengoptimalan daya imajinasi (baca; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasby&lt;/span&gt;), ataukah kenabian adalah merupakan sebuah naluri yang telah Allah ciptakan kepada seorang manusia? Ataukah Farraby menggunakan istilah baru dalam mengekspresikan ‘pilihan Allah’  dengan ungkapan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fitrah&lt;/span&gt; atau naluri. Saya serahkan keputusan ini kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pandangan Ibnu Thufail Terhadap Farraby&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita tak terburu-buru dalam menghakimi Farraby, ada baiknya jika kita menyimak pendapat Ibnu Thufail, ketika beliau mengomentari filsafat Farraby. Ibnu Thufail berkata: “Karya-karya Abu Nashr (Farraby) yang sampai kepada kita, sebagian besar adalah&lt;span style="font-style:italic;"&gt; manthiq&lt;/span&gt;. Sedangkan yang berkaitan dengan filsafat, sebagian besar diragukan.-diantara bukti-buktinya adalah- Farraby menegaskan dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Millah Fadhilah&lt;/span&gt;, kekekalan jiwa-jiwa yang jahat dalam kepedihan yang tak berujung. Selanjutnya dalam karyanya yang lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siyasah Madaniyah&lt;/span&gt;, dengan jelas dia berpendapat bahwa mereka (jiwa yang jahat) akan berakhir dengan kemusnahan (‘adam)  mereka. Menurutnya (Farraby) yang kekal hanyalah jiwa-jiwa yang sempurna. Kemudian dia menggambarkan kebahagian manusia, dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab Akhlak&lt;/span&gt;. Dia berpendapat, kebahagiaan hanyalah terjadi pada kehidupan ini, selanjutnya dia berkata, segala sesuatu yang disebutkan-menyangkut kebahagiaan yang diluar kehidupan ini- hanyalah merupakan dongeng orang yang lemah. Jelas, dia telah membuat putus asa seluruh hamba dari rahmat Allah. Dia juga menyamakan jiwa yang baik dan yang jahat, dengan balasan yang sama, sebab balasan dari keduanya yaitu kepada kemusnahan. Ini juga berkaitan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(hadza ma’a) &lt;/span&gt;dengan kerusakan akidahnya mengenai masalah kenabian, yang mengaitkan kenabian dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;quwwah mukhayyalah&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhanaka laa ‘ilma lanaa illa maa ‘allamtanaa innaka anta ‘aliim hakiim...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-5631276832787708686?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/5631276832787708686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/e-konsepsi-pemimpin-negara-dan-seorang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/5631276832787708686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/5631276832787708686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2009/06/e-konsepsi-pemimpin-negara-dan-seorang.html' title='e. Konsepsi Pemimpin Negara dan Seorang Nabi dalam Persepsi Farraby'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3835247001099061716</id><published>2008-11-11T14:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T14:49:51.232-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Islam dan Yunani, antara Bumi Wahyu dan Negara Akal</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan antara wahyu dan akal, merupakan sebuah problematika klasik namun terus up to date. Problematika ini terus hangat, seolah api yang membakar tungku perseteruan, kayu bakarnya terus terisi dan tak pernah habis. Demikian juga penafsiran yang mengklaim bahwa mereka adalah perwakilan dari langit terus berdatangan, yang membuat hawa perseteruan ini semakin panas. Sejatinya akan memicu kepada usaha untuk penafsiran atas problematika yang ada. Apakah akal (baca:filsafat) dan wahyu merupakan musuh sejati? Keduanya tak dapat bersatu? Ketika wahyu telah ada, maka akal harus diam dan pasrah? Ataukah keduanya merupakan sahabat yang kompak? Akal menopang nilai absolusitas wahyu? Demikian juga wahyu memberikan ruang untuk akal, untuk mampu mendaki kepada sebuah Absolusitas Mutlak (baca:Tuhan)? Ataukah ada rival lain selain akal, yaitu instuisi-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dzuq, wijdan&lt;/span&gt;- yang mampu sampai kepada Absolusitas Mutlak?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu akan terus ada disetiap agama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;samawy&lt;/span&gt;, baik itu Yahudi, Nasrany, dan Islam. Di kalangan Nasrani misalnya, disana ada Gostin dan Ithnagoras yang berusaha mendamaikan antara wahyu dan akal. Namun disana juga ada Taytan sebagai rival mereka, yang menganggap bahwa filsafat dan wahyu bagai minyak dan air, sehingga mereka tak mampu bersatu . Demikian juga terjadi di dunia Islam, ketika trend transliterasi literatur-lteratur Yunani begitu pesat di masa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khilafah&lt;/span&gt; Abbasiyah. Maka sebuah keniscayaan akan terjadi reaksi dari beberapa golongan Islam untuk menjawab pertanyaan di atas. Pada abad ke empat, para fuqaha Hanabilah yang paling banter menolak filsafat dalam dunia Islam . Bahkan Qadhy Yusuf Hanafy mengatakan dengan lantang, “Barang siapa yang mencari agama dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kalam &lt;/span&gt;maka dia adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zindiq&lt;/span&gt;, dan siapa yang mencari uang dengan kimia maka dia akan rugi, dan siapa yang berkata dengan hadis gharib maka dia adalah pendusta” . Refleksi kontras dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mauqif&lt;/span&gt; ini,  tentunya memincu para fans filsafat Yunani khususnya fans Aristoteles, untuk berusaha mensinergikan antara wahyu langit dan akal bumi. Ibnu Rusyd misalnya, mengatakan, “Jikalau sang faqih melakukan ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(qiyas)&lt;/span&gt; dalam hukum syariah, alih-alih yang melakukan ini adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shahib burhan&lt;/span&gt;? Sang faqih hanya memiliki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qiyas&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;zhanny&lt;/span&gt;, sedangkan sang arif (filosof)  memiliki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qiyas yaqiny&lt;/span&gt;. Sudah dipastikan, setiap dalil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;burhan&lt;/span&gt; yang mengimplikasikan adanya pertentangan dengan literalis syariah maka diharuskan untuk men&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`wil&lt;/span&gt;kannya, sesuai dengan metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`wil&lt;/span&gt; Arab. Ini adalah premis yang tak seorang muslim pun meragukannya.”. Dari sini, Ibnu Rusyd berusaha untuk mensinergikan antara filsafat dan wahyu, jikalau wahyu mampu di&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`wil&lt;/span&gt;kan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qiyas&lt;/span&gt;, mengapa tidak untuk men&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`wil&lt;/span&gt;kan wahyu dengan filsafat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu sulit untuk menghakimi perseteruan diatas, namun yang ingin penulis sampaikan di sini adalah, beberapa filosof Islam yang berusaha memadukan wahyu dan akal untuk membentuk sebuah komposisi yang menghantarkan kepada kebenaran absolut. Dalam upaya sinkronisasi ini tentunya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan peradaban dari luar. Salah satunya adalah dari Yunani, baik itu Yunani yang di bungkus oleh baju Helenistik, kebudayaan kota Charrae , golongan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nusturah&lt;/span&gt; dari Nasrani, ataukah metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta`wil&lt;/span&gt; Phylon dari Yahudi. Namun yang paling mewarnai karakteristik para filosof muslim  pada waktu itu adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruh&lt;/span&gt; Yunani pada umumnya dan Aristotelian pada khususnya, yang meliputi banyak pemikiran mereka. Seperti yang terjadi pada Al-Kindy, Farraby, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Di makalah yang sederhana ini kita akan mencoba melihat pengaruh filsafat Yunani dalam pembentukan karakteristik berpikir para filosof muslim. Kita akan mengkhususkannya kepada empat kelompok yaitu; kaum sophis, Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta membatasi pada beberapa dimensi filsafat mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3835247001099061716?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3835247001099061716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_1879.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3835247001099061716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3835247001099061716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_1879.html' title='Islam dan Yunani, antara Bumi Wahyu dan Negara Akal'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8465208325434887549</id><published>2008-11-11T14:34:00.000-08:00</published><updated>2009-06-14T15:53:35.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>b. Kaum Sophis dan Pembumian Filsafat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya metode pemikiran filsofis sebelum kemunculan kaum sophis hanya berputar dan bergelut pada masalah asal-usul dari penciptaan materi, kepercayaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hylotheisme&lt;/span&gt;, dan trend &lt;span style="font-style:italic;"&gt;occultisme&lt;/span&gt;, baik itu tercermin dari maraknya dedukunan dan sihir, ajaran-ajaran rahasia yang di usung oleh Pythagoras dan para pengikutnya, ataukah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenides. Sehingga membatasi masyarakat akar rumput untuk menikmati dan mengecap ajaran filsafat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disamping keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat Athena dalam melawan konfrontasi militer dari Persia. Membuat kestabilan politik masyarakat Athena semakin kokoh. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian disini, adalah golongan pedagang, nelayan, dan petani yang ikut membantu peperangan ketika melawan Persia, akhirnya mampu bersuara di parlemen Yunani. Akhirnya dari suara merekalah, sehingga sistem demokrasi terpilih menjadi corak politik Athena . Iklim politik seperti ini meniscayakan sebuah revolusi ilmu pengetahuan, yang dulunya hanya di kalangan tertentu sahaja, dan dengan corak yang sangat ekslusif. Filsafat yang dulunya bersifat rahasia, akibat revolusi pengetahuan itu menjadi informasi yang dapat disantap oleh khalayak ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan kaum sophis dalam mengeluarkan filsafat dari kerangkeng ekslusifitas ke medan khalayak ramai tercermin pada pengajaran dan institusi yang mereka dirikan. Kaum tertinggal yang duduk di parlemen, berkat revolusi ini, dipaksa untuk menjadi kaum terdidik. Sehingga mereka harus belajar dengan pengetahuan yang marak waktu itu. Filsafat merupakan ciri keterpelajaran mereka, namun karena filsafat hanya dimiliki oleh golongan tertentu sahaja, dan tak mampu digeluti oleh orang awam. Hal ini sempat membuat nyali mereka ciut, namun kaum sophis mucul dan menepis persepsi itu. Mereka hadir dan mengusung slogan eksistensi manusia, mereka dengan lantang menyerukan akan peranan tiap individu dalam pembentukan sebuah ilmu pengetahuan. Setiap individulah penentu akan kebahagiaan dan kesengsaraan mereka. Kaum sophis adalah kaum yang menyerukan kemampuan manusia. Kaum sophis adalah golongan yang pertama mempertanyakan nilai dari pengetahuaan kemanusiaan. Kaum sophis adalah kalangan pengajar filsafat untuk disantap ke khalayak ramai. Kaum sophislah yang pertama menurunkan filsafat dari langit kebumi, sebagaimana yang dilakukan oleh Socrates. Kaum sophis adalah pencerahan terhadap metode filosofis yang cukup kelam di masa sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena penyimpangan historis yang dilakukan oleh para murid Socrates –baik itu Plato dan Aristoteles- sehingga membuat citra buruk kaum sophis, khususnya di kalangan muslimin. Kaum muslimin tak mengetahui apa yang dicapai oleh kaum sophis, dan dari penelitian sejarawan moderen. Sehingga yang mereka ketahui hanyalah sebuah keraguan terhadap nilai pengetahuan dan nilai aksiomatis. Mereka tahu hanyalah ajaran ajaran Protogoras, yang menilai kebenaran dari sudut pandang diri manusia sehingga mengantarkan kepada relativitas pengetahuan. Namun tak mampu menjangkau apa yang diingingkan oleh Protogoras, yaitu kemampuan manusia untuk menggali dan mempelajari pengetahuan. Kaum muslimin hanya mengetahui ajaran Georgoras dan Byron yang ragu-syak, scepticism- terhadap nilai. Secara global kaum muslimin meletakkan kaum sophis pada pembahasan penetapan nilai aksiomatik dan nilai absolusitas ilmu, dalam pembahasan kalam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu mendapatkan penekanan disini, kaum sophis berubah menjadi liar ketika para pengajar melihat bahwa dengan mengajarkan filsafat dan retorika merupakan ladang mengais rezki. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menarik murid sebanyak-banyaknya agar bayaran mereka dan status mereka semakin tinggi. Disamping tak ada pembatasan yang dilakukan kaum sophis dalam pengajaran filsafat, banyaknya para filosof gadungan yang berusaha mengais materi untuk kepentingan perut, membuat hal semakin keruh. Sehingga siapa saja dapat berfilsafat, tanpa melihat kadar intelektual yang mereka miliki. Mungkin ini kembali kepada ajaran pertama Protogoras yang menggusung individu adalah ukuran dan tolok ukur sebuah kebenaran. Hal inilah yang mengeruhkan dan membuat kelam citra kaum sophis kala itu. Faktor ini jugalah yang membuat geram Socrates dan memaksanya untuk menyembuhkan virus relativitas segala sesuatu, dan keraguan terhadap kebenaran, yang ada di masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang cukup menggelitik di sini adalah tudingan sebagian sarjanawan yang menganggap bahwa metode dilektika yang ada pada Mu’tazilah merupakan pengaruh dari metode dialektis kaum sophis. Sebuah tudingan yang lucu, dan menggelikan. Mungkin mereka menopang pendapat mereka, dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mauqif&lt;/span&gt;  Mu’tazilah tentang hadis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ahad&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijma’&lt;/span&gt;. Khususnya pada Ibrahim Nazzham, karena menurut historolog muslim, dia banyak bergelut dengan kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tsanawiyyah&lt;/span&gt;, kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Samaniyah&lt;/span&gt; yang berpendapat bahwa tidak ada argumentasi yang pasti, dan dia juga bergaul dengan kaum atheis dari kalangan filosof. Salah satu pendapat yang cukup mengundang kontraversial di kalangan muslimin, adalah pengingkaran Nazzham terhadap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijma’&lt;/span&gt;, dan periwayatan dalam hadis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutawatir&lt;/span&gt; berkemungkinan untuk terjadi kesalahan pada para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rawi&lt;/span&gt;nya. Dari pengingkaran ini, baik itu dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijma&lt;/span&gt; maupun dari hadis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutawatir&lt;/span&gt; diklaim sebagai pengingkaran terhadap sebuah nilai aksiomatis. Karena menurut para sarjanawan muslim, hadis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutawatir&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ijma&lt;/span&gt; setara dengan aksioma dalam pembentukan pengetahuan. Hal ini yang mungkin membuat para sarjanawan –yang menganggap semua yang ada dalam Islam adalah hasil ciplakan- untuk melegetimasi tuduhan mereka. Namun satu hal yang perlu digaris bawahi di sini, Khayyath dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Intishar&lt;/span&gt;nya telah membantah pendapat tersebut, bahkan dengan lantang mengatakan bahwa semua itu adalah ciptaan dan kebohongan Ibnu Rawandy , sang atheis yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8465208325434887549?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8465208325434887549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_6628.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8465208325434887549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8465208325434887549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_6628.html' title='b. Kaum Sophis dan Pembumian Filsafat'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-1682414001312447253</id><published>2008-11-11T14:26:00.000-08:00</published><updated>2009-06-14T15:54:35.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>c. Socrates dan Akhlaq</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam historisasi bibliografi Socrates kita akan berhadapan dengan sebuah kontradiksi yang cukup membingungkan. Salah satunya, Aristophanus yang menganggap Socrates sebagai perpanjangan dari kaum sophis, yang terlalu berlebihan dalam seni dialektika, dan bermain-main dalam abtraksi pemikiran . Hal serupa juga terjadi pada Nietzche, dia tidak begitu mengidolakan Socrates, bahkan dia menganggap bahwa Socrates adalah penyebab kejumudan akal Eropa pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;middle age&lt;/span&gt;. Namun pandangan lain terjadi pada Plato, dia menganggap bahwa Socrates merupakan sosok yang dia hormati, dan merupakan gurunya. Pastinya, Socrates merupakan sosok yang berpengaruh pada pemikiran filsafat manusia. Bahkan Socrates dijadikan pemisah oleh sejarawan dalam mengklasifikasikan karakteristik filsafat pemikiran Yunani.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Socrates adalah sosok yang berpengaruh dalam dunia filsafat manusia. Dia adalah sosok yang optimis dalam kehidupannya, walaupun Plato mensifati tampilan Socrates yang buruk rupa, namun ini tak membuat dia putus asa. Bahkan dia bersyukur dengan kemanusiaannya, dengan penciptaannya sebagai pria bukan sebagai wanita, dan sebagai bangsa Athena bukan bangsa Barbar. Socrates juga meyakini bahwa cinta adalah ibadah, namun dia mengingatkan kepada pemuda dimasanya agar tidak berlebihan dalam cinta, dan juga menasehati semasanya untuk menjaga kestabilan dan keharmonisan jiwanya . Demikian juga Socrates mengajak manusia kepada pengetahuan yang bermanfaat dan mampu tercermin di prilaku dan kehidupan sehari-hari. Kebodohan dimata Socrates adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;radzilah&lt;/span&gt; dan pengetahuan adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fadhilah&lt;/span&gt;. Sehingga yang tercermin dari filsafatnya adalah pandangannya dalam akhlak dan pembangunan dan karakteristik di masanya. Socrates ingin meluruskan prilaku kaum sophis yang telah menyimpang dari maksud awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat yang paling signifikan dalam ajaran Socrates ajaran akhlak yang diusungnya. Dia begitu banter untuk mengajak manusia untuk mengenal dirinya demi sampai kepada pengatahuan yang bermanfaat demi kelangsungan hidup mereka. Dengan bertolak kepada pengetahuan individu terhadap dirinya akan menggiring kepada sebuah intropeksi dan kesucian prilaku. Dengan pengetahuan terhadap jiwa manusia menurut Socrates, akan membawa kepada realisasi nilai-nilai kebajikan dan kebaikan yang abadi. Karena dengan mengetahui jiwa tiap individu akan mengantarkan kepada apa yang pantas, dan tidak pantas dalam jiwanya, sehingga akan mengantarkannya kepada kebenaran yang mutlak . Slogan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘ketahuilah dirimu’&lt;/span&gt; selanjutnya begitu marak menghiasi literatur dalam dunia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tashawwuf&lt;/span&gt;  Islam. Diantaranya Ghazaly, yang menjadikan barometer pengetahuan manusia terhadap dirinya, adalah kadar pengetahuan individu itu terhadap Tuhannya. Dengan pengetahuan manusia terhadap dirinya, dimata Ghazali adalah kunci dari segala ilmu, pangkal dari makrifat, dan jalan menuju Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebuah hal yang harus digaris bawahi disini, adalah slogan ‘ketahuilah dirimu’ tak mampu memberikan kita apa-apa untuk memahami filsafat Socrates, slogan itu hanyalah menyingkap kepada kita nilai akhlak yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-1682414001312447253?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/1682414001312447253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_5072.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1682414001312447253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/1682414001312447253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_5072.html' title='c. Socrates dan Akhlaq'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3761674927592092028</id><published>2008-11-11T14:11:00.000-08:00</published><updated>2009-06-14T15:56:09.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>d. Plato dan Negara Ideal</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Plato merupakan filosof yang pertama menyusun dan mengklasifikasi masalah dan problematika filsafat. Dia membahas masalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadhayah&lt;/span&gt; filsafat di berbagai dimensinya. Dia adalah pendiri institusi yang sangat popular waktu itu, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akademi&lt;/span&gt;. Akademi terambil dari nama seorang pejuang klasik Athena yang bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akadimus&lt;/span&gt; . Akademi ini semacam komunitas ilmiyah religius, di Akademi ini, dia mendirikan sinagog, dan proses pengajaran berlangsung di sana . Dari Akademi inilah lahir beberapa filosof besar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia. Di antaranya Aristoteles dan Thimawus.&lt;br /&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Plato merupakan seorang petuhan yang pertama dan peletak dasar dan sendi ketuhanan dalam sebuah metodologi filosofis . Tuhan di mata Plato adalah zat abstarak yang berakal, penggerak dan pengatur, indah dan kebaikan, adil dan sempurna. Dia adalah basíith yang tak tersusun, satu tidak plural, tetap dan kekal tak berubah, tak berawal dan tak berakhir . Demikian gambaran singkat gambaran filsafat metafisika Plato, sebuah filsafat yang sangat dalam dan luas, perlu pembahasan lanjut untuk mengupas dan mengurai filsafatnya.Tapi yang akan menjadi pusat perhatian kita disini adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mujtama’ mitsaly&lt;/span&gt;nya yang mendapat tempat yang layak di mata filosof Muslim, dan Farraby pada khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato dalam menelorkan gagasan dan buah idenya, dia banyak terpengaruh oleh metode gurunya, Socrates, yaitu sistem dialog. Diantaranya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fidon&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jumhuriyyah&lt;/span&gt;- Republic-. Dari yang terakhir inilah Plato menelorkan gagasannya. Dia memasukkan dalam dialognya ini syair dari Odessa untuk membantah atau menguatkan argumennya. Secara global kumpulan syair Odessa ini mencakup problematika alam, pemandangan kosmos, peperangan manusia dengan dewa laut, dan deskripsi para dewa yang menggelikan. Kumpulan puisi ini adalah sebagian besar merupakan mitos kuno masyarakat Yunani. Dari sini Plato ingin merubah kondisi sosial Athena waktu itu, dengan menekenkan pada aspek akhlak sosial demi menanamkan nilai keadilan pada masyarakat Athena. Sehingga filsafat idealisnya sangat terpangaruh pada aspek keadilan dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah negara muncul dan berdiri, di mata Plato, dari kebutuhan manusia terhadap pertolongan dari yang lainnya. Negara lahir ketika kebutuhan manusia tak mampu mereka penuhi dengan mengandalkan diri mereka sendiri . Sorang pedagang, untuk melancarkan aktifitas dagangannya, memerlukan transportasi, alat untuk berproduksi, dan orang yang menjaga dan mensuplai dagangannya. Demikian juga seorang petani, dalam bertani, dia memerlukan alat untuk membajak ladangnya, dan tentunya harus beriteraksi dengan tukang besi, dan seterusnya. Ketika manusia tak mampu memenuhi kebutuhan mereka dengan mengandalkan diri mereka sendiri, maka meniscayakan adanya interaksi sosial antara mereka. Tentunya ketika terjadi interaksi sosial, di sana akan terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan distorsi hak dan kewajiban tiap manusia. Sehingga kebutuhan dan keniscayaan ini memerlukan wadah untuk menampung mereka semua, serta memenuhi hak mereka secara adil. Dari premis ini terbangunlah kebutuhan manusia terhadap negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan sebuah negara, adalah menerapkan nilai keadilan di tiap kelas masyarakat dengan cara yang komprehensif. Keadilan ini merupakan aspek asasi dalam dialog &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Republic&lt;/span&gt;nya. Keadilan yang dimaksud Plato di sini, adalah setiap individu, baik itu sahaya atau merdeka, pria atau wanita, pekerja atau pemerintah, untuk konsisten dengan pekerjaan dan profesi masing-masing. Dia sangat melarang kepada golongan-golongan tersebut memasuki atau ikut campur pada medan yang bukan profesinya, karena itu akan mengantarkan kepada sebuah dekontruksi dan dekadensi sosial dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato membagi lapisan sosial kepada tiga kelas yaitu:&lt;br /&gt;• Penguasa, keistemawaan mereka adalah hikmah yang mereka miliki. Hikmah merupakan pengetahuan yang paling tinggi, yaitu pengetahuan mengatur sebuah negara, dan mampu membimbing kepada kebajikan yang mutlak. Kelas ini merupakan kelas yang tertinggi. Kelas ini hanya mampu diisi oleh seorang filosof.&lt;br /&gt;• Golongan militer, keutamaan yang mereka miliki, adalah jiwa kesatria yang terpatri dalam jiwa mereka. Mereka memiliki jiwa yang tegar, pengalaman yang luas, pandangan yang panjang, dan kekuatan fisik yang mendukung. Kalangan ini bertugas untuk melindungi negara dan membela serta melawan musuh yang merusak kestabilan sebuah negara.&lt;br /&gt;• Kelas umum, tercermin pada golongan pedagang, petani, dan segala bentuk profesi lainnya. Mereka adalah yang menangani komuditi dan perekonomian sebuah negara, produksi dan ekspor negara. Jiwa mereka terpancar nilai kesucian dan keinginan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato meyakini bahwa tiap manusia memiliki mawahib dari ketiga golongan diatas. Tiap manusia telah dibekalkan dalam dirinya, dari Tuhan, salah satu dari tiga profesi diatas. Plato juga menyerukan untuk menyatukan misi dan visi dalam menghadapi kondisi krisis yang menimpa sebuah negara, dalam keadaan tertentu. Sehingga gambaran sebuah negara adalah seperti tubuh, jika salah satu bagiannya terkena sakit maka yang lain tentunya akan merasakan sakit yang sama. Bahkan Plato menganggap sebuah negara yang ideal adalah negara yang berkongsi pada wanita, anak-anak, tak ada yang memiliki harta pribadi, dan tempat tinggal pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato juga meyakini, bahwa kesengsaraan manusia tak pernah hilang dan terhapus, kecuali pemimpin yang mengatur negara itu adalah seorang filosof. Dengan kata lain, bahwa pemimpin harus memadukan antara kemampuan politik yang dimilikinya, serta kemampuan berfilsafat yang dia geluti. Seorang pemimpin dimata Plato harus memenuhi kriteria di bawah ini untuk mampu menjadi seorang politisi filosofis:&lt;br /&gt;•Fitrah yang suci dan murni yang berpotensi kepada segala bentuk jenis                   pengetahuan.&lt;br /&gt;•Kecintaan terhadap Eksistensi yang Absolut, yang tak terhapus oleh zaman, dan tak berubah di masa kritis.&lt;br /&gt;•Kecintaan terhadap kebenaran dengan cinta yang sebenarnya, dan kebencian terhadap kebohongan dan penipuan dengan kebencian yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;•Menanggalkan ketamakan material.&lt;br /&gt;•Kesucian dari kerakusan syahwat, dan kepentingan duniawi.&lt;br /&gt;•Menghindari dari memandang remeh sesuatu, karena itu merupakan musuh besar dari orang yang menghiasi jiwanya dengan dimensi transendental.&lt;br /&gt;•Zuhud dari kehidupan dunia, dan tak takut dalam menghadapi kematian, karena jiwa yang besar adalah dan pemikiran yang dipancari oleh sinar-sinar ketuhanan, tak melihat dalam kehidupan dunia ini sesuatu yang mampu menarik dan menawan hatinya.&lt;br /&gt;•Kesuacian hati, interaksi yang lemah lembut, adalah merupakan tanda dari akhlak filsafat.&lt;br /&gt;•Pikiran yang tanggap, kekuatan intelektual yang tinggi, pecinta keindahan, kesucian jiwa, adalah merupakan sifat yang signifikan dalam nilai substansi filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah negara ideal Plato, selanjutnya akan sangat mempengaruhi Farraby dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madinah Fadhilah&lt;/span&gt;nya. Farraby merupakan sorang filosof muslim yang sangat menaruh perhatian pada masalah sosial. Sehingga Farraby dalam dunia Islam dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘shahib madinah fadilah’&lt;/span&gt;. Yang menjadi perhatian kita di sini adalah fikrah Farraby dalam menyikapi sang pemimpin negara idealnya. Dia berusaha menggabungkan antara wahyu langit dan bahasa akal. Sehingga dialah yang pertama menafsirkan problematika kenabian dengan metode filosofis . Selain menyebutkan syarat yang disebutkan Plato, sebagai kriteria pemimpin negara ideal. Farraby menambahkan sebuah syarat yang tak tepikirkan oleh Plato, yaitu seorang pemimpin negara ideal harus menggapai derajat penyatuan terhadap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;intellect active&lt;/span&gt; - dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; inilah cipratan wahyu dan ilham akan tercurah kepada pemimpin negara ideal itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aql fa’al &lt;/span&gt;ini merupakan salah satu dari akal yang sepuluh, yang mengatur komos ini. Kenabian dan kerasulan juga berasal dari penyatuan dirinya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; ini. Seorang nabi mampu bersatu dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt; karena mampu melepaskan jeratan-jeratan nafsu dan syahwat, dan dengan berfikir dan bertafakkur. Sehingga para nabi mampu menuju kederajat dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql mustafad&lt;/span&gt; –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;intellectual acquirs&lt;/span&gt; -, dan akhirnya mampu mendapatkan pancaran berupa wahyu ilahy dalam dirinya. Demikian juga seorang manusia, dapat bersatu, dan merasakan kelezatan spiritual dengan penyatuan dirinya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;aql fa’al&lt;/span&gt;, dengan cara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tafakkur&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nazhar&lt;/span&gt;. Maka nantinya akan menggiring kepada fikrah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘kasbiyyah nubuwwah’&lt;/span&gt; atau kenabian dapat diperoleh dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mujahadah nafsiyah&lt;/span&gt;, bukan dengan anugerah dari Allah. Apa yang dicapai oleh Farraby, merupakan pemikiran yang sangat berbahaya jika jatuh kepada golongan yang tak bertanggung jawab. Sebab dari pemikiran ini akan mengantarkan kita kepada sebuah konsikuensi yang liar, jika tak digunakan sebagaimana sang empu menginginkannya. Dari pemikiran ini, Syi’ah menopang slogan ‘qudasah a`immah’ dan membuka jalur langit yang sebelumnya telah tertutup. Tak heran, ketika golongan Syi’ah yang ekstrim ada yang berkeyakinan bahwa suatu saat nanti akan muncul Imam yang akan menghapus syariat Muhammad dan membawa syariat baru. Demikian juga golongan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bathiniyyah&lt;/span&gt; yang mengklaim, bahwa dengan mengetahi bathin dari sesuatu akan meruntuhkan kewajiban, dengan beralasan bahwa itu wahyu yang mereka dapatkan. Lebih ironis lagi, ketika pemikiran Farrabi ini jatuh di tangan orang atheis, yang sengaja ingin menghancurkan Islam, Ibnu Rawandy misalnya, akibat fikrah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kasbiyyah nubuwwah&lt;/span&gt; maka dengan terang-terangan membantah kenabian. Pengingkaran terhadap kenabian merupakan aksi nyata terhadap penafian tuhan. Sebab atheisme dalam Islam lahir ketika seseorang dengan jelas menafikan kenabian, jangan tunggu sampai seseorang mengatakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘tuhan telah mati’&lt;/span&gt;, setelah itu kita mengatakan bahwa itu adalah sebuah ajaran atheis. Akan tetapi atheis tercipta ketika seseorang menafikan nubuwwah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3761674927592092028?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3761674927592092028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3761674927592092028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3761674927592092028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan_11.html' title='d. Plato dan Negara Ideal'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-7581019032985403339</id><published>2008-11-11T13:59:00.000-08:00</published><updated>2009-06-14T15:56:47.709-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>e. Aristoteles dan Mantiq Shury</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap dari kita pasti pernah mendengar nama Aristoteles, semua orang yang menggeluti dunia akademis, mungkin pernah berinteraksi dengan nama ini. Kemasyhuran dia miliki cukuplah menjadi argumentasi akan kedudukan dan tempat Aristoteles dalam filsafat manusia. Dialah orang yang paling berpengaruh dalam dunia metodologi manusia, baik yang menolak atau yang mengidolakannya, tak akan mempengaruhi ketenaran Aristoteles. Tentunya untuk menyelami dan menggeluti filsafatnya makalah yang sederhana ini tak akan mampu untuk membahasnya. Sehingga di sini kita akan menekankan pada ilmu logik yang dia kemukakan. Yaitu yang kita kenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mantiq shury&lt;/span&gt;, dan itu telah kita pelajari di Azhar di tingkat satu dan tingkat dua. Jadi saya tak perlu lagi mengupas lebih dalam lagi masalah itu. Namun di sini saya berusaha memaparkan gambaran singkat mantiq Aristo dalam dunia Islam, serta pengaruh yang ada dalam mantiqnya ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Organon merupakan karya Aristoteles yang di terjemahkan ke dunia Islam, Organon ini, ketika diterjemahkan kedalam bahasa Arab, tak lepas dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ta’liq&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syarah d&lt;/span&gt;ari pengagum Aristoteles, diantaranya Alexander Ifradousi, dan Pourpiyus. Penerjemah yang paling terkenal dalam dunia Islam adalah Hunain bin Ishaq, dan Bassyar bin Mathiyus, dan Yahya bin Ady. Mereka semua dari kalangan Nasrany . Selanjutnya penafsir dari mantiq Aristoteles pertama dari golongan Islam adalah Al-Kindy sehingga dia dikenal sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘mu’allim tsany&lt;/span&gt;'. Namun penafsir terbesar di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;middle age&lt;/span&gt; dan paling berpengaruh pada masa renaissance adalah Ibnu Rusyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin dalam menerjemahkan dan menjelaskan mantiq Aristoteles, tak hanya mengikuti dan membebek begitu saja, akan tetapi dia menambahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maddah-maddah&lt;/span&gt; baru yang tak ada dalam mantiq Aristoteles. Misalnya korelasi bahasa dan makna dalam pembentukan pemahaman, subtansi dari makna sebuah kata, metode penetuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;illat&lt;/span&gt;, dan lebih jauh lagi kaum muslimin membahas tentang metode dari bentuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qiyas&lt;/span&gt; –analogi- Aristoteles . Demikian juga kaum muslimin mampu melancarkan serangan kepada mantiq Aristoteles. Bahkan kaum muslimin ketika menyerang dan membantah mantiq Aristoteles, tak hanya menggunakan satu metode saja. Mereka menggunakan beberapa metode dalam mengeritik mantiq Aristoteles, diantaranya metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;isyraqy&lt;/span&gt; sebagaimana yang dilakukan oleh Sahruwardy , metode &lt;span style="font-style:italic;"&gt;istiqra&lt;/span&gt; dan penelitian sebagai mana yang dilakukan oleh para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ushuliy&lt;/span&gt;, dan metode Ibnu Taimiyyah yang belum pernah ada . Namun yang perlu diperhatikan di sini, adalah perbedaan mendasar antara metodologi kaum muslimin dengan metode kaum Yunani, Aristoteles pada khususnya. Aristoteles begitu tepengaruh pada bentuk dan format segala sesuatu, sehingga menurutnya, bentuk dan format sesuatu lebih mendahului dari materi yang membentuknya. Sehingga penekanan dalam analoginya adalah bentuk –format- dari premis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qiyas&lt;/span&gt; itu sendiri. Berbeda dengan metodologi kaum muslimin, dia lebih menekankan pada aspek dari sebuah materi. Sehingga untuk melahirkan sebuah hukum yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kully&lt;/span&gt; diperlukan sebuah peneletian yang mencakup semua elemen dari sebuah masalah. Demikian juga diperlukan sebuah metode induktif –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;istiqra`&lt;/span&gt;- terhadap setiap &lt;span style="font-style:italic;"&gt;juz`i&lt;/span&gt;  dari sesuatu. Agar nantinya dapat mengetahui &lt;span style="font-style:italic;"&gt;illat&lt;/span&gt; dari sebuah hukum. Kaum muslimin dalam menganalisa sebuah kasus, harus memastikan kesamaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;illat&lt;/span&gt;, barulah mereka memfatwakan sebuah hukum. Sehingga metode mereka lebih menekankan pada percobaan dan metode induktif, dan metode ini merupakan salah satu metode abad moderen. Imam Syafi’i merupakan orang pertama dalam dunia Islam yang menelorkan dan menciptakan ini. Tak heran ketika Samy Nassyar begitu menyanjungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, kaum muslimin mendirikan dan membangun pemikirannya melalui Alquran dan Sunah Nabi, sehingga dasar dari kerangka berfikir mereka terbangun dari kedua dasar ini. Sehingga apa yang ditetapkan oleh Alquran dan Sunnah merupakan sebuah kebenenaran yang pasti dan tak dapat diganggu gugat, selama itu tidak multi tafsir. Ketika nash itu multi tafsir maka mereka mengalihkan kepada makna yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rajih&lt;/span&gt;, dengan melihat situasi dan kodisi yang ada. Sehingga dari sini akan lahir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mashalih mursalah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;istihsan&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sadd zara’i&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syar min qablina&lt;/span&gt;. Sehingga metode Islam sangat fleksibel, dan bersinergi dengan zaman yang ada. Inilah perbedaan yang sangat substansial dengan metode Aristoteles, yang terlalu terfokus pada bentuk dan format pada dari sebuah analogi. Namun perlu penggalian lebih dalam lagi untuk memahami metode muslimin dan korelasinya dengan mantiq Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tamat...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-7581019032985403339?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/7581019032985403339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7581019032985403339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7581019032985403339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/islam-dan-yunani-antara-bumi-wahyu-dan.html' title='e. Aristoteles dan Mantiq Shury'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-2478471959531966386</id><published>2008-11-09T12:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T13:13:41.230-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Kesedihan Syi’ah, Ada Apa???</title><content type='html'>Abu Faraj Isfihany dalam muqaddimah kitabnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maqatil Thalibin&lt;/span&gt; berkata: “Kami menyebutkan dalam buku ini, kisah pembunuhan anak-anak Abu Thalib. Mulai dari masa Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersekokongkol dalam pembunuhannya, baik itu dengan meracuni mereka sehingga mereka wafat. Atau mereka yang takut kepada pemerintah sehingga mengasingkan diri dan wafat dalam persembunyiannya. Atau mereka yang tertangkap oleh penguasa lalu dipenjarakan dan akhirnya meninggal dalam buih”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Kisah Syi’ah pada mulanya tak lebih dari goncangan jiwa yang dirasakan oleh kaum muslimin. Sebuah keniscayaan yang terjadi ketika anak, cucu dan keturunan dari orang yang sangat kita cintai dibunuh dan dibantai di depan mata kepala kita. Hati siapa yang tidak sakit, yang mendengar Hasan mati diracuni? Padahal sebelumnya dia telah memberikan kekuasaan kepada Mu’awiyah dan berdamai kepadanya! Dia rela mengorbankan kekuasaannya, bahkan dengan jiwa yang dimilikinya. Demi menjaga dan membela darah kaum muslimin, agar tak tertumpah lagi. Hati siapa tak akan miris, melihat kepala Husain diarak menuju Syam, demi menjadi persembahan kepada Yazid bin Mu’awiyah? Bahkan anaknya yang masih kecil pun, Ali Zain Abidin hampir menjadi korban sabetan pedang panglima perang Yazid. Untungnya kala itu, para wanita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;alu bait&lt;/span&gt; memelas dan memohon dengan susah payah agar anak yang mungil ini dibebaskan! Hati siapa yang tak akan terbakar oleh api dendam, melihat jasad Zaid bin Ali -anak Ali Zainal Abidin- ditancapkan di tiang kota Kufah? Seolah dengan membunuhnya merupakan sebuah kebanggan terbesar yang dimilikinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Betapa memilukan ketika melihat keturunan Rasulullah diperlakukan dengan semena-mena oleh para penguasa. Ketika semua itu terjadi maka akan bermunculanlah ratapan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hija`&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ritsa&lt;/span&gt; yang dilantunkan oleh seluruh umat Islam, kecuali penduduk Syam, markaz dan ibu kota dinasti bani Umayyah. Akibat dari kejadian yang sangat memilukan ini, berupa keberanian untuk menghina dan mencela keturunan Rasulullah yang suci ini. Beberapa akidah liar bermunculan demi menjustifikasi perbuatan para penguasa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ijbariyah&lt;/span&gt; merupakan konsekuensi dan senjata ampuh untuk melegitimasi kezaliman yang merajalela. Sebuah penafsiran yang semena-mena terhadap Alquran, di mata mereka kejahatan dan kezaliman yang mereka lakukan sudah menjadi ketetapan Tuhan di zaman azal. Mendengar hal ini Hasan Bashri sangat geram dengan perlakuan mereka, dan mengatakan bahwa, “mereka adalah musuh Allah yang mendustakan ayat-ayat-Nya”. Selanjutnya dari keberanian para penguasa dalam menyetir dan membelokkan ayat Alquran, maka menjadi salah satu pemantik dan pemicu ajaran-ajaran miring dalam dunia Islam. Bahkan golongan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mulhid&lt;/span&gt; dalam Islam, salah satu pemicunya adalah keberanian penguasa sebelumnya menghina dan menjelekkan, baik itu Ali ra. ataukah keturunan Rasulullah. Ini satu sisi akibat perlakuan kasar penguasa terhadap kerabat Rasulullah saw. Ini adalah salah satu dimensi kelam akibat kejadian Karbala yang sangat memilukan dan mengobarkan api dendam. Di segi lain juga menimbulkan penyesalan yang berlarut-karut pada masyarakat Kufah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari peristiwa Karbala disana ada beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mauqif&lt;/span&gt; ,dan akhirnya nanti akan menjadi ladang subur tumbuhnya benih-benih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghulat&lt;/span&gt; di tubuh Syi’ah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mauqif&lt;/span&gt; yang pertama, berupa pembalasan dendam terhadap para pembunuh Husain. Pada mulanya ini hanya berjalan normal di tangan Mukhtar bin Abu Ubaid Tsaqafi,-anak sahabat Rasulullah, Abu Ubaid Tsaqafi, dia adalah panglima perang Umar bin Khatthab, dan syahid dalam peristiwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jisr&lt;/span&gt;.- dan di bawah kontrol Muhammad bin Hanafiyah. Namun akibat pengaruh dari kepercayaan kaum Majusi dan beberapa kepercayaan yang masih tersisa di Kufah, menambah keruh keadaan ini. Sehingga bermunculanlah mitos-mitos yang tak pernah ada dalam Islam. Diantaranya Muhammad bin Hanafiyah adalah sang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mahdy&lt;/span&gt; yang disembunyikan oleh Allah di bukit Radhwa, akibat keteledorannya mengunjungi khalifah Umayyah. Dikanannya ada harimau dan di kirinya ada serigala, dia mendapatkan makanan dari sumber madu dan mata air yang jernih. Dan jika saatnya tiba, dia akan keluar memerangi kejahatan dan memenuhi alam ini dengan keadilan. Selanjutnya kepercayaan ini bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kisaniyah&lt;/span&gt;. Dan Kisaniyah akan terus tumbuh subur dalam Islam, Abu Ja’far Manshur pendiri dinasti Abbasiyah,-kerajaan terbesar di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ashr wushta&lt;/span&gt;-berhutang budi pada keyakinan Kisaniyah. Bukan cuman itu, Hamdan bin Asy’at,-pendiri Qaramithah-akhirnya membentuk gerakan separatis yang bertujuan menggulingkan dinasti Abbasiyah. Dan itu berhasil, bahkan Abu Tahir,-pemimpin Qaramithah yang paling disegani- berhasil memasuki masjid Haram dan membantai kaum muslimin yang sedang melakukan haji. Tatkala dia mengambil Hajar Aswad dan membawa ke markasnya. Dia sempat berkata, “sudah berapa lama kau disembah, namun kezaliman terhadap alu bait masih terjadi dan sang mahdy belum muncul juga”. Ironisnya lagi waktu itu, kaum muslimin berhaji selama 23 tahun tanpa mencium Hajar Aswad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mauqif&lt;/span&gt; yang kedua, akibat kesedihan yang berlarut-larut yang dialami oleh kaum muslimin. Khususnya masyarakat Kufah, yang berjanji membantu Husain ra. membantu beliau untuk menghadapi penguasa yang lalim. Namun mereka ternyata mengingkari janji mereka dan membiarkan Husain dibantai di Karbala. Rasa bersalah ini, membuat dada mereka semakin sesak dengan penyesalan. Akhirnya muncullah sebuah aktifitas yang tak pernah dikenal dalam Islam, yaitu gerakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tawwwabun&lt;/span&gt;. Yang membunuh diri mereka sebagai balasan ketidaksetiaan mereka terhadap janji mereka kepada Husain. Di sisi lain akibat kepedihan yang diderita di Karabala, mulailah bermunculan akidah dan kepercayaan liar yang sebelumnya tak pernah ada. Pada awalnya, ini hanyalah aktifitas ratapan yang sangat sederhana yang dialami oleh masyarakat Kufah. Dan lebih lagi jika hal ini, terjadi di kalangan para wanita Kufah. Maka akan semakin memperkeruh keadaan dan akan menambah buruk citra dinasti Umayyah di kemudian hari. Di Kufah tepatnya ada dua tempat,  yang menjadi lahan subur tumbuhnya benih-benih ekstrim dalam tubuh Syi’ah. Yang pertama di rumah Hindun binti Na’ithiyyah dan kedua di rumah Layla binti Qumamah. Kedua rumah ini adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halaqah&lt;/span&gt; untuk membentuk kader dan simpatisan Syi’ah, demi merongrong kedaulatan dinasti Umayyah. Dari kedua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halaqah&lt;/span&gt; ini, lahirlah Abdullah bin Nauf. Dia adalah orang yang pertama menyerukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fikrah bida`&lt;/span&gt; dalam Islam. Sehingga jelas bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halaqah&lt;/span&gt; dari Hindun dan Layla, adalah medan yang empuk untuk tumbuhnya penafsiran Alquran dengan metode Syi’ah dan tentunya ladang benih pemikiran Gnosis dalam Islam. Dan kemudian akan diperkeruh oleh para zindiq dan orang-orang yang sengaja ingin menghancurkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya setelah peristiwa Karbala yang memilukan itu, bermunculanlah aliran dan sekte yang mengatasnamakan Islam. Pada mulanya adalah keinginan untuk mengkudeta penguasa yang ada. Namun karena sebagian besar gerakan revolusi mereka gagal dan pemimpin mereka tewas di medan perang dengan sangat sadis,-salah satu kebiasaan bani Umayyah, ketika berhasil menghentikan perlawanan dari Sy’ah. Mereka mengarak kepala panglima perang Syi’ah dan di pertontonkan di khalayak ramai.-  sehingga membuat mereka putus asa. Kesedihan yang berlarut, ditambah kegagalan yang tertuai di mana-mana, membuat mereka mencari tempat yang pas untuk menumpahkan rasa depresi mereka. Salah satunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fikrah ruj’ah&lt;/span&gt;, bahwa yang mati bukanlah pemimpin mereka. Yang mati hanyalah syetan yang diserupakan dengan pemimpin mereka! Jika Allah mampu menyelematkan Isa dari kejaran Yahudi, mengapa tidak Allah mampu menolong pemimpin mereka yang nota bene adalah penolong Rasulullah, kekasih-Nya yang Dia cintai? Dari rasa depresi yang mendalam ini juga, lahirlah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fikrah imam muntazhar&lt;/span&gt; atau messianik, demi menampik rasa kegagalan yang mereka rasakan. Sehingga imam yang dua belas merupakan cerminan dari sikap ini. Demikian juga gerakan Ismailiyyah lahir dan medapatkan tempat yang pas, ditengah orang-orang yang merasa keterpurukan yang mendalam. Ironisnya, komunitas ibahy atau komunitas permisif yang sebelumnya tak ada dalam Islam. Komunitas yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh syari’at, menghalalkan khamr, komunitas yang menghalalkan berhubungan dengan wanita mana saja, yang membatalkan kewajibat salat, bahkan menghalalkan darah kaum muslimin, muncul ditengah itu semua. Semuanya dengan berdalih atas nama imam. Dengan mengetahui sang imam, maka taklif akan runtuh. Demikian juga hal yang sangat disayangkan, mengapa harus ada penghinaan terhadap para Sahabat, alih-alih Abu Bakar dan Umar. Jikalau kita mau obyektif, memang wajar mereka berbuat anarkis terhadap para penguasa-bani Umayyah-. Namun mengapa harus kepada Abu Bakar dan Umar? Apa salah mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekali lagi, dalam menghakimi Syi’ah, satu hal yang perlu kita tekankan. Yaitu kita tidak akan mampu menghakimi mereka dengan pendekatan psikologis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-2478471959531966386?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/2478471959531966386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/kesedihan-syiah-ada-apa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2478471959531966386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2478471959531966386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/kesedihan-syiah-ada-apa.html' title='Kesedihan Syi’ah, Ada Apa???'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8198550434874671059</id><published>2008-11-09T10:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T10:39:55.398-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Atomisme dan Manifestasi Kekuasaan Tuhan</title><content type='html'>Abu Huzail ‘Allaf adalah filosof Mu’tazilah yang pertama dalam dunia keilmuan Islam yang menelorkan qadhayah ini. Bahkan Abu Huzaillah, filosof pertama yang berusaha mengadopsi problematika filsafat dan membungkusnya dengan cover Islam. Sehinggga tak heran ketika Samy Nassyar mengatakan bahwa, “dialah filosof Islam yang pertama”. Bukan tak beralasan, Abu Huzail mampu menunjukkan identitas muslimnya, ditengah pergolakan pemikiran yang terjadi di dunia Islam kala itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Sebelumnya, problematika metafisika begitu marak membahana di dunia Islam. Sehingga memancing Abu Huzail untuk turut menyelami samudra metafisik. Dia berusaha membentuk sebuah korelasi antara alam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘ulya&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sufla&lt;/span&gt;. Salah satunya, relasi antara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iradah&lt;/span&gt; Tuhan dengan alam ini. Alam dalam kacamata Abu Huzail adalah berubah dan tidak tetap. Sehingga terapi untuk problematika ketidaktetapan alam ini, ditawarkanlah sebuah solusi atomik. Selanjutnya di dunia Islam disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;juz`u la yatajazza`&lt;/span&gt; atau sering diistilahkan dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jauhar fard&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Hal yang cukup menarik disini, disana tidak ada kontra dari musuh Abu Huzail tentang problematika &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jauhar fard&lt;/span&gt;. Khususnya dari kalangan Asya’irah, bahkan pemikir Asya’irah sendiri mengadopsi pemikiran ini. Dengan kata lain, musuh Abu Huzail telah rela dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ridho&lt;/span&gt; dengan pemikirannya. Walaupun yang nantinya membantah dan menolak pemikirannya ini, adalah Ibrahim Nazzham, -murid Abu Huzail sendiri- dan Ibnu Hazm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jauhar fard&lt;/span&gt;, didefinisikan oleh Abu Huzail sebagai, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“partikel atomik yang terjauh, sehingga tak mempunyai sisi dan volume, serta tak dapat disatukan atau di pisahkan”&lt;/span&gt;. Demikian yang disebutkan oleh Asy’ari dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maqalat&lt;/span&gt;nya. Defenisi ini terus dimodifikasi oleh para teolog Asya’irah dan terkulminasi pada definesi yang berikan oleh Jurjani dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ta’rifat&lt;/span&gt;nya yaitu,&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; “ parikel yang tak mampu lagi dipisahkan secara mutlak baik dari secara real (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kharijy&lt;/span&gt;) maupun secara hipotesis (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;furudh&lt;/span&gt;)”&lt;/span&gt;. Menurut Abu Huzail, segala sesuatu terbentuk dari jauhar fard, segala sesuatu dapat terpecah menjadi partikel-partikel yang sederhana ini. Ketika partikel-partikel ini menyatu maka terciptalah sebuah materi, sama halnya ketika mereka terpisah yang terjadi adalah kerusakan dan kehancuran materi itu. Sehingga jelas, bahwa alam maupun makluk hidup tercipta dari penyatuan partikel ini. Begitu juga kehancurannya, terjadi akibat dari benturan dan ketidakberatuan dari partikel itu. Bahkan Abdurrahman Badawy menambahkan bahwa, “karekteriktis tiap meteri tersusun dan terbentuk dari susunan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jauhar fard&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menilik interpretasi ‘Allaf tentang atomisme, sedikit terbetik adalah keserupaan pandangan ‘Allaf dengan para filosof Yunani. Baik itu pencetus pertama pemikiran ini yaitu Leucippus, yang kemudian diperhalus dengan sentuhan Democritus. Namun mereka bukanlah pemilik pemikiran ini, di kalangan pemeluk Hindu juga terdapat pemikiran seperti ini. Dari sinilah ‘Allaf menunjukkan identitasnya sebagai filosof muslim yang tak hanya membebek dengan apa yang datang sebelumnya. Baik itu dari peradaban Yunani, Helenistik, ataukah dari peradaban Hindu, yang semuanya sama mewarnai corak dunia Islam waktu itu. Bahkan tak jarang konfrontasi akal dan perdebatan terjadi di antara dua kubu, serupa dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;natural selection&lt;/span&gt;, yang benarlah yang menang. ‘Allaf mampu terlepas dari momok &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hylotheisme&lt;/span&gt;-paradigma yang menjadikan materi sebagai tuhan-, yang kelam menyelimuti Yunani di masa para filsosof mereka. Maka tak heran ketika Thales, Socrates, Plato, Aristoteles dan lainnya, belum mampu menerima paradigma &lt;span style="font-style:italic;"&gt;creatio ex-nihilo&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;khalqu min ‘adam&lt;/span&gt;. Sebagai mana yang dikatakan oleh Muhammad Bahiy. Dari keengganan menerima &lt;span style="font-style:italic;"&gt;creatio ex-nihilo&lt;/span&gt; inilah, yang akan melahirkan pemikiran ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;alam qadim&lt;/span&gt; ataukah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;maddah azaliyah&lt;/span&gt; dalam pemikiran filosof Yunani dan selanjutnya dianut oleh Ibnu Sina, Farrabi, Ibnu Rusyd dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada awalnya atomisme ditangan Democritus, Leukippus dan di kalangan Epicureanis tak lebih dari sekadar paradigma mekanik yang liar. Alam dan seluruh isinya dalam pandangan mereka tercipta dari partikel-partikel atomik ini. Demikian juga, partikel-partikel ini bergerak secara otomatis, dari gerakan otomatis inilah semesta tercipta. Bahkan mereka menganggap partikel-partikel ini azali dan kekal. Akhirnya bermuara pada penafian Tuhan dalam penciptaan ini dan menumbuh-suburkan benih–benih hylotheisme, yang telah tumbuh dengan liar di kalangan masyarakat Yunani pada masa itu, dan ‘Allaf mampu terlepas dari itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam kuliah yang disampaikan Oleh DR. Husaini Ghazali di universitas Al-Azhar menjelaskan bahwa,  di sana ada tiga perbedaan mendasar atomisme yang dianut oleh muslimin dan ‘Allaf khususnya, yang sangat bersebrangan dengan para penganut mazhab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dzurry&lt;/span&gt; Yunani dan Hindu. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, atom dimata ‘Allaf adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hadis&lt;/span&gt;-baharu-, berbeda dengan yang dianut oleh pendahulunya. Menurut mereka partikel-parikel ini azali dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qadim&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, partikel atomik ini tak mempunyai kemampuan untuk bergerak, diam, ataukah menciptakan sesuatu dengan secara otomatis. Akan tetapi seluruh aktifitas dari partikel atomik ini diatur dan dibentuk oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah, iradah&lt;/span&gt;, dan ilmu Tuhan. Sedangkan yang dianut oleh pendahulunya yaitu kemampuan otomatik yang dimiliki oleh partikel atomik ini. Ujungnya nanti berakhir kepada penafian Tuhan dalam aktifitas penciptaan dan kreasi semesta ini. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, atom ‘Allaf tak kekal dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fana&lt;/span&gt;, yang nantinya penafian terhadap reinkarnasi dan kekekalan alam ini. Berbeda yang dipercayai oleh golongan Hindu yang adanya reikarnasi dari kehidupan ini. Hal ini di amini oleh Samy Nassyar dan Abdurrahman Badawy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasar dari asumsi ini, Abu Ridah membantah pendapat Benis, seorang orientalis yang menganggap pemikiran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dzurry&lt;/span&gt; ‘Allaf hanyalah menjiplak pendapat Democritus sebelumnya. Bahkan dengan tegas Abu Ridah menganggap bahwa keserupaan di antara keduanya hanyalah sebatas nama saja. Disamping adanya perbedaan yang sangat substansial antara pemikiran ‘Allaf dengan pemikir penduhulunya baik itu Demucritos, Leukippus atau dari Hindu. Juga tidak ada nash yang pasti mengatakan bahwa ‘Allaf menjiplak pemikiran mereka. Lagi-lagi hal ini mengisyaratkan kepada kita, betapa luas dan betapa dalam wawasan ‘Allaf terhadap pemikiran yang beredar di dunia Islam waktu itu. Demkian juga menunjukkan bahwa filsafat Yunani tak mampu menghegemoni para pemikir dan filosof muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mungkin ada pertanyaan yang cukup mengganjal di benak kita. Apa tujuan ‘Allaf mengadopsi pemikiran seperti ini? Demikian juga, mengapa Asyairah mengambil dan mengikuti pendapat ‘Allaf? Apa kontribusi paradigma ini dalam menyikapi problematika metafisika yang mewarnai dunia Islam selanjutnya? Imam Asy’ary mamaparkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nash &lt;/span&gt;berikut dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maqalat Islamiyyin&lt;/span&gt;nya, yang mengisyaratkan tujuan diadopsinya pemikiran ini oleh ‘Allaf:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;...قال أبوالهزيل: إن الجسم يجوز أن يفرقه الله سبحانه و يبطل فيه من الإجتماع حتي يصير جزءا لا يتجزء...&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nash&lt;/span&gt; ini menggiring kepada kita kepada sebuah natijah yang hendak dicapai oleh ‘Allaf. Yaitu penetapan akan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iradah&lt;/span&gt; dan ilmu Allah swt. Selanjutnya untuk membantah akan kekelan zaman atau waktu. Karena menurut para filosof klasik, bahwa zaman merupakan sebuah rangkaian yang tak terbatas, dan tak terhingga. Jikalau segala sesuatu dapat dipecah menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jauhar fard&lt;/span&gt;, maka akan mudah untuk sampai kepada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;singularitas&lt;/span&gt; waktu. Tentunya akan menggiring kepada teori penciptaan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hadis&lt;/span&gt; dan baharu- baca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;creatio ex nihilo&lt;/span&gt;-. Demikian juga, kaum muslimin seluruhnya berkeyakinan bahwa kekuasaan Allah tak terbatas. Salah satu dari manifestasi penjabaran kekuasaanNya yaitu, Allah mampu memecahkan dan membelah sesuatu materi menjadi partikel atom yang paling terkecil. Sehingga tak ada lagi hipotesa yang mampu menjadikannya terbelah atau tebagi dua. Ini mungkin yang mungkin kurang dipahami oleh Ibnu Hazm ketika membantah ‘Allaf. Jauhar fard di mata ‘Allaf adalah atom yang yang tak dapat lagi dipecah maupun dibelah kesisi yang terjauh, walaupun itu menggunakan hipotesa akal. Sedangkan menurut Ibnu Hazm dan Nazzham, bahwa selama sesuatu itu mempunyai bentuk-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;shurah&lt;/span&gt;- maka hipotesa akal mampu memecahnya dan membelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Walaupun Ibnu Hazm dan Nazzham berselisih pendapat dengan ‘Allaf dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutakallimin&lt;/span&gt; umumnya. Disana ada sebuah benang merah yang menyatukan mereka, yaitu kemampuan Tuhan yang tak terbatas. Ketika Ibnu Hazm dan Nazzham berpendapat bahwa sesuatu tak mampu dipecahkan menjadi partikel yang terkecil. Disana ada rahasia di balik ini. Yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt;-kemampuan- Allah yang tak terbatas. Mereka meyakini ketika para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mutakallimin&lt;/span&gt; mengatakan bahwa Allah dengan qudrahNya mampu memecah dan membagi sesuatu menjadi yang paling terkecil. Maka, mereka membalik hipotesa ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Jikalau Allah mampu membaginya kesesuatu yang terkecil dengan qudrahNya. Mengapa tidak, Allah mampu memecahnya dan membaginya sampai kesesuatu yang tak terhingga dengan menggunakan qudrah yang sama???".&lt;/span&gt; Demikian bantahan Ibnu Hazm dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fishal&lt;/span&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Disisi lain, ketika ‘Allaf menelorkan paradigma atomiknya, maka di sana juga ada sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;natijah&lt;/span&gt; yang ingin ditujunya. Dia ingin sampai kepada sebuah penetapan kompleksitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qudrah&lt;/span&gt; Allah yang sempurna. Selain itu, dia ingin mencapai kepada seuatu yang lebih jauh lagi. Yaitu ¬komperehensitas dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kesyumulan&lt;/span&gt; ilmu Allah. Karena ketika sesuatu terbatas, maka dengan mudah untuk menetapkan, bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Demikian juga dengan menggunakan metode atomik ini Allaf mampu menetapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;iradah&lt;/span&gt; Allah Yang Mutlak. Dengan pemecahan partikel keatom yang terkecil mengisyaratkan bahwa, segala sesuatu itu mudah bagi Allah. Selama Allah menginginkannya. Sehingga tak ada susah maupun mudah di sisi Allah, karena Dialah Yang Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dari sini penulis melihat bahwa, ‘Allaf mengakui adanya tapal batas yang tak mampu dilampui oleh manusia. Walaupun itu hanyalah sebuah hipotesa dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;furudh&lt;/span&gt; semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari sini, kita melihat bagaimana kebrilianan ‘Allaf mampu mensinergikan semua potensi yang ada, demi memebentuk corak dan karakterstik kaum muslimin. Demikian terlihat jelas bagaimana ‘Allaf memfilter setiap kebudayaan yang ada. Tanpa harus membuangnya ataukah menolaknya. Akan tetapi dengan memanfaatkannya dengan jalan yang bijak. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhanaka laa ‘ilma lana illa ma ‘allamtana innaka Antas Sami’ul ‘Aliim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8198550434874671059?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8198550434874671059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/atomisme-dan-manifestasi-kekuasaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8198550434874671059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8198550434874671059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/11/atomisme-dan-manifestasi-kekuasaan.html' title='Atomisme dan Manifestasi Kekuasaan Tuhan'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-2883085750307565220</id><published>2008-10-07T18:39:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T15:17:49.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Ibnu Thufail Pendamai antara Agama dan Filsafat</title><content type='html'>Dia adalah seorang filosof Andalusy yang hidup setelah Ibnu Bajah dan Gazhali. Dia hadir ketika hawa panas perdebatan filsafat, masih membahana di dunia Islam waktu itu. Takfir yang dilakukan Al-Gazaly masih menjadi momok bagi para sarjanawan muslim untuk menyentuh dan bergelut dengan literatur filsafat. Hal ini terlihat jelas dengan warna dan corak yang ditinggalkan Ghazali terhadap karya-karya yang mendominasi waktu itu. Misalnya banyak terjadi di pemikir Asya’irah yang berusaha menyembunyikan ajaran filsafat dilembaran karya kalamiyah. Namun beberapa Ulama berusaha mengeluarkan filsafat dari kerangkeng dan jeratan Al-Gazaly dan berusaha mendamaikan kedua kubu ini, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kedua filosof agung ini yang nantinya akan melancarkan jalan Ibnu Rusyd untuk mebangun puing-puing filsafat yang telah diporak-porandakan oleh Ghazali. Namun sebuah poin khusus untuk Ibnu Thufayl adalah ketika merekontruksi bangunan filsafat, dia berusaha mendekati Ghazali dengan pendekatan pisikologis. Hal ini tercermin jelas dalam kisah fiktifnya yang terkenal yaitu; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hayyu bin Yaqazhan&lt;/span&gt;. Gazaly oleh sebagian orang adalah orang yang pengecut, dia adalah tokoh yang setelah menghujam filasafat hatta hampir membunuhnya, justru melarikan diri dari sengitnya perdebatan, melalui tejun keduni tasawwuf. Poin terakhir ini yang menjadi nilai minus buat sang Imam kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dunia fiilsafat Islam yang begitu kelam, muncullah sang filosof yang sangat mumtaz ini. Dia datang mencoba mendamaikan antara kubu Al-Gazaly yang disini mewakili rayah diniyah danIbnu Sina, Farraby dan Al-Kindy yang membawa rayah falsafiyah. Dia mencoba mempersandingkan mereka ditempat yang satu dengan yang lainnya sejajar. Satu tempat ketika agama memandang falsafat tak perlu dengan tatapan sinis. Begitu juga ketika filsafat dan agama berpapasan, sang filosof tak perlu ketakutan dengan ancaman takfirnya. Ibnu Tufayl mendamaikan mereka dibawah tangan Hayyu bin Yaqazhan. Sebuah kisah fiktif yang dibuat oleh Ibnu Thufail untuk mendamaikan mereka yang nota bene mendamaikan antara agama dan filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayyu bin Yaqazhan dikisahkan sebagai seorang yang terbuang disebuah pulau sejak dia masih bayi. Tak ada yang menemaninya disana dia menyusu dari seekor rusa, dia menjalani kehidupannya sendiri, dia belajar untuk masak, makan, minum, berpakaian serta menjadi seorang manusia yang sempurna dengan sendiri. Hayyu bin Yaqazhan berusaha menyingkap tabir kehidupan serta, alam setelah kematian, dengan sendiri. Dia berusaha memikirkan penciptaan langit dengan sendiri. Namun, dia sadar bahwa dia tidak mampu memikirkan keluasan dan ketakterhinggaan langit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia mengetahui keterbatasannya itu, dia mengetahui bahwa disana ada Tuhan yang menciptakan dirinya, serta semesta ini. Dia tahu bahwa Tuhan yang menciptkan ini harus disifati dengan sifat dengan sifat yang betul-betul berbeda dengan makhluknya. Serta Sang Pencipta harus betul maha segala-galanya. Namun, dia tidak bisa memastikan apakah alam ini telah senantiasa ada bersama Tuhan (qadim), ataukah alam ini baru (hadits). Sebab ketika dia meyakini akan kejadian alam yang senatiasa tunduk pada hukum kausalitas pada ujungnya nati dia akan berpendapat bahwa alam ini senantiasa qadim. Namun ketika dia menemukan bahwa kadang ada sebuah perkara yang selamanya tidak mesti tunduk kepada hukum kausalitas, maka dia berpendapat bahwa alam ini hadist. Dia pusing, dia tak dapat menjawabnya, sebagaimana dia tak mampu untuk memastikan bahwa dari mana alam ini diciptakan bahwa alam ini diciptakan dari kekosongan yang mutlak (creatio ex nihilo) atau ada sebuah madah yang senantiasa ada bersama Tuhan? Dia menyerahkan ini pada penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia beranjak kepada dirinya sendiri, ketika dia merasa tak mampu untuk menjawab hal-hal yang melangit. Dia kembali kebumi. Kini dia berusaha menjawab pertanyaan apa yang terjadi ketika dirinya telah meninggal. Dia terilhami ketika rusa yang menyusuinya selama ini mati. Dia pun menyelidiki penyebab kematian rusanya itu. Dia tak mendapati apa-apa. Kini dia berpendapat bahwa rusa yang meninggal itu sama seperti kejadian alam yang lain. Seperti siklus kehidupan ada yang datang ada pula yang pergi. Saat itu dia mulai berpikir apakah ketika dia meninggal? Akankah berakhir kehidupan ini? Ataukah disana ada kehidupan yang lain yang akan memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik dan siksaan kepada orang yang berbuat jahat? Dia berkesimpulan bahwa disana ada kehidupan setelah kehidupan ini.!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpikir dan merenung untuk berapa waktu ... Dia merasa bahwa dirinya telah matang untuk meninggalkan pulau itu serta dia bertanggung jawab untuk menyebarkan kebenaran yang diperolehnya itu kepada orang lain. Agar yang lain dapat menikmati dan mencicipi sebuah kebenaran yang hadir dari fitrah manusia yang tulus dan ikhlas untuk mencari sebuah kebenaran. Dia bertekad untuk meninggalkan pulau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama menunggu kapal yang melintasi pulaunya akhirnya diapun menemukan sebuah kapal yang akan mengantarkan dirinya kepulau seberang. Dia tiba di pulau yang ingin ditujunya. Di pulau itu dia mendengar tentang ajaran seorang Nabi, dia mencari tahu tentang ajaran sang nabi itu. Dia berkenalan dengan dua orang teman barunya, yang kebetulan mereka memeluk ajaran yang disampaikan oleh sang Nabi tadi. Mereka menyampaikan isi ajaran Nabi mereka kepada Hayyu bin Yaqazhan. Dia terkejut. Dia melihat bahwa ajaran Nabi itu serupa dengan apa yang selama ini didapatkannya. Dia lalu beriman dan meyakini ajaran Nabi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ketiganya akrab. Hayyu bin Yaqazhan menceritakan pengalamannya selama ini. Salah satu dari kedua temannya, adalah seorang ahli syariat yang tekstual. Dia bernama Salaman, temannya yang satu ini pun marah kepadanya dan menganggap bahwa akal tak mampu menemukan hakikat pencipta kecuali dengan wahyu yang diturunkan oleh Sang Pencipta kepada manusia. Salaman pun mengusirnya. Tapi dia masih memiliki seorang teman yang masih setia bersama dia, yang bernama Absal. Absal adalah seorang ahli sufi. Setelah lama berdiskusi dengan Absal, Hayyu bin Yaqazhan pun berniat kembali bersama Absal kepulaunya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Dia memang harmonis bersama dan cocok bersama Salman. Niat mereka untuk kembali kepulaunya telah bulat. Ketika hendak meninggalkan pulau itu dia pamitan dengan Absal, serta memohon maaf kepadanya beserta ulama yang ada di pulau itu. Dia akhirnya meninggalkan pulau itu bersama Salman, menuju pulau yang yang ditinggalinya selama ini. Dia bersama Salman hendak menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sekelumit kisah Hayyu bin Yaqazhan yang lebih sebuah metode simbolis yang di gunakan oleh Ibnu Tufail, untuk menyatukan antara agama dan filsafat. Tentunya masih perlu sebuah interpretasi yang lebih mendalam, untuk menguraikan makna dan penjabaran lebih lanjut tentang metafora yang ada dalam kisah ini. Lain kali kita lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-2883085750307565220?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/2883085750307565220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/ibnu-thufail-pendamai-antara-agama-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2883085750307565220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2883085750307565220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/ibnu-thufail-pendamai-antara-agama-dan.html' title='Ibnu Thufail Pendamai antara Agama dan Filsafat'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-8905719479672028675</id><published>2008-10-07T14:31:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T14:38:57.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Ramadan'/><title type='text'>Kado Lebaran dari Refleksi Ramadan</title><content type='html'>Memoar indah yang kita ukir di bulan Ramadan, kini tak terasa harus tergeser oleh putaran roda sang waktu. Lantunan kalam Ilahy yang indah bergema ditelinga, tak terasa harus senyap ditelan oleh suara mesin. Damai dan gelak tawa yang riuh di Maidatur Rahman, kini harus berakhir dengan berakhirnya Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ramadan harus menepi, digeser fajar syawal yang telah terbit. Rasa rindu dan sesal ikut mengiringi kepergian Ramadan. Rindu akan selalu terngiang di hati para pendamba kelezatan spiritual. Sesal akan selalu mengahantui jiwa yang acuh terhadap kepergian Ramadan. Namun semuanya itu telah pergi, dan telah terekam dalam catatan para malaikat penjaga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akihirnya sebulan sudah, menempa diri di madrasah Ramadan. Menghambat jalan syetan dalam diri dengan menyempitkan pembuluh darah, melalui rasa lapar dan dahaga. Menghangatkan kembali nilai harmonis dengan Sang Pencipta, dengan menambah kualitas ibadah. Memintal rajutan silaturahim yang dulunya renggang, dengan berasimiliasi dengan kaum dhu’afa. Semuanya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup untuk sebelas bulan kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ramadan telah pergi dan meninggalkan kado kepada kita semua. Baik itu berupa rasa rindu yang terpatri dalam jiwa, ataukah rasa sesal yang menyemat kalbu. Semuanya akan menjadi butiran refleksi dalam hati untuk memperbaiki kualitas keimanan yang tertancap dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kini fajar Syawal telah terbit, saatnya untuk mengimplementasikan kado dan hadiah yang dapat kita tuai di bulan Ramadan yang telah berlalu. Baik itu berupa konsistensi untuk tetap merapatkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Ataukah senantiasa untuk mengharmonisasikan link horizontal kita dengan sesama makhluk. Keduanya merupakan hal yang sama pentingnya untuk menjalani liku hidup yang begitu terjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah menjadi tradisi yang mengiringi kedatangan ‘idul fitri, tradisi saling memaafkan dan menghalalkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain atau yang kita lakukan terhadap orang lain. Tradisi ini begitu familiar di telinga kita, yaitu halal bi halal. Seolah lebaran tak akan sempurna tanpa perayaan even ini dan itu telah menjadi darah daging dalam  tradisi keagamaan kita. Walaupun sederhana tapi halal bi halal ini memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi, dalam mengupayakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Jalinan persaudaraan yang dulunya renggang, dengan adanya lebaran dan halal bi halal sebuah rekonsiliasi akan kembali terlaksana. Kita akan kembali menggenggam tangan saudara kita yang dulunya sempat terlepas. Kita kembali dapat melemparkan senyum kepada musuh kita, yang dulunya sempat terbungkam. Sehingga kesucian dan keseimbangan jiwa akan kembali kita raih dengan datangnya ‘idul fitri, serta kestabilan sosial akan menjadi kado di lebaran nan ftri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di hari yang fitri ini, kita sama berharap semoga kedamaian, persahabatan dan keramahan akan menjadi atmosfer yang meliputi kehidupan Masisir dan  kehidupan yang lebih universal. Kita juga berharap semoga hati kita menjadi seputih dan sebersih hati bayi baru dilahirkan. Semoga ini kado lebaran yang di hadiahkan Ramadan kepada kita. Mohon maaf lahir batin, semoga kita menjadi orang yang beruntung disisi Allah swt. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-8905719479672028675?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/8905719479672028675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/kado-lebaran-dari-refleksi-ramadan_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8905719479672028675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/8905719479672028675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/kado-lebaran-dari-refleksi-ramadan_07.html' title='Kado Lebaran dari Refleksi Ramadan'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3271801208604961889</id><published>2008-10-07T14:27:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T14:38:57.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Ramadan'/><title type='text'>Dan… Langit pun Tersenyum</title><content type='html'>Ada yang lain dari malam itu. Rembulan seakan semakin cantik dengan bundarnya yang pipih. Para bintang bintang pun tak mau kalah, mereka meramaikan riasan langit dengan kerlipan cahayanya. Langit malam yang bermandi cahaya seolah bersolek untuk menyambut kalam Tuhan, yang diturunkan dari Lauh Mahfudz. Para malaikat besiap untuk mengkawal turunnya mu’jizat yang terbesar ini. Lantunan zikir yang dilantunkan oleh seluruh penduduk langit semakin mempesonakan gempita semesta.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jauh di bumi sana. Muhammad berjalan melewati bebatuan terjal untuk mendaki ke gua Hira. Dia kembali melakukan aktivitas takhannuts yang baru dia geluti beberapa waktu lalu. Semua itu berawal ketika dia bermimpi, secercah cahaya yang mendatanginya seakan fajar Subuh terbit di sanubarinya. Takhannuts yang dia lakukan semakin menghauskan dahaga ketuhanannya. Dia semakin gerah dengan kebodohan umat di sekelilingnya, yang semakin hanyut dalam kubang kebodohan. Hatinya yang lembut, risih dengan prilaku orang di sekelilingnya. Jiwanya yang bening, terpanggil untuk membersihkan mutiara ketuhanan yang telah ternodai. Dia terpanggil untuk mengokokohkan kembali panji ketuhanan yang telah lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya menuju gua Hira, dia heran dengan keadaan di sekelilingnya. Bebatuan yang dia pijak seakan lunak untuk memudahkan perjalanannya. Lambaian angin yang menghembus kepadanya, bertiup sepoi kepadanya. Pohon yang kokoh di sekelilingnya berayun seakan irama lantunan doa kepadanya. Batu, hewan, pohon dan gunung mengucapkan salam kepadanya. Ketika dia menoleh kanan-kiri dia tak menemukan siapa-siapa. Dia heran dengan penyambutan bumi yang hangat kepadanya. Pertanda apa yang akan terjadi kepadanya? Dia tak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di gua Hira, dia kembali melakukan aktivitas takhannuts seperti biasanya. Namun rasa takut yang menghinggapinya membuat konsentrasinya agak sedikit buyar. Dia terbayang dengan keanehan yang dia lalui disekitarnya. Sehingga membuatnya untuk bekerja keras memusatkan pikirannya. Ketika itu sesosok menghampirinya. Dia berkata, “bacalah”. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya. Sekujur tubuhnya dibanjiri keringat yang dahsyat saat itu. Dia tak tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Dia merasa takut dengan sosok yang mendatanginya tadi. Beberapa lama sosok itu kembali menghapiri dirinya, bahkan dia merangkul tubuhnya yang gemetaran. “Bacalah,” kata sosok yang dilihatnya dengan mata kepalanya. “Saya tak mampu membaca,” jawabnya lagi. &lt;br /&gt;Dia tak sedang bermimpi, entah apa nama makhluk yang mendatanginya. Sebab baru pertama kali dia datangi dengan wujud yang belum pernah dilihatnya. Dia terus dipaksa untuk membaca, sehingga dia pun kelelahan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Barulah ketika rangkulan sosok itu terlepas, dia merasa lega. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya”.&lt;/span&gt; Mendengar itu semua dia merasa ketakutan, dia merasa dirinya telah diganggu oleh jin. Sehingga dia bergegas untuk meninggalkan tempat itu. Dengan wajah yang pucat pasi, dia masuk kerumahnya. “Selimuti aku,” katanya yang terbatah sembari menenangkan tubuhnya yang gemetaran. Betapa tidak dia baru saja diberikan sebuah kalam, gunung pun akan luluh dan tertunduk jika itu diturunkan kepadanya. Betapa besar dan agung kalam yang diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tak tahu apa yang telah terjadi padanya. Dia tak tahu jikalau langit tersenyum dengan turunnya kalam yang baru saja membuatnya ketakutan. Dia tak tahu ternyata bumi sangat mendambakan lantunan simponi ketuhanan dicurahkan kepadanya. Muhammad tak tahu betapa dahaganya para makhluk hidup dengan curahan ayat Yang Maha Indah. Dia tak tahu fajar kehidupan telah menyingsing, dan akan memulai sinarnya di pundaknya. Dia tak tahu itu. Karena dia tak pernah menduga jikalau kenabian akan diletakkan di bahunya. Dia tak pernah mengharapkan kenabian itu. Dia hanya ingin mengikuti ajaran Hanafiyah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 abad telah berlalu. Langit tetap tersenyum ketika memperingati malam itu dan Allah telah menghadiahkan malam yang indah itu kepada umat Muhammad. Malam itu akan menjadi saksi betapa megahnya Alquran dan betapa tersayangnya umat ini. Malam itu akan menjadi malam terindah dalam kehidupan seorang hamba ketika mendapatkannya. Dia lebih indah dari seribu bulan yang dihabiskan oleh manusia yang tak mendapatkannya. Malam itu, hamba akan mendapatkan jamuan yang istimewa dari Sang Penciptanya. Doanya akan dikabulkan, amalannya akan dilipatkan gandakan sebanyak-banyaknya, dosanya akan di leburkan. Malam itu semesta diliputi oleh rahmat Tuhan yang tak terbatas. Para malaikat turun ke bumi dengan membawa lantunan doa dan permohonan ampun, kepada hamba yang di berikan anugerah untuk merasakan belaian lembut dari Allah Yang Maha Lembut.&lt;br /&gt;Sehingga kehidupan yang dulu kelam diselimuti dosa, pada malam itu akan berakhir dengan menyongsongnya fajar kehidupan. Fajar yang akan menerengi tiap relung kehidupan sang hamba. Fajar yang mengusir bingar dosa yang mengaung. Lembaran amalan yang dulunya tipis kini menjadi tebal dengan kepemurahan Allah yang tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya ku kecap indahnya malam itu, dan itu ku awali dengan mendoakan saudaraku yang seiman agar lebih dulu merasakannya. Semoga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3271801208604961889?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3271801208604961889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/dan-langit-pun-tersenyum_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3271801208604961889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3271801208604961889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/dan-langit-pun-tersenyum_07.html' title='Dan… Langit pun Tersenyum'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-491445791566380442</id><published>2008-10-07T14:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-08T08:46:29.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Ramadan'/><title type='text'>Dimana Tuhanku..?</title><content type='html'>Seabad yang lau ketika Albert Enstein telah berhasil meggoncangkan dunia dengan teori relativitasnya. Dia dengan lantang menyerukan, “Keberadaan tuhan yang metafisik, sudah tak mendapatkan tempat lagi di kehidupan moderen saat ini”. Bahkan dengan terang-terangan sang ilmuwan yang melegenda ini menganggap bahwa, "tuhan merupakan hantu yang mengendarai jagad raya ini". &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan beragama saat ini memang telah sampai kepada taraf yang sangat memilukan. Tuhan telah dipinggirkan dalam kehidupan ini, tuhan telah kehilangan nilai sakral dihati orang yang mempercayainya. Dia tak lebih dari sekadar dongeng untuk menemani tidur para anak-anak. Dia tak boleh memasuki relung kehidupan para manusia yang berkebudayaan moderen. Tuhan yang dulunya maha pengasih kini dia tak lebih dari pembawa petaka terhadap kehidupan manusia. Solah tuhan telah melakukan sebuah karya gagal. Kini tuhan menyesal karena telah menciptakan manusia… ta’alallahu ‘an qaulihim’ uluwwan kabiraa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma diatas merupakan sedikit dari sekian banyak cemohan Barat terhadap tuhan. Patut diakui bahwa mereka telah berhasil menaklukkan alam, serta merajai peradaban dunia saat ini, dengan menyingkirkan tuhan dari kehidupan mereka. Mereka berhasil menjadi bangsa yang ‘berperadaban’ setelah melakukan revolusi besar-besaran terhadap gereja. Sekularisme menjadi kunci mereka untuk memasuki gerbang teknologi yang maha dahsyat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun yang cukup disayangkan, ketika wabah ini menjangkit ke dalam tataran keislaman kita. Tuhan dalam tipologi pemikiran keislaman merupakan Zat Yang Agung, dia sangat dekat hamba-Nya. Dia ada ketika hamba-Nya ketika menengadahkan tangan memohon kepadanya. Dialah yang memberi jalan ketika hamba-Nya dirundung sepi yang tak berkesudahan. Dia ada. Dia mendengar. Dia mengabulkan permohonan hambanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah dimensi kedekatan kita dengan-Nya telah dikikis oleh sekais materi yang tak berharga. Seakan kemahapemurahan Tuhan tak lagi kokoh dalam sanubari ini. Kita seolah lupa ditiap peluh yang mengalir, ditiap ritihan yang mendesah, ditiap tetes air mata yang tercurah, disana ada Dia yang melihat kita. Malam yang sunyi, merupakan saat yang tepat untuk ‘curhat’ dengan-Nya tak lagi kita pergunakan untuk bedialog dengan Dia. Raungan self confident yang menggema dalam hati, seakan membuat malu untuk meminta pertolongan terhadap-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari awal, ketika Rasulullah memulai dakwahnya, Allah swt. telah mengajak manusia untuk membaca dan berkenalan dengan Dia. Ketika Nabi hendak beristirahat ketika usai melakukan tahannutsnya, beliau dipanggil oleh Allah untuk tak lelah bercengkrama dengan-Nya. “Wahai orang yang berselimut, bangunlah untuk memperingatkan kaummu. Agungkanlah Tuhanmu. Dan sucikanlah pakaianmu”. Rasulullah pun diperintahkan untuk menghancurkan sendi-sendi persepsi ketuhanan agama samawi, yang telah banyak dirusak oleh para ahli kitab.  Tuhan dalam persepsi kaum Yahudi merupakan tuhan yang senang merusak, bengis dan kejam terhadap golongan diluar kaum Israil. Seolah tuhan milik mereka sahaja. Demikian halnya tuhan versi Nasrani, tuhan yang dendam dengan dosa yang dilakukan oleh Adam. Kebaikan yang dilakukan oleh umat manusia takkan bernilai apa-apa disisinya. Pengorbanan sebesar apapun untuk meraih ridho tuhan mereka, tak akan berarti. Tuhan mereka diliputi kemarahan yang membara, akibat dosa bapak manusia. Marah tuhan mereka baru mereda ketika anak tunggal tuhan turun kebumi, menjadi tebusan terhadap dosa umat manusia. Sungguh zalim mereka terhadap Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai keislaman hadir untuk menepis persepsi zalim itu semua. Islam memanggil manusia yang dahaga terhadap keindahan dan kepemurahan Tuhan, untuk dapat merasakan sejuknya menengadahkan tangan kepada-Nya, untuk merasakan betapa segarnya melinangkan air mata dihadapan-Nya. Islam menyerukan betapa lezatnya membasahi lidah ini dengan simponi lantunan zikir kepada-Nya. Islam datang kepada para hamba yang telah berkecimpuh dalam kubangan dosa, untuk tak berputus terhadap pengampunan Tuhan. Allah tersenyum kepada mereka, ketika mereka mau datang mengetuk pintu ampunan-Nya. Sehingga kedamaian hati para pendamba Tuhan akan senantiasa subur dalam sanubari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan inilah merupakan momen yang tepat untuk kembali menghangatkan dimensi spiritual yang mulai membatu. Semoga hati dulunya usang akibat koyakan materialistik mampu tertata rapi kembali dengan sentuhan lembut dari kepemurahan Tuhan. Ya Rabb…  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-491445791566380442?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/491445791566380442/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/dimana-tuhanku_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/491445791566380442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/491445791566380442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/dimana-tuhanku_07.html' title='Dimana Tuhanku..?'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-7758748693535461550</id><published>2008-10-07T14:18:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T14:45:09.108-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Ramadan'/><title type='text'>Tafakkur dan Aktifitas Filosofis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang yang mempunyai hati. Yaitu orang mengingat Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi, (mereka berkata) wahai Tuhan kami Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau maka hindarkanlah kami dari azab neraka.  Qs:03:190-191.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika kita berusaha untuk membungkam suara akal, maka sebuah konsekuensi logis yang harus kita dapati adalah mengucapkan selamat tinggal kepada filsafat”. Demikian ungkapan yang dilantunkan oleh seorang pakar filsafat Mesir, DR. Athif Iraqy. Akal merupakan sebuah anatomi metafisik yang menyemburkan benih perdebatan dikalangan pemikir umat manusia. Akal dan aktifitasnya merupakan ladang subur untuk tumbuhnya benih perdebatan dalam kubu suatu masyarakat madani, dan Islam pada khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kubu yang diwakili oleh golongan sufi, berusaha menafikan peran akal dalam upaya merelungi samudra hikmah Ilahi. Akal hanya mampu sampai kepada nilai formalitas sesuatu tapi tak mampu sampai kepada nilai substansialnya. Akal dalam paradigma kaum sufi hanya mampu sampai kepada tanda akan adanya sang Khaliq, namun untuk berusaha untuk mengenalnya, akal tak mampu menembus dinding ini. Ketika Sufyan Atsauri ditanyai tentang dalil keberadaan Tuhan, dia menjawab, “Allah”. Kemudian dia ditanya balik akan peranan akal, dia menjawab, “bahwa akal lemah, dan yang lemah tak mampu mengetahui kecuali yang lemah juga”. Dengan jelas bahwa Sufyan Atsauri berusaha mendistorsi peranan akal dalam upaya merelungi dimensi ilahiyah.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kaum rasionalis yang mengusung panji kebesaran akal. Mereka adalah golongan yang meyakini akan kemutlakan akal. Kubu ini diwakili oleh para kaum filosof dan para teolog. Dalam pandangan para filosof akal mampu menembus tapal yang tidak mampu ditembus oleh para kaum sufi. Mereka meyakini dengan akal mereka mampu sampai kepada sebuah kulminasi yang membawa kepada pelabuhan ma’rifatullah. “Akal merupakan bias dari cahaya ilahi.” demikian tutur Ghazali dalam kitab Misykat Anwarnya. “Ataukah akal merupakan wakil tuhan dalam jiwa manusia.” dalam paparan Al-Jahizh. Sehingga segala konspirasi yang ingin menafikan peran akal dalam upaya untuk menapaki relung-relung ketuhanan dianggap sebuah upaya pelumpuhan untuk menggapai hikmah ilahi. Mereka berpijak kepada firman Allah dalam Al-Qur’an, “mereka mempunyai hati tapi tidak berpikir, mereka mempunyai mata tapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tapi tidak mendengar, mereka seperti hewan bahkan lebih sesat”. Dari premis inilah mereka beranggapan bahwa menghilangkan peran akal dalam kehidupan ini seperti menghilangkan nikmat penciptaan panca indera. Bahkan penafian fungsi akal dianggap sebuah dosa yang dicela dalam Al-Qur’an. Ketika para penghuni neraka menyesali kebebalan mereka, mereka berkata, “jikalau kami mendengar dan bepikir maka kami tidak akan menjadi penghuni neraka Sa’ir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik alotnya perdebatan antara kubu kaum sufi dan kubu pengusung panji kemuliaan akal yang diwakili oleh oleh filosof dan teolog. Ada sebuah korelasi diantara keduanya, kaum sufi ketika berbicara tentang fungsi akal, mereka membatasi tapi tidak menafikan peranan akal itu. Mereka mengakui akan kemampuan akal yang mampu sampai kepada taraf pembacaan ayat-ayat kauniyah. Mereka tak sampai membuang akal dalam kehidupan ini. Disana ada hadits Nabi yang mengatakan akan pentingnya bertafakkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertafakkur sesaat lebih mulia dibanding ibadah semalaman.” demikian ungkapan Nabi. Beliau menyadari dengan aktifitas tafakkur sebuah generasi yang menguasai peradaban akan lahir. Tafakkur mampu menghancurkan nilai egois dalam jiwa tiap individu. Dengan tafakkur seorang hamba mampu menghilangkan dimensi ananiyah dalam dirinya, dia mampu menyadari bahwa dirinya tidak hidup sendirian dalam jagad raya ini. Dia hidup dibawah pengawasan Tuhan yang Maha Pengasih, sehingga nantinya akan melahirkan sikap muraqabah. Disamping itu juga seorang hamba menyadari bahwa dirinya senantiasa diperhatikan dan diawasi oleh Penciptanya dan segala jeritan dan rintihan oleh masalah yang dialami pasti diketahui oleh Tuhannya. Dia tak sendiri dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas dengan kekuatan maknanya menceritakan akan kemuliaan tafakkur. Beranjak dari hikmah penciptaan langit dan bumi, Allah SWT memanggil para hambanya untuk merelungi dan memikirkan gejala dari alam ini baik yang makro dan mikro. Allah telah menaburkan mutiara-mutiara hikmah di tiap celah dari alam ini. Seorang hamba yang mampu memetik dan menuai mutiara hikmah itu tanpa tersadar akan terheran dan takjub akan kebesaran Allah. Dia dengan spontannya akan mengucapkan, “Maha Suci engkau ya Allah, tidak sia-sia engkau menciptakan alam ini”. Ketika dia menyadari akan kebesaran penciptanya, maka secara otoamatis dia akan berusaha memenuhi tiap panggilan dan seruan ilahi. Dia menyadari akan kekurangan dan kekerdilan dirinya ditengah megahnya jagad raya ini. Sehingga ini akan mengatarkan kepada ketergantungan dirinya dengan penciptanya. Dia butuh penciptanya untuk segala aktifitasnya, dia butuh penciptanya di tiap relung kehidupannya, dia butuh pertolongan penciptanya untuk sampai kepada kebahagiaan yang paripurna. Dia butuh itu semua. Dan lebih lagi dia sangat takut kepada siksaan yang akan menunggunya nanti ketika dia mengabaikan perintah Tuhannya. Dia sangat takut dengan hal itu tanpa tersadar lagi dia berucap, “maka hindarkanlah kami dari siksaan api neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafakkur memang mempunyai peranan yang sangat urgen di dalan Islam. Islam dari awal telah mencela budaya taklid buta kepada nenek moyang, serta mitos yang diterima dari pendahulu tanpa adanya budaya kritik terhadap kesahihan berita itu. Demikian juga Islam berupaya memerangi beberapa praktik perdukunan yang dianggap sebagai sebuah upaya yang menghilangkan peranan akal dalam kehidupan ini. Lihatlah ketika Ibrahim anak Nabi meninggal yang disertai dengan gerhana bulan, sehingga orang-orang waktu itu menilai bahwa gerhana terjadi disebabkan wafatnya anak Nabi, ketika mendengar hal ini Nabi langsung menyangkal dan dengan lantang berkata, “sesungguhnya bulan dan matahari merupakan dua tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana disebabkan oleh matinya seseorang”. Sehingga dengan jelas bahwa setiap akidah dan ajaran Islam tak ada yang bertentangan dengan hukum akal, walaupun ada sebagian yang tak mampu dicerna oleh akal tapi itu tak mengindikasikan akan kejumudan Islam, tapi itu lebih kepada upaya pemaksimalan penyerahan diri sang hamba kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan merupakan momentum yang sangat tepat untuk kembali menghangatkan semangat tafakkur kita yang telah membeku sekian lama. Dengan spirit yang terkandung dalam Ramadan ini semoga mampu mengoptimalkan semangat tafakkur dalam diri kita. Sehingga iman yang dulunya yang sedikit goyah, akarnya mampu menghujam kembali dalam hati kita dengan kokoh. Ghazali dalam Mi’raj Salikinnya mengatakan, ”wahai saudaraku ketahuilah ketika engkau hendak mengetahuai kebenaran dengan berpedoman dengan seseorang tanpa mengfungsikan akal dan hatimu maka telah sesat jalanmu. Karena sesungguhnya sorang ‘alim hanyalah laksana lampu yang memberikan sinar. Kemudian tangkaplah sinar itu dengan matamu, ketika engkau buta, maka tak ada gunanya lentera dan lampu bagimu. Barang siapa yang bersandar kepada taklid buta maka dia tela binasa…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-7758748693535461550?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/7758748693535461550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/tafakkur-dan-aktifitas-filosofis_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7758748693535461550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7758748693535461550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/tafakkur-dan-aktifitas-filosofis_07.html' title='Tafakkur dan Aktifitas Filosofis'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-430142684135795437</id><published>2008-10-07T14:16:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T14:51:16.662-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Ramadan'/><title type='text'>Kelam Fanatisme</title><content type='html'>Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berkabilah dan bersuku-suku supaya kalian dapat saling mengenal... salah satu ayat Al-Qur’an yang berimplikasi menafikan primordialisme dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Pesan ini telah disampaikan oleh baginda Rasul beberapa abad silam, dan telah dihafal dan difahami oleh masyarakat Islam diseantero dunia. Sebuah pesan ilahy yang menghendaki adanya sinkronisasi dan kebersamaan dalam setiap lapisan masyarakat. Ayat tuhan yang mengajarkan kita tentang kemutlakan akan adanya perbedaan namun perbedaan itu tak harus menjadi racun yang mengoyak tatanan dan kekokohan sebuah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak mengenal fanatisme. Apatah lagi fanatisme yang akan merongrong dan sebuah komunitas sosial. Sejak awal Islam telah menekan laju fanatisme dan berusaha untuk menghapuskan slogan ta’asshub. Sebab, jika fanatisme golongan jika dibiarkan subur akan membawa masyarakat keseuatu chaos yang tak bertepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun sejarah telah menorehkan, kelam fanatisme telah mengoyak ukhuwah islamiyah, fanatisme telah menghancurkan sebuah quwwah imaniyah yang telah dibangun oleh baginda Rasul, fanatisme juga merupakan pemantik dari penafsiran-penafsiran liar tehadap nash syar’i, baik dari Al-Qur’an ataupun dari hadis. Ironisnya, perkataan yang tidak benar, bahkan sangat tidak layak intuk disandarkan kepada Rasulullah harus disandarkan kepada beliau, hadist-hadist palsu ini kita kenal dalam dunia akademis kita sebagi hadist maudhu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syi’ah dalam term awalnya, baik itu dari golongan Ali ra. ataupun dari golongan Mu’awiyah adalah perintis dalam memalsukan hadist Rasulullah. Alotnya perdebatan diantara kedua golongan itu sehingga tidak menemukan titik kesamaan, memaksa kedua golongan ini memalsukan hadist-hadist dari Rasulullah Saw. demikian juga konflik yang terjadi antara dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah, disatu sisi klan Umayyah mengkalim bahwa dari merekalah lahir pemimpin Islam, mereka telah diciptakan dengan fitrah riyasah dalam diri mereka, mereka adalah pemimpin baik itu pra maupun paska kedatangan Islam. Mereka adalah qiyadul ‘Arab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian juga yang terjadi terhadap Abbasiyyun sebagai salah satu oposisi dari dinasti Umayyah telah terlena akan primordialisme klasik sehingga mereka juga tak mau kalah dengan fanatisme dinasti Umayyah. Sehingga untuk membangkitkan self-confidence dipalsukan sejumlah hadist yang disandarkan kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang serupa juga akan kita dapati ketika membicarakan Syi’ah. Sebagian besar doktrinitas dalam firqah Syi’ah adalah cerminan kelam fanatisme. Isu yang mengatakan bahwa adanya tahrif dalam Al-Qur’an, disebabkan kebencian mereka terhadap Abu Bakar ra, dan Usman bin Affan ra. Mereka tak mau mengakui akan jasa keduanya dalam dunia Islam, disamping itu untuk melegitimasi kepercayaan mereka terhadap tanshish a`immah, Ayatullah Khomaini saja ketika memaparkan dalil terhadap penyebab tidak dilampirkannya ayat dalam Al-Qur’an akan kepemimpinan imam mereka yang dua belas menyebutkan kemungkinan adanya penyelewengan yang dilakukan oleh musuh ahlu bayt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga penghinanaan terhadap tiga sahabat besar Rasulullah Saw. hatta menganggap mereka sebagi perampok kekuasaan yang merampok kekuasaan Ali adalah merupakan gelembung-gelembung ta’asshubiyah yang tak berdasar. Sayyidina Ali bari’un minhum. Ironis memang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala politik Islam internasional, kelam fanatisme tak kalah hebatnya jika dibandingkan bagaiman atsar fanatisme dalam skala religius. Pada mulanya sisitem perpolitikan Islam tak mengenal adanya waratsatul riyasah yang dapat mengunci kretifitas dan kebebasan berpikir, yang ujungnya nanti, akan menghambat lajunya ilmu pengetahuan. Akibat bisikan fanatisme corak politik Islam berganti ke monarchi absolut. Pemimpin tak lagi dipilih langsung oleh Ahlul Hilli wal Aqdi akan tetapi ditunjuk langsung oleh sang raja. Istilah ahlul hilli wal aqdy hanyalah merupakan term fuqaha yang tak mampu menemukan eksistesinya dalam dunia ril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping dikotomi yang terjadi dalam pemerintahan Islam akan sangat menonjolkan sebuah fanatisme golongan. Dinasti Abbasiyah dalam sejarah kepemimpinannya, mempunyai berapa corak pemimpin yang mencerminkan golongan dan ras sang khalifah. Baik itu dari Persia ataupun dari Turki. Perbedaan karakter pemimpin bukanlah sebuah masalah, akan tetapi masalah yang terbesar ketika kebijakan politik yang diambil lebih menguntungkan satu pihak sahaja atau berat sebelah. Dinasti Saljuk ketika dia menaiki takhta khilafah, untuk menekan laju separatisme yang bergolak dan untuk melanggengkan kekuasaanya, salah satu kebijakan politiknya adalah melarang mempelajari mazhab fiqhi dan akidah selain mazhab Imam Ahmad Ibnu hanbal, sehingga dengan keputusan ini serangan dan fitnah dan kebohongan senantiasa beredar dimasyarkat dan mendapat backing dari pemerintah, tak heranlah ketika itu Imam Syafi’i di hina, Imam Asy’ary pendiri Asya’irah dikatakn sesat dalam akidahnya. Kondisi ini juga yang memaksa Imam Juwayni untuk meninggalkan Khurasan dan menjalani hidup yan nomaden antara Mekah dan Madinah selama 17 tahun, sehingga dia digelar sebagai Imam haramain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga yang terjadi dibelahan bumi Islam dibagian Barat, Andalusia tepatnya. Kota yang sebelumnya jembatan peradaban Barat untuk memasuki era keemasan seperti sekarang ini. Kehancuran dianasti Umayyah di Spanyol yang sebelumnya telah membentakngkan sayapanya mulai dari Barcelona, Sevilla, Granada,Valencia dan beberapa kota lainnya yang berada di Spanyol harus luluh ketika fanatisme mewabah dalam masyarakat Andalusia. Megah kejayaan yang dihasilkan Abdurrahman Ad-Dakhil, Hakam bin Hisyam, dan berapa pemimpin dari dinasti Umayyah yang mengopayakan proyek penyatuan ummat, harus hangus sia-sia ditelan oleh kelam fanatisme yang kejam. Ini terjadi ketika orang Arab yang belum mampu dewasa dalam menyikapi perbedaan, ketika belum mampu berasimiliasi dengan masyarakat lokal, ketika mereka belum sanggup melepas seragam keagungan dimasa jahiliyah. Sehingga Andalusia harus kelam dalam perpecahan, perang saudara, kerajaan-kerajaan kecil selam 70 tahun. Ibnu hazm adalah merupakan saksi betapa fanatisme telah menghitamkan negeri beliau. Beliau hidup dimana kerjaan Andalusi yang dulunya kokoh, kini kerdil dengan perpecahan yang yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kelam, konsekuensi dari fanatisme ini…. Semoga dibulan Ramdhan fanatisme dapat dikikis, dan menumbuhkan sikap ekslusivisme ber-Islam, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nahnu qaumun a’azzana Allahu bil Islam wa iza ibtaghaina gairal Islami diinan azallana Allah!&lt;/span&gt; Semoga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-430142684135795437?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/430142684135795437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/kelam-fanatisme_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/430142684135795437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/430142684135795437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/kelam-fanatisme_07.html' title='Kelam Fanatisme'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-7971037105148263777</id><published>2008-10-07T14:14:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T14:56:24.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Sisi Transendental dalam Filsafat Parmenedes</title><content type='html'>Dia adalah salah satu filosof dari Velia, dia adalah termasuk orang yang sangat berpengaruh dalam pemikiran metafisika Plato. Dia adalah orang pertama yang membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan non-indrawi. Tak heran, ketika Plato sangat menghormatinya  dan mengaguminya.Kadang Plato menyebut sebagai ‘Parmenedes yang agung’, ‘Parmenedes yang bijak’ dan ‘bapak kita Parmenedes'. Demikian ungkapan salut Plato kepada Parmenedes.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Yang signifikan dalam filsafat Parmenedes, adalah ajaran rahasia yang diusung oleh Parmenedes. Rahasia ini adalah keyword dalam memahami filsafat Parmenedes. Dia adalah salah satu yang berkeyakinan akan keberadaan ‘Wujud Mutlak, yang tetap dan abadi’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merelungi nilai subtansial ‘Wujud’ diperlukan sebuah aktifitas khalwat yang ekslusif yang tak mampu diraih oleh orang rendahan. Karena, menurut Parmenedes untuk sampai ketaraf ma’rifat, diperlukukan sebuah meditasi yang tak dapat diselami oleh orang awam. Filsafat Parmenedes serupa dengan filsafat Ghazaly dalam Islam dan ‘intellectual sympathy’ dalam bahasa Henry Bergusson.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Parmenedes terpengaruh dengan mitos ajaran rahasia agama puritan di zaman Yunani. Serupa dengan mauqif  Phytagoras yang enggan membeberkan rahasia religus yang berhasil mereka selami. Sebagaiman legenda ‘Hippasus de Metanpontun’, seorang pengikut Phytagoras  yang dibuang kelaut karena menyebarkan rahasia akar pangkat dua untuk bilangan dua. Sehingga untuk begabung dalam kubu ini, Plato menyaratkan titel filosof yang terbubuh didepan namanya. Bahkan untuk seorang hamba sahaya tidak dijinkan untuk menggeluti profesi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parmenedes dalam menginterpretasikan ajarannya, dia menggunakan metode simbolis untuk mendeskripsikan ajarannya. Demikian juga, dia menggunakan syair untuk menelorkan gagasannya. Sehingga Parmendes merupakan filosof yang pertama menggunakan syair untuk menyerukan buah pikirannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parmenedes dalam syairnya mengaku telah disambut oleh Dike (dewa keadilan) yang memegang kunci cahaya untuk dapat menguk air kebenaran. Dia mendapat jamuan hangat dari para dewa. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Selamat datang wahai anak muda, selamat datang di serambi cahaya, serambi para pembimbing yang abadi. Jalan yang membawamu kesini bukanlah jalan yang ditapaki oleh orang awam. Karena yang membimbing mereka adalah Moira yang jahat. Akan tetapi yang membimbingmu adalah Themis (ketetapan yang adil). Harus kau ketahui wahai anak muda, kau harus menggeluti segala jenis pengetuhuan, hatta pengetahuan manusia yang fana, pengetahuan mereka yang temporal. Supaya kau mampu mengetahui segala sesuatu".&lt;/span&gt; Begitulah sambutan para dewa kepada Parmenedes yang menziarahi serambi cahaya. Demikian yang tertera dalam prolog syair  Parmenedes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas yang terpaparkan disini adalah pengalaman ritual dia alami, yang lebih dekat dengan pengalaman ritual yang dimiliki oleh para kaum sufi, baik itu dari kalangan Budhisme, Nasrani atau dari kalangan Islam. Haqiqat yang dibahas oleh Parmenedes tak lain merupakan sebuah ilham yang dia dapatkan dari para dewa. Yang mengantarnya berfantasi ke serambi kebenaran, yang tak dapat dikecup oleh manusia awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Parmenedes diatas mungkin bagi sebagian orang adalah merupakan mitos tolol. Akan tetapi sedikit yang tebenak dalam benak saya, ketika membaca alasan Ghazali mengkafirkan para filosof Islam. Menurut Ghazali filosof Islam telah berani membeberkan rahasia ketuhanan, yang dianggap telah jauh melewati tapal batas kemanusiaan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Dalam paradigma Ghazali ifsya sirr rububiyah kufr. Demikian analisa DR. Sulaiman Dunya sorang pakar yang mendalami hasil karya Ghazali. Klaim Sulaiman Dunya bukannya tidak beralasan, dia menemukan beberapa kesamaan pendapat Ghazali dengan pendapat para filosof yang di kafirkannya (baca; Ibnu Sina). Seperti kebangkitan jasmani yang di inkari oleh Ibnu Sina dan beberapa pendapat yang dianggap oleh sebagian orang sebuah sikap plin-plan Ghazali dalam pemikirannya. Namun yang pasti ‘Ma’arijul Quds’ merupakan karya Ghazali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sebagian orang berusaha menafikannya, seperti yang terjadi oleh Ibnu Sholah.&lt;br /&gt;Demikian juga, Ghazali berpendapat bahwa seorang alim harus mampu mengharmonisasikan dengan zuruf dimana dia berada. Ketika dia berhadapan dengan seorang awam yang tak mampu memahami hal mujarradat, maka sebagai seorang alim yang bijak tak boleh memaksa sami’nya untuk melampaui batas pengetahuannya. Demikian juga ketika berhadapan dengan kaum jadaly (baca; tholog) maka dia harus berusaha untuk memahamkan mereka tanpa harus melewati batas keilmuan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah bahasa merupakan penjara yang mengurung seorang ‘penemu kebenaran’ untuk mengeksplorasikan hasil obeservasi yang mereka cicipi dari  ‘arak ilahi’. Ini merupakan problematika yang dihadapi baik itu dari Parmenedes ataupun dari Ghazali. Kembali ke kasus Parmenedes, pengalaman spiritual yang dia dapatkan, mungkin tak mampu dia eksperiskan kepada khalayak ramai. Ini disebabkan oleh, selain dari kungkungan bahasa, jeratan dari agama puritan dari bangsa Yunani merupakan faktor terpenting bungkamnya seorang filosof. Sebab orang yang mengabaikan kepercayaan terhadap ‘tuhan nasional’ bangsa Yunani akan berakhir tragis. Socrates merupakan sebuah argument yang paling kuat akibat tekanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah Parmenedes telah mengenal tuhan dengan sebenarnya? Apakah dia telah mampu mengetahui keesaan tuhan sebagaimana yang kita pahami (baca; Islam)? Apakah observasi Pamenedes telah sejajar dengan kaum sufi? Saya terlalu lemah untuk menghakimi Parmenedes..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-7971037105148263777?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/7971037105148263777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/sisi-transendental-dalam-filsafat_07.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7971037105148263777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/7971037105148263777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/sisi-transendental-dalam-filsafat_07.html' title='Sisi Transendental dalam Filsafat Parmenedes'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-2540595190430513243</id><published>2008-10-07T14:11:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T15:02:41.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Sang Pejuang Kebebasan</title><content type='html'>Terlepas dari kekontraversialan tokoh ini, namun yang pasti Az-Zahaby dalam Mizaanul I’tidalnya mengatakan: “Dia adalah seorang tabi’in yang terpercaya (shaduq).” Ini adalah semacam lisensi (baca; ta’dil) yang diberikan Zahaby kepada beliau dalam periwayatan hadist. Dia adalah oang yang pertama yang menggusung freewill dalam Islam. Dialah  Ma’bad al-Juhainy, dia hadir dimasa Umayyah yang gencar memprogandakan ijbariyah dalam Islam demi melanggengkan kekuasaan dinastinya. Dia meriwayatkan hadist dari Abu Dzar al-Gifari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Sebagaimana beberapa tokoh yang besar dalam dunia Islam meriwayatkan hadis dari beliau. Seperti; Malik bin Dinar, Yazid bin Hamid dan Ibrahim bin Sa’ad. Sebagaimana yang disebutkan Al-Ka’bi dan qady Abdul Jabbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tumbuh di bawah naungan  semerbak wangi maqam rasulullah, dan dia belajar dari seorang sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Dzar al-Gifari, seorang sahabat yang kritis terhadap kezaliman yang terjadi. Dia pun sempat mengikuti gurunya yang menghadap Muawiyah ke Syam untuk menginterogasi Muawiyah terhadap ketidakteraturan keuangan yang terjadi di bait mal. Ketika itu Muawiyah mebantah Abu Dzar yang menganggap bahwa bait mal merupakan harta kongsi masyarakat, dari sinilah Muawiyah memulai menghembuskan isu ijbariyah.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Abdul Halim Mahmud memberikan sebuah deskripsi  perjalanan karir politik Muawiyah ketika menduduki singgasana khilafah. Ketika itu Muawiyah hendak melegitimasi kebijakan politik yang diambilnya serta meredam amuk massa yang menggejolak. Dia berusaha mengkoarkan slogan politik ijbariyahnya. Segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan kehendak Allah, sehingga dia mensinggasanahi khilafah Islam  Allah jualah yang menghendakinya. Manusia hanya mengikuti apa ditetapkanNya. Abdul Halim mahmud berargumen terhadap sebuah hadis yang tertera dalam Shahih Bukhari hadist yang diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah yang bercerita tentang Muawiyah meminta hadist yang diriwayatkan Mughirah dari Nabi SAW, maka Mughirah menuliskan wirid yang berbunyi : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Allahumma laa maani’a lima ‘athaita wala mu’thiya lima mana’ta wala yanfa’  dzal jaddi minkal jadd”.&lt;/span&gt;  Melihat wirid ini mampu mengejewantahkan produk politiknya maka Muawiyah menitahkan untuk menjadikan wirid ini sebagai wirid wajib. Demi menjadikan slogan ijbariyah sebagai alat justifikasi atas kezaliman yang berlaku. Masyarakat dipaksa untuk membebek terhadap kebijakan pemerintah yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakstabilan polotik yang ada dimasa itu memaksa Ma’bad untuk tampil memberantas virus yang mewabah dalam masyarakat Islam. Dia berjuang bersama gurunya yaitu Abu Dzar al-Gifary sebagaimana yang diberitakan Samy Nassyar. Demi meluruskan paradigma yang ada. Menurut syeikh Zahid al-Kautsary atsar dari ijbariyah membuat para pelaku kemaksiatan untuk menjustikasi perbuatan mereka. Ma’bad berusaha menepis ajaran yang tentunya melenceng dari maksud yang sebenarnya, sehingga pemikiran Ma’bad mendapat tempat di hati masyarakat Madinah. Bahkan Ma’bad bersama ‘Atha bin Yasar sempat mengunjungi Hasan Bashry yang bermukim di Baghdad kala itu. Mereka menanyakan kepada Hasan Bashri tentang prilaku pemerintah yang diluar batas serta pertumpahan darah yang terjadi dengan dalih bahwa itu semua kehendak tak ketetapan Tuhan. Tak heran ketika itu Hasan Basri melaknat prilaku yang amoral itu. Hal ini direkam oleh Thasy Kubra Zadah dan  pengarang kitab Ma’arif. Nampak dari sini Ma’bad kembali berguru ke Hasan Bashri, ataukah minimal mereka pernah bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaslah bahwa Ma’bad muncul untuk mengcover Islam dari paradigma yang keliru dari dinasti Umayyah yang telah melakukan penafsiran liar terhadap terminology qadha dan qadar sehingga mampu melakukan apapun atas nama ketetapan Tuhan tanpa mendaptkan krtik dari masyarakat waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan itu saja, Ma’bad juga beusaha membumikan tatanan amar mam’ruf nahi munkar sehingga mampu menemukan eksistensinya dalam taran aplikatif. Sehingga tak heranlah ketika dia ikut berperang bersama Muhammad bin Asy’at dalam revolusi terkenalnya beradu dengan pemerintah bani Umayyah. Namun revolusi ini gagal sehingga dia jatuh di tangan panglima pearang Muawiyah yang sadis yaitu Hajjaj bin Yusf. Ketika hendak dibunuh, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi sempat mengebiri Ma’bad dan menertawakan pendapat Ma’bad. Namun keteguhan hati Ma’bad untuk sabar dan ridha terhadap ketetapan Tuhan terhadap dirinya. Dia meninggal ditangan Hajjaj bin Yusuf. Dia wafat dengan keyakinan yang tegar bahwa keadilan Tuhan bukanlah sebuah kezaliman yang mewabah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bani Umayyah mampu mengamputasi Ma’bad dari tataran masyarakat Islam, namun mereka tak mampu membendung mobilasisi sosial yang ada. Ma’bad telah meninggalkan benih perjuangan, yang nanti diteruskan oleh Ghailan al-Dimasyqy, yang nantinya di adopsi oleh Mu’tazilah, komunitas yang mampu mengadaptasi segala bentuk kebudayaan asing yang masuk ke rangkulan Islam…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-2540595190430513243?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/2540595190430513243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/terlepas-dari-kekontraversialan-tokoh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2540595190430513243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/2540595190430513243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/terlepas-dari-kekontraversialan-tokoh.html' title='Sang Pejuang Kebebasan'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6453060376866544352.post-3353027138197710790</id><published>2008-10-07T13:52:00.000-07:00</published><updated>2008-10-08T09:04:52.564-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah-Filsafat'/><title type='text'>Gazhali dan Kafir (part 1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ketika disebutkan sederetan nama ulama, maka persepsi yang akan terbetik adalah spesialisasi mereka dalam dunia akademis Islam. Tatkala nama Al-Farraby dan Ibnu Sina disebutkan maka imajinasi akan terbang kedunia filsafat, mereka adalah filosof yang besar dalam Islam. Ketika nama Ibnu Araby disebutkan maka pikiran akan melayang kepada pendapat-pendapatnya yang cukup kontraversial dalam dunia tashawwuf. Demikian juga ketika nama-nama Bukhari, Muslim dan Ahmad disebutkan maka kita kita dibawa kepada, kemampuan mereka dalam menghafal, kejujuran, kepercayaan kita terhadap mereka, ketelitian dan pengetahuan mereka  tentang biblografi para perawi hadist. Namun berbeda ketika nama Gazhali diusung, kita mungkin akan sulit untuk mengindentifikasi kepribadian beliau. Dia adalah seorang ushuly yang cerdas, dia juga adalah faqih independen. Gazhali pun seorang teologis serta imam ahlussunnah. Gazhali juga seorang sejarawan yang mengetahui keadaan umat baik yang terselubung ataupun yang nampak. Gazhali sang filosof,  ataukah yang mengembalikan rel filsafat kejalannya. Gazhali sang sufi, zahid dan murabby. Namun yang pasti Beliau adalah dairatul ulum pada masanya, seorang alim yang senantiasa dahaga akan kebenaran, ma’rifah dan segala jenis cabang pengetahuan”.&lt;/span&gt; Demikian penghormatan Syeikh Mustafa Maraghy terhadap Gazhali. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gazhali adalah seorang pemikir yang independen dalam gagasannya, dia tidak melihat kuantitas dalam menghakimi sebuah kebenaran. Namun tak juga menganggap minoritas sebagai bukti sebuah kesalahan. Dia menghakimi seseorang dengan kebenaran, tapi tak menghukumi kebenaran dengan seseorang. Dia berusaha menjadi seorang ulama yang seobjektif mungkin sehingga dia pun tak segan-segan mengambil sebuah kebenaran dari mulut orang kafir. Kepribadian inilah yang mampu menjadikan dia sebagai seorang ulama yang disegani pada masanya. Dia meletakkan kembali seluruh firqah Islam kedalam mahkamah kebenaran. Dan menghukuminya seobjektif mungkin, sehingga tak heranlah ketika Gazhali menyingkap keganjalan yang pada golongan bathiniyah serta para filosof Islam. Fadhaih Bathiniyah dan Tahafat Falasifah adalah rekaman kritisisme Gazhali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghukumi sebuah kebenaran dan kesalahan, Gazhali tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Dalam sebuah risalahnya Fashl Tafriqah, yang dianggap oleh Ibnu Rusyd sebagai wujud rekonsiliasi antara dirinya dan Ghazali, seolah Ibnu Rusyd telah memberikan udzur kepada Gazhali -yang mengkafirkan para filosof- setelah mengarang risalahnya ini. Dia memberikan sebuah pencerahan yang cukup signifikan dalam menyikapi fenemona takfirisme, serta sebuah harmonisasi antar penganut mazhab. Sebagaimana fenomena yang terjadi di masanya, orang yang keluar sejengkal dari mazhab Asy’ary sudah dianggap sesat dimata mayoritas muslimin waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang mendorong Gazhali untuk meluruskan paradigma yang mewabah waktu itu. Gazhali sendiri dalam mendefinisikan kekufuran, dia mengakui bahwa dalam menjelaskan hal ini diperlukan sebuah penjelasan yang betul komprehensif serta untuk menyelami keghamidhannya diperlukan sebuah pisau analisa yang steril. Gazhali dalam mendefinisikan kufur  beliau hanya menggeneralisasikan terminologi kekufuran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kufur di mata Gazhali adalah; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“pendustaan terhadap Rasulullah SAW atas apa yang disampaikannya”.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Yang tersirat dari defenisi ini adalah semua orang yang mengimani Rasulullah SAW adalah mukmin baik itu dari Mu’tazilah, Asyairah, Hanbaly ataukah itu dari golongan filosof yang ditakfirkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazhali gerah dengan dengan wabah takfirisme yang mewabah dikalangan muslimin waktu itu. Asya’irah yang mengkafirkan Hanbaly dengan pendapat mereka yang mengindikasikan tasybih kepada Allah SWT. Demikian juga Asya’irah mengkafirkan Muktazilah yang mengingkari ru’yatullah. Sehingga memaksa Gazhali untuk meberikan solusi dalam mengobati virus ini. Dalam terapinya, Gazhali berusaha meluruskan paradigma tashdiq yaitu pembenaran dan pengakuan terhadap apa yang dikatakan oleh Rasullah SAW  tentang keberadaannya (wujud). Namun wujud ini pun memiliki lima tingkatan yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dzati,  yaitu wujud yang benar-benar ada yang disaksikan oleh panca indra dan akal, serta terealisasikan dalam dunia empirik. Seperti keberadaan langit dan bumi, hewan dan tumbuhan. Wujud dzati ini tidak lagi memerlukan ta’wil seperti apa yang di beritakan oleh Rasul tentang keberadaan Arasy, Kursi, dan langit yang tuhjuh. Hal ini tkak lagi memerlukan ta’wil lagi akan tetapi dia akan dikembalikan kezhahirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hissi, yaitu wujud yang tergambar dalam pandangan mata kita namun hal itu tidak ada. Sehingga keberadaan sesuatu itu berada dalam pandangan mata. Seperti apa yang disaksikan oleh orang yang terbuai mimpi yang tak terwujudkan di dunia nyata. Demikian juga ketika setitik api yang diambil kemudian digerakkan dengan gerak vertikal maka akan muncul dimata kita sebuah garis vertikal namun, sebenarnya garis itu tak ada. Dalam tataran aplikasi ta’wilnya Gazhali memaparkan hadist Nabi yang berbunyi ; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;yu’ti bil maut yaumal qiyamah fi shurati kabsyin amlah fa yuzbah bain jannah wa nar.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Orang yang mengetahui bahwa kematian adalah aradh atau bukan aradh maka mengetahui bahwa mengubah aradh ke jism adalah merupakan sesuatu yang mustahil. Sehingga Gazhali mengatakan bahwa para manusia yang menyaksikan hal itu dan meyakini bahwa yang disembelih itu adalah kematian karena hal itu disaksikan oleh pandangan mereka. Sehingga mereka yakin bahwa kematian tidak akan menjemput mereka lagi. Sehingga akan menambah siksaan bagi penduduk neraka, serta menambah kesenangan bagi penghuni surga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;•  Khiyali, yaitu bentuk serta karaktersitik sesuatu yang diindra apabila telah lenyap dari panca indra itu. Seperti rumah kita, yang dapat dideskripsikan dimana pun dan kapan pun kita berada. Gazhali memberikan contoh hadist Nabi; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kaanni anzhuru ila Yunus bin Mata alaihi ‘abaatani qathwaniyyatani yulabba wa tujibuhul jibal wa Allahu Ta'ala yaqulu lahu labbaika ya Yunus.&lt;/span&gt; Secara literalis hadist ini secara jelas mengatakn bahwa Nabi melihat Yunus dengan mata kepala beliau. Namun untuk memalingkan hadist ini dari pemahaman itu, kata kaanni tidak menggambarkan haqiqat melihat akan tetapi serupa dengan melihat. Tujuan dari hadist ini menurut Gazhali adalah untuk memahamkan, karena mustahil musyahadah dengan hal-hal yang fantatis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Aqli, yaitu subtansi dan haqiqat dari sesuatu itu. Karena menurut Gazhali- setiap sesuatu itu memiliki subtansi dan formalnya, dalam wujud aqlinya ini yang di tekankan adalah nilai subtansiaisnya bukan formalitasnya. Sebagai contoh Gazhali memaparkan kembali hadist Rasulullah; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"inna Alah khammara thinah Adam biyadihi arbaina shabahan".&lt;/span&gt; Orang yang mampu memiliki burhan akan kemustahilan tangan Tuhan yang berbetuk jasmani, maka akan memalingkan makna dari tangan itu kepada makna yang lebih substansialis. Yaitu kepada makna kekuasaan dan pengatur. Allah lah yang mengatur serta memberikan bentuk kepada Adam dengan perantara malaikatNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Syubhi, yaitu bukan sesuatu itu, baik format atau substansinya, sesuatu itu tidak real, tidak pula dalam panca indra atau bahkan dalam fantasi, dia juga tidak ada dalam akal. Akan tetapi yang ada itu adalah sesuatu yang lain yang menyerupainya dalam karakteristiknya, serta sifatnya. Seperti murka, rindu, senang, sabar dan lainnya yang disandarkan kepada Allah SWT  karena –menurut Gazhali- marah, misalnya adalah sebuah keadaan dimana tekanan darah yang naik akibat hal yang menyakitkan. Ini tentu akan berlawan dengan sifat Allah Yang Agung, sehingga untuk menyeleraskan nash tersebut diperlukan ta’wil yaitu dengan memaknainya dengan keinginan untuk menghukum. Keinginan (menghukum) itu pun belum mampu untuk setara dengan kemarahan dalam nilai substansialnya. Akan tetapi hal itu dapat di komparsikan dengan karakteristik dari marah itu serta dampak yang ditimbulkan dari marah itu yaitu ilam (menyakiti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, Gazhali membuat sebuah dikotomi ilmiyah dalam dunia akademis Islam. Karena tak dapat di pungkiri bahwa dalam tatanan sosial, tentunya akan ada golongan yang tekstualis dan logis. Serupa dengan yang dilakukan oleh Ibnu Rusd dalam dikotomi filosofisnya yaitu; awam, yang mewakili masyarakat mayoritas, jadaly yang tercermin pada para teolog, khawash yang ditujukan untuk para nabi dan para filosof.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Primordialisme ini merupakan sebuah gejala masyarakat yang mempunyai sebuah peradaban. Hal inilah yang diamini oleh DR.Bahy dalam Al-Janibul Ilahy min  Tafkir Islamy. Sehingga tak perlu adalagi yang di namakan pengaruh Yahudi Aqliyyun, atau Neo-Platonisme dalam pembentukan karaktersitik Mu’tazilah dll. Ini semua refleksi murni dari gejala-gejala sosial yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal inilah yang dilupakan oleh tiap firaq Islam dalam pandangan Gazhali, sehingga ceroboh dalam mengkafiri sesama muslim. Gazhali pun menegaskan bahwa siapa yang mengimani tentang keberadan (wujud) yang lima bentuk ini dari apa yang dikabarkan oleh Rasulullah, maka bukanlah sebagai pendusta secara mutlak. Yang mendustai ajaran Rasulullah adalah yang menafikan segala jenis wujud yang diatas dengan dalih untuk kemaslahatan syariat, ataukah Rasullah berdusta dengan tujuan memberikan pehaman yang mampu dicerna oleh orang awam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sedikit yang terbetik dalam benak kita, apakah Gazhali sudah benar ketika mengkafirkan para filosof seperti Ibnu Sina yang mengatakan bahwa kebangkitan nanti hanyalah dengan menggunakan rohani saja tanpa jasmani dan apa yang dikatakan Rasulullah hanya merupakan analogi untuk orang awam supaya mereka lebih faham? Bagaimana Gazhali semisal Farraby yang mengatakan bahwa alam qadim? Serta filosof lainnya yang mempunyai pendapat yang cukup bersebrangan dengan Islam? Bukankah mereka juga adalah orang yang mengimani Rasulullah, sehingga mereka tetap mukmin? Nanti kita lanjutkan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6453060376866544352-3353027138197710790?l=mooqzmoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/feeds/3353027138197710790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/ketika-disebutkan-sederetan-nama-ulama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3353027138197710790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6453060376866544352/posts/default/3353027138197710790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mooqzmoo.blogspot.com/2008/10/ketika-disebutkan-sederetan-nama-ulama.html' title='Gazhali dan Kafir (part 1)'/><author><name>Awal Muqsith</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08584821229589713641</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mfd6FhgIsxM/SpL0rHbVBdI/AAAAAAAAABI/ItFq8f27AzY/S220/gelo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
